Surabaya, Analisapublik.id – Saya pernah berpikir hidup saya telah selesai ketika kedua tangan diborgol polisi, namun, perjalanan di tempat rehabilitasi mengajarkan saya bahwa keterpurukan bukan berarti tidak bisa bangkit dan masa lalu yang kelam tidak harus menjadi akhir dari segalanya.
Panggilan keseharian saya Aris, Saya tinggal di Surabaya Timur, pada awal Juni 2026, hidup saya berubah ketika tertangkap polisi di rumah seseorang yang dikenal sebagai pengedar narkoba jenis sabu, rumah itu hanya berbeda satu gang dari tempat tinggal saya.
Dengan kedua tangan diborgol, saya dibawa ke kantor polisi untuk menjalani proses hukum, pikiran saya kalut.
Setelah menjalani penyidikan dan ditempatkan di sel sementara, bayangan tentang masa depan terus menghantui, karena saya harus berada di titik terendah.
Saya membayangkan kemungkinan menjalani hukuman bertahun-tahun di penjara, saat itu, saya merasa kehidupan saya telah berakhir.
Enam hari mendekam di sel menjadi pengalaman yang berat, saya tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Ketakutan, penyesalan, dan ketidakpastian bercampur menjadi satu, Namun setelah enam hari, penyidik membawa saya ke Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Surabaya untuk menjalani asesmen.
Atas kehendak Allah SWT, saya akhirnya menjalani rehabilitasi, dua teman saya yang turut diamankan juga menjalani rehabilitasi, tetapi kami ditempatkan di lokasi berbeda.
Mereka berada di Rumah Kita, sedangkan saya menjalani rehabilitasi di Rumah Merah Putih, kawasan Rungkut, Surabaya.
Awalnya, saya tidak menerima keadaan tersebut, saya merasa baik-baik saja dan menganggap diri saya tidak pantas berada di tempat rehabilitasi.
Saya lebih sibuk memikirkan nasib yang menimpa diri sendiri daripada memahami persoalan yang sebenarnya harus saya hadapi.
Di tempat rehabilitasi yang memiliki lima kamar dengan penghuni lebih dari 40 orang itu, saya mulai mengikuti program dengan bimbingan yang akrab dengan panggilan Mas Hakim, Mas Abdilah yang akrab dipanggil Mas Bro, serta Bang Gunawan.
Mas Bro dan Bang Gunawan merupakan sesama pecandu yang telah berupaya pulih selama lebih dari tujuh tahun.
Dari mereka, saya belajar mengenali diri sendiri, memahami kerugian akibat narkoba, pentingnya keluarga, menghadapi stigma masyarakat, serta pentingnya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Perlahan, pikiran saya terbuka, saya mulai menyadari bahwa mengakui persoalan bukan berarti menyerah, melainkan langkah awal untuk memperbaiki diri.
Saya juga mendapat pemahaman bahwa kehidupan setelah keluar dari rehabilitasi belum tentu berjalan sesuai harapan.
Saya harus siap menghadapi lingkungan keluarga, masyarakat, dan dunia kerja, kepercayaan orang lain mungkin tidak langsung kembali, sehingga perubahan harus dibuktikan melalui sikap dan tindakan, bukan sekadar janji.
Sekitar dua minggu menjalani rehabilitasi, di tempat itu saya mendapat tugas di departemen keamanan ruangan.
Saya dipercaya membantu menjaga kedisiplinan di kamar yang di tempati sekitar 12 family, sebutan bagi sesama penghuni yang menjalani program rahabilitasi.
Tugas itu mencakup kedisiplinan mengikuti sesi program, menjalankan salat lima waktu berjemaah, serta mematuhi jadwal makan dan istirahat.
Saya yang sebelumnya merasa hidup telah selesai justru mendapat tanggung jawab untuk membantu menjaga keteraturan kehidupan bersama.
Saya makan tiga kali sehari dengan makanan yang dimasak oleh family dari departemen dapur, dan dari rutinitas sederhana itu di tenpat rehab ini, saya belajar tentang tanggung jawab, kedisiplinan, dan pentingnya menghargai orang lain.
Saya juga belajar berbagi makanan, rokok, maupun camilan dengan sesama penghuni, Ketika ada family yang terlihat putus asa, kami berusaha saling memberikan motivasi.
Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita dan persoalan masing-masing, di balik kesalahan yang pernah dilakukan, ada manusia yang sedang berusaha memperbaiki hidupnya.
Kebersamaan itu mengubah cara saya memandang orang lain, saya tidak ingin seseorang hanya dinilai dari masa lalunya.
Di tempat itu saya pun berharap masyarakat kelak melihat saya bukan semata-mata dari kesalahan yang pernah terjadi, tetapi juga dari kesungguhan saya menjalani proses perubahan.
Saya menyadari perjalanan pemulihan tidak berhenti ketika seseorang keluar dari tempat rehabilitasi, ada tantangan untuk membangun kembali kepercayaan keluarga, mendapatkan penerimaan lingkungan, dan menata kehidupan.
Karena itu, saya ingin menjadikan rehabilitasi sebagai fondasi untuk menjalani hidup yang lebih baik, bukan sekadar tempat persinggahan.
Melalui kisah ini, saya ingin menyampaikan pesan kepada siapa pun yang masih terjebak dalam lingkaran narkoba.
Jangan menunggu sampai keadaan semakin buruk untuk mencari pertolongan, mengakui bahwa kita memiliki masalah bukanlah kehinaan.
Meminta bantuan bukan berarti lemah, dan menjalani rehabilitasi bukan alasan untuk kehilangan harapan.
Saya menulis pengalaman ini bukan untuk membenarkan kesalahan, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap orang perlu berani menghadapi kenyataan dan mencari jalan untuk memperbaiki diri.
Saya tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi saya masih memiliki kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya.
Perjalanan saya belum selesai, saya masih harus belajar, memperbaiki diri, dan membuktikan perubahan melalui tindakan nyata.
Namun, kini saya memahami bahwa terjatuh bukan berarti harus terus berada di bawah.
Saya berharap kisah ini dapat mengetuk hati mereka yang masih terjerat narkoba agar berani mencari pertolongan.
Jika pengalaman pahit saya bisa membuat satu orang saja memutuskan untuk keluar dari lingkaran narkoba dan memulai pemulihan, saya berharap perjalanan ini tidak sia-sia.
Sebab, masa lalu boleh menjadi pelajaran, tetapi masa depan masih layak diperjuangkan.












