November selalu membawa ingatan.
Di Surabaya, bulan ini bukan sekadar pergantian kalender, karena menghadirkan kembali suara dari masa lalu, dari jalan-jalan tua, dinding bangunan bersejarah, dan makam mereka yang pernah memilih mempertahankan kemerdekaan dengan nyawa.
Delapan puluh satu tahun telah berlalu sejak November 1945.
Surabaya kini berubah. Gedung menjulang, jalan dipadati kendaraan, dan kehidupan bergerak semakin cepat.
Tetapi di tengah kemajuan itu, sebuah pertanyaan masih tertinggal, untuk siapa kota ini dibangun?
Pada 9 November 1945, pasukan Inggris mengeluarkan ultimatum, rakyat Surabaya diperintahkan menyerahkan senjata sebelum pukul enam pagi keesokan harinya.
Rakyat Surabaya ketika itu menolak, hingga pertempuran pun pecah, nyawa melayang, bangunan hancur, dan kemerdekaan yang baru diproklamasikan harus dipertahankan dengan pengorbanan besar.
Namun, sejarah sering terlalu cepat mengubah penderitaan menjadi kebanggaan.
Kita mengenang keberanian pejuang, tetapi jarang membayangkan kecemasan seorang ibu menunggu anaknya pulang.
Kita menghormati mereka yang gugur, tetapi tidak selalu mengingat keluarga yang harus melanjutkan hidup setelah kehilangan.
Padahal, perang bukan semata cerita kemenangan, peristiwa itu juga bagian kisah manusia yang kehilangan hak paling sederhana, hidup tanpa ketakutan.
Para pejuang Surabaya bukan hanya tentara, ada pemuda kampung, pekerja, pedagang, dan warga biasa yang mengambil bagian dalam perlawanan.
Mereka mungkin tidak pernah membayangkan namanya tercatat dalam sejarah, mereka hanya memahami bahwa kemerdekaan tidak boleh dirampas kembali.
Kini zaman telah berubah.
Tak ada lagi ultimatum Inggris, tak ada pertempuran yang mengubah jalan kota menjadi medan perang, namun perjuangan tidak serta-merta berakhir.
Di Kota Pahlawan, masih ada keluarga yang harus menghitung uang sebelum membeli kebutuhan pokok, ada pekerja yang mencemaskan penghasilan dan anak-anak yang membutuhkan kesempatan pendidikan lebih baik.
Tentu, kesulitan hari ini tidak dapat disamakan dengan penderitaan perang, tetapi keduanya mengingatkan pada satu pertanyaan, untuk siapa kemerdekaan diperjuangkan?
Kemerdekaan bukan sekadar berakhirnya kekuasaan asing, namun juga janji tentang martabat, perlindungan, dan kesempatan hidup yang layak.
Setiap November, upacara digelar, bendera dikibarkan, karangan bunga diletakkan, pidato tentang keberanian dan pengorbanan kembali terdengar, semuanya penting.
Tetapi apa yang terjadi setelah upacara selesai?
Apakah keberanian masih hadir ketika pejabat harus mengakui kegagalan?
Apakah pengorbanan masih berarti ketika kepentingan pribadi berhadapan dengan kebutuhan masyarakat?
Kepahlawanan hari ini mungkin tidak lagi membutuhkan senjata, tetapi memerlukan kejujuran, keberanian menolak penyalahgunaan kekuasaan, dan kesediaan mendengarkan suara rakyat.
Surabaya boleh membangun taman, mempercantik jalan, dan mendirikan gedung megah, namun, kemajuan tidak cukup diukur dari keindahan kota.
Surabaya harus terlihat dari kesempatan kerja, pendidikan, keamanan, dan pelayanan publik yang dirasakan warganya.
Hotel Yamato dan Jembatan Merah menyimpan jejak perjuangan, tetapi bangunan bersejarah hanya menjaga tanda, manusialah yang menentukan maknanya.
Menjelang 10 November 2026, kita tidak membutuhkan perang baru untuk membuktikan keberanian.
Kita membutuhkan tanggung jawab untuk menjaga hasil perjuangan.
Para pejuang 1945 tidak pernah melihat Surabaya hari ini, mereka hanya percaya negeri ini layak dipertahankan.
Kini negeri itu berada di tangan kita, dan pertanyaannya bukan lagi seberapa berani mereka dahulu, melainkan apakah kita cukup berani menjaga apa yang telah mereka perjuangkan.
Sebab, monumen bisa selesai dibangun, tetapi ingatan dan tanggung jawab tidak pernah selesai.
Oleh: Aris Setyoadji, Redpel Analisa Publik.id








