Kediri, analisapublik.id — Anggota Komisi X DPR RI Ahmad Dhani menegaskan bahwa penguasaan bahasa asing, penguatan karakter kebangsaan, dan kemampuan menyaring informasi digital harus berjalan beriringan dalam membentuk generasi muda Indonesia.
Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Dhani dalam Sarasehan Kebangsaan di Brilliant English Course, Kampung Inggris Pare, Kabupaten Kediri, Sabtu (25/7/2026). Forum itu membahas persoalan pendidikan, kebudayaan, akses perguruan tinggi, hingga tantangan literasi digital.
Di hadapan masyarakat dan kalangan pendidikan, Ahmad Dhani menempatkan kemampuan berbahasa Inggris sebagai salah satu modal penting bagi generasi muda untuk memasuki ruang pengetahuan global.
Menurutnya, penguasaan bahasa asing bukan sekadar keterampilan komunikasi, tetapi juga sarana untuk memperoleh ilmu, memahami perkembangan dunia, serta memperluas kesempatan pendidikan dan karier.
Ia menilai generasi muda yang mampu berkomunikasi dalam bahasa internasional akan memiliki akses lebih luas terhadap buku, penelitian, teknologi, dan berbagai sumber pengetahuan dari negara lain.
Dalam konteks tersebut, Ahmad Dhani memandang Kampung Inggris Pare memiliki posisi strategis dalam pengembangan pendidikan nonformal. Kawasan itu dinilai tidak hanya menjadi pusat pembelajaran bahasa, tetapi juga dapat berperan dalam meningkatkan kepercayaan diri dan daya saing generasi muda.
Namun, Ahmad Dhani mengingatkan bahwa kemampuan mengakses dunia global tidak boleh membuat generasi muda menjauh dari kebudayaan dan identitas bangsanya.
Ia menilai keterbukaan terhadap perkembangan internasional justru perlu dibarengi dengan pemahaman yang kuat terhadap sejarah, nilai sosial, serta kebudayaan Indonesia. Tanpa fondasi tersebut, kemajuan pendidikan dan teknologi berisiko hanya menghasilkan generasi yang terampil, tetapi tidak memiliki arah dan karakter kebangsaan yang kuat.
Karena itu, pembahasan mengenai penguasaan bahasa asing dalam sarasehan tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga atau nguri-nguri kebudayaan.
Ahmad Dhani memandang pendidikan seharusnya tidak hanya berorientasi pada nilai akademik dan kemampuan memperoleh pekerjaan. Pendidikan juga harus membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, mengenali identitasnya, serta memiliki kepedulian terhadap kehidupan sosial dan kebangsaan.
Perhatian serupa disampaikan dalam pembahasan mengenai perkembangan teknologi digital dan media sosial.
Ahmad Dhani menilai derasnya arus informasi menghadirkan peluang sekaligus ancaman bagi generasi muda. Teknologi memungkinkan masyarakat memperoleh informasi secara cepat, tetapi kecepatan tersebut tidak selalu diikuti dengan kemampuan untuk memeriksa kebenaran, memahami konteks, dan membedakan informasi faktual dari konten yang menyesatkan.
Menurutnya, literasi digital tidak cukup dipahami sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat atau menggunakan media sosial. Literasi digital juga mencakup kemampuan menilai sumber informasi, berpikir kritis, serta bertanggung jawab atas konten yang dibaca maupun disebarkan.
Kemajuan teknologi, lanjutnya, harus diimbangi dengan penguatan karakter agar generasi muda tidak mudah terbawa arus informasi dan tetap memiliki pijakan budaya yang jelas.
Selain literasi digital, forum tersebut turut menyinggung sistem pendidikan nasional dan kesempatan generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Pembahasan itu menunjukkan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia tidak hanya bergantung pada kemampuan individu. Pemerataan kesempatan belajar, ketersediaan lembaga pendidikan, serta keterhubungan antara pendidikan formal dan nonformal juga menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan.
Sementara itu, Owner Brilliant English Course, Mr. Abie, memandang sarasehan tersebut sebagai upaya mempertemukan tiga unsur yang tidak dapat dipisahkan, yakni pendidikan, kebudayaan, dan wawasan kebangsaan.
Mr. Abie, yang dalam publikasi kegiatan disebut sebagai Ketua MATRA Jawa Timur, mengatakan Kampung Inggris perlu dikembangkan lebih jauh sebagai ruang pembentukan karakter generasi muda, bukan semata-mata sebagai kawasan kursus bahasa.
Menurutnya, kemampuan berkomunikasi secara global harus berjalan bersama pemahaman terhadap budaya dan jati diri Indonesia. Dengan pendekatan tersebut, peserta didik diharapkan tidak hanya mampu berbicara dalam bahasa asing, tetapi juga dapat membawa nilai dan perspektif Indonesia dalam pergaulan internasional.
Ia menilai pendidikan masa depan harus memberi ruang lebih besar bagi pengembangan komunikasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan literasi digital.
Kemampuan akademik tetap penting, tetapi tidak cukup untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan kehidupan sosial yang semakin dipengaruhi teknologi. Generasi muda juga perlu dibekali kemampuan beradaptasi, bekerja sama, serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
Mr. Abie menambahkan, tujuan tersebut membutuhkan kolaborasi antara lembaga pendidikan, organisasi kebudayaan, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi diperlukan agar pendidikan tidak berjalan secara terpisah dari persoalan kebudayaan maupun perubahan sosial. Lembaga pendidikan diharapkan tidak hanya menjadi tempat penyampaian materi, tetapi juga ruang yang membantu peserta didik memahami tantangan kehidupan nyata.
Sarasehan Kebangsaan di Kampung Inggris Pare itu memperlihatkan adanya kebutuhan untuk membangun model pendidikan yang terbuka terhadap pengetahuan global, tetapi tetap berpijak pada nilai kebangsaan.
Penguasaan bahasa asing dapat membuka akses menuju pengetahuan dan jaringan internasional. Sementara itu, kebudayaan dan literasi digital menjadi bekal agar generasi muda mampu menggunakan akses tersebut secara kritis, bertanggung jawab, dan tidak kehilangan identitas.
Pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai forum diskusi, melainkan dapat mendorong kerja sama konkret dalam pengembangan pendidikan nonformal, penguatan literasi digital, pelestarian budaya, dan perluasan kesempatan belajar bagi generasi muda.(peq)






