analisapublik.id – Pembangunan Jalan Kretek–Girijati terus mencatat kemajuan signifikan di tengah medan perbukitan karst yang menantang. Hingga April 2025, progres fisik proyek telah mencapai 75,95%, melampaui target bulanan sebesar 69,17%, menandai tonggak penting dalam konektivitas wilayah selatan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Proyek senilai Rp228 miliar ini merupakan wujud sinergi antara Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah pusat, lembaga internasional, dan korporasi nasional. Skema pendanaan yang digunakan bersifat hybrid, memadukan berbagai sumber pendanaan untuk menciptakan model pembangunan berkelanjutan.
Rincian Pendanaan Proyek
1. APBD DIY 2024–2025 – Rp178 miliar (78%)
Digunakan untuk pembangunan fisik utama, seperti pelebaran jalan, penguatan struktur, dan sistem drainase.
2. Hibah JICA (Japan International Cooperation Agency) – Rp50 miliar (22%)
Difokuskan pada penerapan teknologi stabilisasi lereng, instalasi sensor pemantauan real-time, dan sistem drainase modern sesuai karakteristik geologi karst.
3. CSR PT Wijaya Karya (WIKA) – Rp5 miliar
Dialokasikan untuk program pemberdayaan masyarakat, penghijauan lereng, serta infrastruktur penunjang berbasis ekologi.
Detail Teknis Proyek
Pelaksana Konstruksi: PT Wijaya Karya (WIKA)
Nilai Kontrak: Rp228 miliar (kontrak ditandatangani Maret 2024)
Capaian Fisik:
▪️ Pekerjaan tanah: 100%
▪️ Struktur penahan (bore pile): 85% dari 38 titik
▪️ Perkerasan jalan: 65%
Target Penyelesaian: Oktober 2025
Teknologi & Skema Hybrid: Inovasi di Jalur Selatan
Proyek ini bukan sekadar infrastruktur jalan, melainkan contoh kolaborasi lintas negara dalam pembangunan berwawasan teknologi dan lingkungan.
Kontribusi JICA meliputi:
▫️ Instalasi sensor lereng real-time untuk mitigasi longsor
▫️ Pelatihan teknis konstruksi ramah lingkungan di wilayah rawan geologis
Program CSR WIKA mencakup:
▫️ Pembangunan dua embung kecil senilai Rp2 miliar
▫️ Pelatihan homestay dan ekowisata bagi 50 warga sekitar

Dampak Sosial dan Ekonomi
Jalan Kretek–Girijati diyakini akan memperkuat konektivitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di kawasan selatan Yogyakarta. Dampak utama yang diantisipasi antara lain:
✅ Efisiensi anggaran daerah hingga Rp120 miliar
✅ Pemangkasan waktu tempuh dari 60 menit menjadi 25 menit
✅ Peningkatan kunjungan wisata ke pesisir selatan Gunungkidul hingga 40%
“Ini adalah contoh sinergi ideal antara pemerintah daerah, pusat, lembaga asing, dan BUMN. Hibah JICA bukan sekadar dana, tetapi jembatan untuk alih teknologi dan peningkatan kapasitas,” ujar Ridwan Subarkah, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Dinas Pekerjaan Umum DIY.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, proyek Jalan Kretek–Girijati diproyeksikan menjadi role model pembangunan infrastruktur berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.(HMWR)












