HeadlinePemerintahan

Jalan Prambanan–Gayamharjo, Proyek Strategis Senilai Rp122,43 Miliar Rampung Februari 2025

725
×

Jalan Prambanan–Gayamharjo, Proyek Strategis Senilai Rp122,43 Miliar Rampung Februari 2025

Sebarkan artikel ini

Analisapublik. Id – Di balik bebukitan kapur yang dahulu menjadi penghalang akses dan mobilitas, kini terbentang jalan baru yang menjadi simbol kemajuan kawasan selatan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Proyek pembangunan Jalan Prambanan–Gayamharjo sepanjang 9,08 kilometer telah selesai dikerjakan pada Februari 2025, dengan nilai kontrak sebesar Rp122,43 miliar. Ini bukan sekadar proyek konstruksi—melainkan infrastruktur strategis nasional yang menyatukan konektivitas antarwilayah, menggerakkan ekonomi lokal, dan membuka ruang pertumbuhan sosial baru.

 

Ruas ini menjadi bagian penting dari koridor jalan Prambanan–Gayamharjo–Tawang–Ngalang–Gading yang membentang total sepanjang 27,58 kilometer. Ketika jaringan ini rampung seluruhnya, ia akan berfungsi sebagai tulang punggung konektivitas antara Kabupaten Sleman dan Gunungkidul, dua kawasan dengan potensi besar di sektor pariwisata dan pertanian.

“Konektivitas bukan soal memotong jarak semata, melainkan tentang membuka akses ekonomi, menurunkan biaya logistik, dan mempercepat pertumbuhan wilayah,” ujar Tisara Sita, Kepala Satker Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah DIY.

Proyek ini didorong melalui program Instruksi Presiden Jalan Daerah (IJD) sebagai usulan strategis Gubernur DIY. Jalan ini menjadi andalan untuk memperkuat ketahanan pangan, menghubungkan pusat-pusat wisata, dan menjangkau desa-desa yang sebelumnya terisolasi oleh kondisi geografis.

Manfaatnya sangat terasa: waktu tempuh antarwilayah bisa dipangkas hingga 15 menit, distribusi logistik menjadi lebih efisien, dan akses menuju destinasi unggulan seperti Candi Prambanan, Situs Ratu Boko, hingga kawasan UNESCO Global Geopark Gunung Sewu menjadi lebih cepat dan nyaman.

Tak hanya itu, jalan ini juga telah terintegrasi dengan rencana pembangunan Exit Tol Bokoharjo, yang akan menghubungkan langsung ke simpang susun Tol Solo–Yogyakarta. Ini akan mempercepat arus mobilitas masyarakat dan barang dari wilayah selatan ke pusat-pusat ekonomi di DIY dan Jawa Tengah.

Progres Fisik Per April 2025:

Segmen 2.1 (Single Year Contract): Rampung 100%

Segmen 1 (Multi Years Contract): 18,873%

Segmen 2.2 (Multi Years Contract): 12,285%

Target penyelesaian seluruh jaringan ditetapkan rampung pada Agustus 2025 oleh Kementerian PUPR.

Namun, pelaksanaan proyek ini tidak luput dari tantangan. Cuaca ekstrem pada periode November 2024 hingga Februari 2025 sempat memperlambat pekerjaan. Selain itu, ditemukannya artefak arkeologis berupa arca di salah satu titik trase jalan menambah kompleksitas proyek. Temuan tersebut langsung ditangani dengan pendampingan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, demi memastikan pelestarian nilai-nilai sejarah dan budaya tetap terjaga.

“Proyek ini bukan hanya membangun fisik jalan, tapi juga menghormati warisan budaya setempat. Ini adalah kombinasi antara pembangunan modern dan pelestarian sejarah,” ungkap Ersy, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 1.1.

Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Sukses

Keberhasilan proyek ini merupakan hasil kerja kolaboratif berbagai pihak:

Kementerian PUPR sebagai penanggung jawab teknis nasional;

Dinas PUP-ESDM DIY yang mengawal teknis pelaksanaan melalui dukungan Dana Keistimewaan dan APBD;

Pemkab Sleman serta BKAD Sleman yang memastikan kelancaran proses pembebasan lahan dan pengamanan aset daerah.

Antusiasme Masyarakat, Simbol Perubahan Nyata

Masyarakat turut merasakan langsung dampak pembangunan ini. Di ruas jalan yang telah rampung, warga menggelar car free day, membuka UMKM lokal, dan menikmati akses yang dulu hanya bisa dibayangkan. Jalan ini menghidupkan ekonomi kecil, membuka peluang usaha baru, dan menghubungkan generasi muda dengan masa depan yang lebih terbuka.

Jalan Prambanan–Gayamharjo bukan sekadar jalur aspal—ia adalah jembatan harapan yang menyatukan masa lalu yang terisolasi, masa kini yang tengah dibangun, dan masa depan yang lebih inklusif, maju, dan merata untuk seluruh masyarakat selatan DIY. (HMWR)