Pemerintahan

Rini: Dengarkan Anak Sebelum Terlambat

9
×

Rini: Dengarkan Anak Sebelum Terlambat

Sebarkan artikel ini
Rini: Dengarkan Anak Sebelum Terlambat
Rini: Dengarkan Anak Sebelum Terlambat

SURABAYA, ANALISAPUBLIK.ID – Orang tua bisa kehilangan informasi penting mengenai persoalan yang dihadapi anak ketika komunikasi di rumah tidak terbangun dengan baik. Karena itu, orang tua diminta tidak bereaksi berlebihan saat anak mulai terbuka dan menceritakan masalah pribadinya.

Pesan tersebut disampaikan Bunda PAUD Kota Surabaya Rini Indriyani dalam Roadshow Kelas Parenting Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) di Balai RW 3 Kelurahan Kapas Madya Baru, Kamis (3/9/2026).

Menurut Rini, respons orang tua saat menerima cerita anak dapat menentukan apakah anak akan kembali terbuka atau justru memilih menyimpan masalahnya sendiri.

“Saya tahu dan yakin, ketika saya salah bereaksi terhadap apa yang dia katakan, bisa dipastikan dia tidak akan cerita apa-apa lagi. Lebih bahaya ketika mereka takut cerita sama kita, kita enggak akan tahu dia lagi ada masalah sama siapa,” kata Rini.

Karena itu, komunikasi terbuka tidak bisa dibangun secara mendadak ketika anak mulai beranjak remaja. Kebiasaan berbicara dan mendengarkan perlu ditanamkan sejak anak masih balita.

Baca Juga:  25 Mitra Industri Siap Wadahi Prakerin SMK Muhammadiyah 2 Surabaya

“Anak sekarang kalau kita ngomong pasti menjawab, dan kita harus punya jawaban yang menurut mereka masuk akal. Untuk bisa menjadi teman yang baik dan tempat bercerita, kita harus bangun komunikasi dari awal, mulai dari balita,” ujarnya.

Rini menilai anak-anak saat ini tumbuh dengan karakter yang semakin kritis. Orang tua tidak cukup hanya memberikan aturan, tetapi juga perlu menjelaskan alasan di balik keputusan agar anak merasa didengar dan dihargai.

Roadshow tersebut mengusung tema “Anak Siap, Orang Tua Sigap: Pengasuhan Positif dan Persiapan 1 Tahun Prasekolah Dalam Wajib Belajar 13 Tahun”.

Selain komunikasi, Rini juga menekankan pentingnya membangun kepercayaan diri anak. Orang tua diminta menghindari kebiasaan membandingkan anak dengan orang lain.

Sebaliknya, setiap proses dan pencapaian anak perlu diapresiasi, meski dalam bentuk sederhana.

“Hadiah atau apresiasi tidak perlu berupa barang, Bunda. Dengan ciuman, pelukan, kalimat positif, atau memasakkan masakan kesukaan anak, itu sudah menjadi kekuatan yang luar biasa,” katanya.

Menurut Rini, penghargaan sederhana dapat membantu anak merasa diterima sekaligus memperkuat hubungan emosional dalam keluarga.

Baca Juga:  Surabaya Dorong Diversifikasi Sumber Protein Keluarga

Dalam kegiatan tersebut, Pemkot Surabaya juga menemukan masih ada anak usia 5–6 tahun yang belum mengikuti pendidikan prasekolah.

Pemkot menyatakan siap memberikan bantuan beasiswa serta mengkaji kebutuhan pembangunan sekolah baru apabila kapasitas PAUD di wilayah tersebut belum mencukupi.(Yudhi Saputra)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.