HeadlinePemerintahanSurabaya

Perkuat Fungsi Kebun Raya Mangrove, Pemkot Surabaya Bangun Ekosistem Riset

8
×

Perkuat Fungsi Kebun Raya Mangrove, Pemkot Surabaya Bangun Ekosistem Riset

Sebarkan artikel ini
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji
Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji

SURABAYA, analisapublik.id — Pemerintah Kota Surabaya memperkuat fungsi Kebun Raya Mangrove (KRM) Gunung Anyar sebagai ruang konservasi sekaligus laboratorium hidup yang menghubungkan penelitian, pendidikan, teknologi, industri, dan kebijakan publik.

Upaya tersebut ditandai melalui Festival Riset dan Inovasi yang menjadi agenda utama peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya, Sabtu (25/7/2026).

Festival itu tidak sekadar menjadi ajang pameran hasil penelitian. Pemkot Surabaya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) berupaya mempertemukan perguruan tinggi, sekolah, komunitas lingkungan, pelaku industri, dan masyarakat agar hasil riset dapat dikenalkan, diuji, serta dikembangkan menjadi solusi yang lebih aplikatif.

Kepala BRIDA Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, mengatakan kegiatan tersebut menjadi wadah untuk mendekatkan hasil riset dan inovasi kepada masyarakat.

“Festival ini menjadi wadah mempertemukan hasil-hasil riset dan inovasi dengan masyarakat. Besok rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Mangrove Eco Run 3.0,” ujar Agus.

Festival tersebut melibatkan lebih dari 70 perguruan tinggi, sekolah, serta komunitas lingkungan, termasuk Tunas Hijau. Para peserta memamerkan berbagai hasil inovasi dan gagasan yang berkaitan dengan lingkungan, pendidikan, teknologi, serta pemberdayaan masyarakat.

Selain pameran, BRIDA menghadirkan forum diskusi yang mempertemukan kepala lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Surabaya dengan kalangan industri.

Menurut Agus, keterlibatan dunia usaha dibutuhkan agar riset tidak berhenti pada laporan akademik, tetapi memiliki peluang untuk diuji, dikembangkan, dan dimanfaatkan sesuai kebutuhan masyarakat.

“Kepala LPPM dari perguruan tinggi negeri dan swasta kita pertemukan dengan teman-teman industriawan, ada dari PT SIER. Kita juga mengundang beberapa pakar dari kampus,” jelasnya.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemkot Surabaya membangun rantai kolaborasi mulai dari penciptaan gagasan, penelitian, pengembangan teknologi, pengujian, hingga kemungkinan penerapannya dalam pelayanan publik dan pengelolaan lingkungan.

Enam Inovasi Berbasis Riset Diluncurkan

Baca Juga:  Sisir Surabaya Barat, Satgas Anti-Premanisme Masih Temukan Jukir Liar

Dalam festival itu, Pemkot Surabaya turut meluncurkan enam inovasi berbasis riset, yakni Mangrove Throne, teknologi energi baru terbarukan berupa Pirolisis dan Terangin, VR World Mangrove, Brida Bright, serta Brida Step.

Sejumlah inovasi dirancang sebagai media pembelajaran interaktif bagi anak-anak dan pengunjung Kebun Raya Mangrove.

Mangrove Throne, misalnya, merupakan permainan berbasis lokasi atau geolocation yang mengajak anak-anak menjelajahi kawasan mangrove sambil mempelajari ekosistem pesisir melalui berbagai aktivitas di luar ruangan.

“Jadi, adik-adik daripada di rumah, kita ajak bermain. Plus, dia harus mengisi dan belajar banyak hal terkait dengan mangrove, sehingga dia juga belajar,” terang Agus.

Melalui pendekatan tersebut, edukasi lingkungan tidak hanya diberikan dalam bentuk penjelasan satu arah. Pengunjung diajak berinteraksi langsung dengan kawasan konservasi sehingga proses belajar menjadi lebih menarik dan kontekstual.

BRIDA juga memperkenalkan teknologi energi baru terbarukan berupa mesin pirolisis, generator listrik tenaga angin, dan panel surya.

Agus menegaskan, teknologi tersebut belum dikembangkan untuk kebutuhan produksi energi berskala besar. Perangkat yang dihadirkan lebih dahulu difungsikan sebagai sarana edukasi agar pelajar dan masyarakat memahami prinsip dasar energi terbarukan.

“Semuanya itu konteksnya bukan untuk produksi, tetapi untuk sarana edukasi. Sehingga anak-anak kita kalau ke mangrove juga belajar tentang mangrove dan energi baru terbarukan,” tuturnya.

Kebun Raya sebagai Laboratorium Hidup

Staf Ahli Wali Kota Surabaya Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, drg. Bisukma Kurniawati, mengatakan Kebun Raya Mangrove terus dikembangkan agar tidak hanya berfungsi sebagai kawasan konservasi.

Kawasan tersebut diarahkan menjadi laboratorium hidup yang mempertemukan penelitian, pendidikan, inovasi, kebijakan publik, dan kesejahteraan masyarakat.

“Di sinilah kita menghubungkan konservasi dengan penelitian, menghubungkan penelitian dengan pendidikan, dan pendidikan dengan inovasi. Inovasi dengan kebijakan publik serta kebijakan publik dengan kesejahteraan masyarakat,” kata Bisukma.

