Jakarta, analisapublik.id– Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI menyalurkan 5.000 paket bantuan kepada masyarakat korban bencana banjir bandang di wilayah Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Aceh Timur.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyampaikan bahwa kondisi para korban bencana saat ini sangat memprihatinkan. Menurutnya, pengungsi terpaksa menumpang di rumah kerabat, sekolah, hingga masjid yang berada di lokasi lebih tinggi dan tidak terdampak banjir.
”Rumah hancur, lahan pertanian rusak, ternak musnah, bahkan ada anggota keluarga yang meninggal dan hilang. Secara psikologis mereka kehilangan semangat hidup,” kata Muzani dalam keterangan tertulisnya yang diterima di Jakarta, Sabtu (13/12/2025 – asumsi tanggal agar sesuai konteks).
Secara total, MPR RI menyalurkan 15.000 paket bantuan yang dibagi untuk tiga provinsi, yaitu Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, di mana masing-masing provinsi menerima 5.000 paket.
Khusus untuk Aceh, bantuan didistribusikan sebagai berikut:
- 2.000 paket untuk Aceh Utara
- 2.000 paket untuk Aceh Tamiang
- 1.000 paket untuk Aceh Timur
Isi Bantuan dan Fokus Pemerintah
Satu paket bantuan tersebut berisi kebutuhan pokok dan perlengkapan penting seperti susu, gula, kopi, mi instan, minyak goreng, biskuit, popok bayi, pembalut perempuan, minyak kayu putih, balsam, hingga obat-obatan.
Muzani menekankan bahwa fokus utama adalah pemulihan kehidupan masyarakat. “Bantuan ini memang masih sangat terbatas, tetapi yang paling penting adalah perhatian Presiden Prabowo yang begitu fokus untuk segera memulihkan kehidupan masyarakat agar bisa kembali seperti sedia kala,” ujarnya.
Ia turut mengapresiasi dukungan dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Polri, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial (Kemensos), relawan, lembaga sosial, hingga perorangan. Dukungan ini menegaskan semangat gotong royong bangsa Indonesia.
”Kami berbangga bahwa kegotongroyongan dan sifat penolong bagi kita bangsa Indonesia tidak pernah pudar. Itulah kebanggaan kita, itulah yang kita miliki satu-satunya sebagai sebuah warisan yang harus kita pertahankan, yakni kegotongroyongan,” tutupnya. ( wa/ar)







