HeadlinePemerintahan

Munculnya Ikan Mabuk di Kali Banyu Urip dan Kalimas, DLH Surabaya Ungkap Kadar Oksigen Kritis 1,5 Jauh di Bawah Standar Ideal

290
×

Munculnya Ikan Mabuk di Kali Banyu Urip dan Kalimas, DLH Surabaya Ungkap Kadar Oksigen Kritis 1,5 Jauh di Bawah Standar Ideal

Sebarkan artikel ini

SURABAYA,analisapublik.id – Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bergerak cepat menindaklanjuti fenomena kemunculan ikan yang terlihat stres atau “mabuk” di saluran Banyu Urip dan Sungai Kalimas dalam beberapa hari terakhir. Hasil uji laboratorium Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya mengungkap adanya penurunan drastis pada kualitas air.

Kepala DLH Kota Surabaya, Dedik Irianto, pada Rabu (29/10/2025), membenarkan bahwa kejadian ini kuat diduga dipicu oleh penurunan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) dalam air sungai. Fenomena ini, menurutnya, kerap terjadi saat peralihan musim yang menyebabkan perubahan kualitas air secara drastis dan mengganggu keseimbangan ekosistem.

“Kuat dugaan penyebab kejadian ini adalah penurunan drastis kadar oksigen terlarut (DO) dalam air sungai,” terang Dedik.

Dugaan tersebut diperkuat dengan hasil pemeriksaan sampel air di lokasi oleh Tim Penegakan Hukum Lingkungan Hidup (PPKLH) DLH Surabaya. Pihaknya mencatat kadar DO di sungai hanya mencapai 1,5. Padahal, standar kadar DO yang ideal untuk air sungai seharusnya berada di angka 3.

“Kami sudah melakukan uji laboratorium dan hasilnya kadar DO-nya sangat rendah,” imbuh Dedik.

Baca Juga:  Ekonomi Surabaya Melesat, Realisasi Investasi Tembus Rp31,3 Triliun, Capai 73% Target Tahunan

Penurunan DO yang ekstrem ini membuat ikan-ikan sulit bernapas, memaksanya naik ke permukaan air untuk mencari oksigen, yang terlihat seperti “mabuk” atau stres.

Dosen Departemen Teknik Lingkungan ITS, Prof. Dr. Harmin Sulistiyaning Titah, memperkirakan kejadian ikan mabuk ini memang disebabkan oleh penurunan drastis kadar DO dalam air akibat pencemaran.

Prof. Harmin menjelaskan bahwa penurunan DO dapat disebabkan oleh pencemar organik/polutan yang selama musim kemarau mengendap di dasar sungai.

“Ketika musim hujan tiba, polutan terangkat sehingga mengurangi kandungan oksigen dalam air. Hal tersebut mengakibatkan ikan-ikan kekurangan oksigen dan pada akhirnya naik ke permukaan untuk mencari oksigen,” pungkas Prof. Harmin.

Menyikapi kondisi ini, Dedik Irianto menegaskan bahwa DLH Kota Surabaya akan terus memantau kualitas air secara berkelanjutan dan menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang diperlukan untuk menjaga kesehatan ekosistem sungai.

Pihaknya juga mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk turut serta menjaga kebersihan, vegetasi, dan ekosistem sungai di Kota Surabaya.

“Kami mengimbau kepada masyarakat untuk tidak membuang sampah, khususnya sampah rumah tangga dan limbah lainnya, ke sungai. Kebersihan sungai adalah tanggung jawab kita bersama,” pesannya.

Baca Juga:  Perangi Ancaman Digital, Wali Kota Surabaya Pimpin Deklarasi Anak Digital Aman

(Res)