HeadlinePemerintahan

Afrika Selatan Tunjuk Kota Surabaya sebagai Kiblat Pengelolaan sampah, 6 Poin Penting Ini Jadi Pondasi Kerja Sama Kedua Negara

184
×

Afrika Selatan Tunjuk Kota Surabaya sebagai Kiblat Pengelolaan sampah, 6 Poin Penting Ini Jadi Pondasi Kerja Sama Kedua Negara

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya memperkuat jejaring internasionalnya dengan menerima kunjungan delegasi Pemerintah Kota Mangaung, Afrika Selatan, pada Rabu (12/11/2025). Delegasi yang dipimpin langsung oleh Wali Kota Gregory Nthatisi ini disambut oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Surabaya, Lilik Arijanto, di Ruang Sidang Sekda.

Kunjungan yang diinisiasi oleh Konsulat Jenderal Indonesia di Cape Town ini bertujuan utama memperkuat hubungan kerja sama antarkota.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian, dan Pengembangan (Bapedalitbang) Kota Surabaya, Irvan Wahyudrajat, mengungkapkan bahwa agenda kunci pertemuan adalah Penandatanganan Minutes of Meeting (MoM) yang mencakup enam bidang kerja sama strategis.

“Fokus utama dari kerja sama ini adalah menciptakan kota yang berkelanjutan, bersih, dan ramah lingkungan,” kata Irvan.

Enam bidang kerja sama prioritas tersebut meliputi:

  • Ekonomi, perdagangan, dan investasi.
  • Pengelolaan sampah.
  • Pendidikan, kebudayaan, dan kepemudaan.
  • Pengembangan infrastruktur.
  • Informasi dan teknologi.
  • Energi berkelanjutan.

Irvan Wahyudrajat menjelaskan, Pemkot Mangaung secara khusus tertarik mempelajari sistem pengelolaan sampah di Surabaya yang dinilai berhasil. Surabaya, yang memproduksi sekitar 1.800 ton sampah per hari, telah menerapkan sistem komprehensif.

Baca Juga:  Cetak Generasi Emas 2045: 800 Orang Tua di Surabaya Diwisuda Setelah 'Sekolah Parenting' 14 Kali Pertemuan

“Saat ini, kami memproses sampah tersebut dengan teknologi waste-to-energy yang mampu menghasilkan kurang lebih 11 megawatt listrik. Selain itu, sekitar 200 ton sampah per hari dikelola oleh warga di tingkat komunitas melalui bank sampah,” jelas Irvan.

Program pengolahan sampah berbasis komunitas ini memungkinkan warga memilah sampah bernilai ekonomis. Sementara sampah organik diolah menjadi pupuk atau untuk budidaya maggot, yang kemudian dimanfaatkan oleh peternak ayam dan ikan.

“Untuk sisa 600 ton sampah yang belum terkelola, Pemkot Surabaya berencana menuntaskannya melalui pembangunan empat fasilitas Refuse-Derived Fuel (RDF) yang ditargetkan selesai dalam dua tahun ke depan,” terang Irvan.

Wali Kota Mangaung, Gregory Nthatisi, mengungkapkan alasan pihaknya memilih Surabaya sebagai mitra kerja sama. Ia menyebut Indonesia dan Afrika Selatan memiliki sejarah kolonisasi yang sama.

“Kami memilih Indonesia karena Afrika Selatan memiliki sejarah kolonisasi yang sama. Kami melihat bagaimana Surabaya memiliki struktur kota yang sangat baik dan terorganisir,” kata Wali Kota Gregory.

Mangaung, yang berpopulasi sekitar 850.000 jiwa dan mencakup Bloemfontein (ibu kota yudisial Afrika Selatan), adalah salah satu kota metropolitan utama di Provinsi Free State. Gregory menambahkan, sebagai negara multikultural, Mangaung terinspirasi oleh berbagai kegiatan dan sistem yang diterapkan di Kota Pahlawan.

Baca Juga:  Sambut Tim Juri Anugerah DPN , Wali Kota Surabaya Komitmen Pendidikan 20% APBD dan Lawan Stunting

Selama kunjungannya hingga 13 November 2025, delegasi Mangaung dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah fasilitas penting, antara lain, Taman Harmoni Keputih, Pusat Daur Ulang (PDU) Jambangan, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo, dan Rumah Batik Suramadu.

“Kami berharap melalui kunjungan ini, terjalin kerja sama yang erat dan saling menguntungkan, khususnya dalam menciptakan praktik terbaik untuk pembangunan kota yang berkelanjutan,” pungkas Wali Kota Gregory.

(Res)