Baca Juga:  Tahun Ini Pemkot Surabaya Lanjutkan Pelebaran Jalan Raya Menganti

Melalui pola tersebut, hasil penelitian diharapkan tidak berhenti sebagai karya akademik. Pemkot Surabaya ingin agar riset dapat diterjemahkan menjadi teknologi, program, maupun rekomendasi kebijakan yang menjawab persoalan perkotaan.

Bisukma juga mengapresiasi keterlibatan pelajar, mahasiswa, akademisi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan para pemangku kepentingan yang menampilkan berbagai inovasi ramah lingkungan.

“Hari ini beberapa inovasi juga kita luncurkan sebagai penguat tekad bahwa langkah riset yang dilanjutkan inovasi adalah keniscayaan agar denyut nadi kemajuan tetap bersama dengan kita,” ujarnya.

Ia berharap, pengembangan inovasi tetap berjalan seimbang dengan upaya pelestarian lingkungan.

“Mari kita jadikan Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai simbol bahwa Indonesia memilih jalan keseimbangan. Pembangunan di berbagai bidang, termasuk industri, dan pelestarian lingkungan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua sisi dari masa depan yang sama,” harapnya.

Gandeng Industri dan Lembaga Pemerintah

Peran Pemkot Surabaya dalam memperluas ekosistem kolaborasi juga diwujudkan melalui penandatanganan kesepakatan bersama dengan PT Surabaya Industrial Estate Rungkut (SIER) dan BMKG Kelas I Juanda Sidoarjo.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan memperkuat pengelolaan ekosistem mangrove.

Keterlibatan sektor industri dan lembaga pemerintah dinilai penting karena pengembangan kawasan membutuhkan dukungan penelitian, data, teknologi, pembiayaan, serta sumber daya manusia dari berbagai pihak.

Kolaborasi dengan BMKG juga membuka ruang pemanfaatan informasi cuaca dan iklim dalam mendukung penelitian maupun pengelolaan kawasan pesisir. Sementara keterlibatan PT SIER dapat memperkuat hubungan antara pembangunan industri dan tanggung jawab pelestarian lingkungan.

BRIN Apresiasi Perkembangan KRM Surabaya

Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional, R. Hendrian, mengapresiasi perkembangan Kebun Raya Mangrove Surabaya.

Menurutnya, pada 2025 kebun raya tersebut meraih penghargaan dari BRIN sebagai kebun raya daerah dengan percepatan pembangunan infrastruktur terbaik di antara 44 kebun raya daerah di Indonesia.

Baca Juga:  Ratusan Ribu KK Surabaya Tak Sesuai Alamat, Pemkot Nonaktifkan Akses Cek-in Warga

“Prestasi yang pertama adalah penghargaan dari BRIN sebagai kebun raya dengan percepatan infrastruktur yang paling siap di antara 44 kebun raya daerah yang lain,” ujar Hendrian.

Pada tahun yang sama, Kebun Raya Mangrove Surabaya juga dinobatkan sebagai kebun raya terbaik kedua di Indonesia.

“Di usia yang baru dua tahun, Kebun Raya Mangrove Surabaya ketika itu sudah berhasil menjadi kebun raya terbaik kedua se-Indonesia,” imbuhnya.

Hendrian menilai capaian tersebut tidak terlepas dari dukungan Pemkot Surabaya, akademisi, komunitas, dan para pemangku kepentingan.

“Tidak ada satu pun kebun raya yang berhasil dan sukses tanpa ada dukungan dari pemerintah daerahnya,” katanya.

Ia menambahkan, Kebun Raya Mangrove Surabaya memiliki nilai strategis karena masih sedikit kebun raya di dunia yang secara khusus mendedikasikan fungsi konservasinya pada tumbuhan mangrove.

Selain menjadi pusat konservasi, kawasan tersebut memberikan layanan ekosistem bagi Kota Surabaya, mulai dari menjaga kawasan pesisir, mendukung keanekaragaman hayati, hingga menjadi pusat penelitian dan pendidikan lingkungan.

“Kebun Raya Mangrove Surabaya memainkan peran yang sangat penting dalam hal ecosystem service bagi Kota Surabaya. Oleh sebab itu, tidak hanya Pak Wali Kota, tetapi seluruh masyarakat mudah-mudahan bersama-sama menjaga kebun raya ini agar tetap lestari,” pungkasnya.

Rangkaian HUT ke-3 Kebun Raya Mangrove Surabaya digelar selama dua hari, 25–26 Juli 2026. Selain Festival Riset dan Inovasi, kegiatan hari pertama diisi dengan Living Laboratory, Green UMKM Corner, penanaman bibit mangrove, penyebaran benih ikan bandeng, yoga, serta lomba riset dan inovasi mahasiswa.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan Mangrove Eco Run 3.0 pada hari kedua.

Melalui kegiatan tersebut, Pemkot Surabaya berupaya menjadikan Kebun Raya Mangrove sebagai ruang tempat penelitian dikembangkan, inovasi diperkenalkan, kolaborasi dibangun, dan pengetahuan lingkungan disampaikan langsung kepada masyarakat.

 

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.