Kata Redaksi

Jogo Omah Kapolda Jatim Dekananto, Jangan Sampai Rumah Sendiri Luput dari Pengawasan

10564
×

Jogo Omah Kapolda Jatim Dekananto, Jangan Sampai Rumah Sendiri Luput dari Pengawasan

Sebarkan artikel ini

Irjen Pol Dekananto Eko Purwono membawa semangat Jogo Omah dalam kepemimpinannya sebagai Kapolda Jawa Timur, sebuah ajakan menjaga keamanan rumah bersama yang patut diapresiasi, tetapi sekaligus menuntut keberanian membenahi persoalan di dalam tubuh kepolisian sendiri.

Sebab, menjaga rumah bukan hanya memastikan pagar terkunci dan halaman terlihat bersih, melainkan juga memeriksa apakah fondasinya kokoh dan penghuninya menjalankan tanggung jawab dengan benar.

Slogan Jogo Omah terdengar sederhana, dekat dengan masyarakat, dan memiliki pesan kebersamaan yang kuat.

Namun, masyarakat tidak membutuhkan slogan baru apabila persoalan lama masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan.

Dekananto memiliki kesempatan membuktikan bahwa kepemimpinannya bukan sekadar menghadirkan pendekatan humanis, melainkan juga keberanian melakukan pembenahan nyata.

Pekerjaan rumah pertama adalah memastikan seluruh jajaran kepolisian memberikan pelayanan yang cepat, adil, transparan, dan tidak berbelit-belit.

Masyarakat yang melapor kehilangan, menjadi korban kejahatan, atau mencari keadilan tidak boleh dibuat merasa sedang meminta pertolongan yang bergantung pada kemurahan hati aparat.

Mereka datang membawa hak yang wajib dilayani negara.

Baca Juga:  Saluran Tertutup Bangli 20 Tahun Dibongkar

Persoalan penanganan perkara yang berlarut-larut juga layak mendapat perhatian serius.

Memang tidak semua perkara dapat diselesaikan dalam waktu singkat, karena penyidikan membutuhkan pembuktian dan prosedur hukum.

Namun, lamanya proses harus disertai penjelasan yang masuk akal, perkembangan yang terukur, serta komunikasi yang terbuka kepada pihak yang berhak.

Jangan sampai masyarakat lebih cepat memperoleh nomor laporan, daripada kepastian mengenai nasib perkaranya.

Di sinilah kapolda perlu memastikan pengawasan berjalan hingga tingkat penyidik, bukan berhenti pada laporan administratif yang terlihat rapi di meja pimpinan.

Pekerjaan rumah berikutnya menyangkut integritas anggota.

Pesan agar polisi mengambil hati masyarakat, bukan mengambil harta masyarakat, merupakan prinsip yang tepat dan harus diterjemahkan menjadi tindakan.

Pungutan liar, pemerasan, penyalahgunaan kewenangan, dan perilaku tidak profesional harus dicegah melalui pengawasan yang konsisten serta ditindak apabila terbukti.

Tidak adil apabila kerja keras ribuan polisi yang mengabdi dengan baik harus kehilangan penghargaan publik akibat perilaku segelintir oknum.

Karena itu, pembenahan internal bukan serangan terhadap institusi, melainkan bentuk perlindungan terhadap kehormatan kepolisian sendiri.

Baca Juga:  Rini: Dengarkan Anak Sebelum Terlambat

Di luar persoalan internal, Jawa Timur juga menghadapi tantangan keamanan yang membutuhkan kerja berkelanjutan.

Peredaran narkoba, perjudian ilegal, kekerasan jalanan, tawuran, dan ancaman terhadap keselamatan pelajar tidak cukup dijawab melalui operasi sesaat atau kegiatan seremonial.

Penindakan harus menyentuh jaringan pelaku, sementara pencegahan perlu melibatkan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah.

Program Polisi Jogo Sekolah dapat menjadi bagian penting dari upaya tersebut, asalkan keberhasilannya diukur melalui perlindungan nyata terhadap pelajar, bukan sekadar jumlah kunjungan.

Begitu pula pendekatan humanis kepada pengemudi ojek daring dan kelompok masyarakat lainnya.

Kedekatan polisi dengan warga patut didukung, tetapi kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui senyum, dialog, dan pembagian bantuan.

Kepercayaan lahir ketika warga merasakan pelayanan yang baik, laporan ditangani sungguh-sungguh, dan hukum diterapkan tanpa membedakan kedudukan seseorang.

Dekananto tentu tidak mungkin menyelesaikan seluruh persoalan Jawa Timur seorang diri.

Namun, sebagai pemegang komando tertinggi kepolisian daerah, ia memiliki kewenangan menentukan arah, menegakkan disiplin, dan mengevaluasi kinerja jajarannya.

Baca Juga:  Kecelakaan Naik 23 Persen, Polda Jatim Mulai Operasi Patuh Semeru 2026

Masyarakat tidak menuntut keajaiban dalam semalam, tetapi berhak melihat perubahan yang nyata dan dapat diukur.

Karena itu, Jogo Omah perlu dibuktikan melalui penanganan pengaduan, kepastian hukum, pengawasan anggota, dan penurunan gangguan keamanan.

Kritik publik pun semestinya diterima sebagai peringatan untuk memperbaiki pelayanan, bukan dianggap sebagai gangguan terhadap kewibawaan institusi.

Pada akhirnya, keberhasilan Jogo Omah bukan ditentukan oleh seberapa sering slogan itu diucapkan, melainkan seberapa besar masyarakat merasakan manfaatnya.

Irjen Pol Dekananto Eko Purwono sudah mengajak masyarakat menjaga rumah besar Jawa Timur.

Kini tantangannya adalah memastikan rumah kepolisian sendiri tertata, pintu keadilan terbuka, dan tidak ada persoalan yang sengaja disembunyikan di balik pagar kewibawaan.

Sebab, rumah yang benar-benar aman bukan hanya rumah yang dijaga dari ancaman luar, melainkan juga rumah yang berani membersihkan persoalan dari dalam.

Penulis: Aris Setyoadji
Redaktur Pelaksana Media Analisa Publik

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.