CATATAN ABAH TINDIK

Polwan 78 Tahun: Kehormatan Seragam Ada pada Cara Melayani

1248
×

Polwan 78 Tahun: Kehormatan Seragam Ada pada Cara Melayani

Sebarkan artikel ini

Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan

Tujuh puluh delapan tahun bukan perjalanan singkat bagi Polisi Wanita Republik Indonesia. Usia tersebut semestinya tidak hanya diperingati melalui seremoni, tetapi menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana kehadiran Polwan benar-benar dirasakan masyarakat.

Hari Jadi Polwan diperingati setiap 1 September. Sejarahnya bermula pada 1948 ketika enam perempuan mengikuti pendidikan kepolisian di Sekolah Polisi Negara Bukittinggi, Sumatera Barat. Dari enam perempuan itulah perjalanan panjang Polwan Indonesia dimulai.

Kini perannya berkembang jauh.

Polwan tidak lagi hanya menangani persoalan perempuan dan anak. Mereka hadir dalam reserse, intelijen, lalu lintas, pelayanan masyarakat hingga berbagai bidang operasional kepolisian.

Ruang pengabdian semakin luas. Tanggung jawab pun semakin besar.

Tema Hari Jadi ke-78 Polwan tahun 2026, “One Police Woman, Extraordinary Impact”, membawa pesan penting. Namun maknanya tidak boleh berhenti sebagai slogan.

Keberhasilan Polwan tidak cukup diukur dari banyaknya kegiatan, jabatan ataupun publikasi. Ukuran yang jauh lebih penting adalah ketika masyarakat datang ke kantor polisi dan memperoleh pelayanan yang profesional, adil serta manusiawi.

Ketika perempuan korban kekerasan berani berbicara karena merasa terlindungi. Ketika anak yang berhadapan dengan hukum tetap diperlakukan dengan martabat. Ketika masyarakat kecil memperoleh pelayanan yang sama tanpa dibedakan oleh kedudukan, uang maupun kekuasaan.

Di situlah kualitas pengabdian diuji.

Ketegasan tentu tetap diperlukan. Polwan merupakan bagian dari institusi penegak hukum yang memiliki kewenangan besar. Namun kemampuan mendengar, empati dan pendekatan humanis juga menentukan bagaimana kepercayaan masyarakat dibangun.

Tantangannya pun semakin kompleks.

Kekerasan terhadap perempuan dan anak, perdagangan orang, kejahatan seksual berbasis digital, penipuan daring hingga perundungan siber menuntut kemampuan yang terus diperbarui.

Polwan tidak bisa menghadapi persoalan hari ini dengan pola kerja kemarin.

Kompetensi, integritas dan profesionalitas harus terus diperkuat. Sebab masyarakat kini tidak hanya menilai apakah sebuah perkara ditangani, tetapi juga bagaimana proses penanganannya dilakukan.

Karena itu, usia 78 tahun selayaknya menjadi ruang introspeksi.

Masyarakat tidak membutuhkan Polwan sekadar sebagai simbol keterwakilan perempuan di tubuh Polri. Masyarakat membutuhkan polisi wanita yang berani mengambil tanggung jawab, menjaga integritas, bekerja profesional serta tetap peka terhadap mereka yang membutuhkan perlindungan.

Selamat Hari Jadi ke-78 Polisi Wanita Republik Indonesia.

Teruslah menjadi Srikandi Bhayangkara yang hadir bukan sekadar membawa kewenangan, tetapi juga memberikan rasa aman, keadilan dan pelayanan yang manusiawi.

Sebab kehormatan seragam tidak ditentukan oleh siapa yang mengenakannya.

Kehormatan itu ditentukan oleh bagaimana kewenangan digunakan untuk melayani masyarakat.

Salam Abahtindik.

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.