Surabaya – analisapublik.id | Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya kini memiliki fungsi baru. Selain menjadi kawasan konservasi, lokasi tersebut dikembangkan sebagai laboratorium uji coba Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) skala mini.
Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya memasang teknologi pirolisis yang mampu mengolah sampah plastik dan biomassa, seperti daun serta ranting kering, menjadi gas dan bahan bakar cair.
Pendamping teknis teknologi pirolisis KRM Surabaya, Ir. Edy Hartono, mengatakan gas yang dihasilkan dari proses tersebut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
“Gasnya digunakan untuk menghasilkan listrik. Jadi, sampah yang sebelumnya menjadi persoalan kini dapat diubah menjadi energi,” kata Edy, Rabu (22/7/2026).
Menurut Edy, hasil uji coba menggunakan sampah yang dikumpulkan di kawasan KRM setiap akhir pekan menunjukkan potensi yang cukup besar. Listrik yang dihasilkan nantinya direncanakan untuk membantu memenuhi kebutuhan operasional di Kawasan KRM tersebut.
Edy menyebut teknologi pirolisis relatif murah, sederhana, dan berpotensi diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di sejumlah kelurahan di Surabaya.
Namun, keberhasilan pengolahan sampah melalui teknologi tersebut sangat bergantung pada kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.
“Kunci utamanya adalah pemilahan sampah dari sumbernya. Jika plastik dan biomassa dipisahkan, proses pirolisis akan jauh lebih efektif,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) Kota Surabaya, Agus Imam Sonhaji, menambahkan bahwa teknologi pirolisis merupakan satu dari tiga teknologi energi ramah lingkungan yang dihadirkan dalam bentuk miniatur di KRM.
Dua teknologi lainnya adalah panel surya dan inovasi Terangin. Terangin adalah hasil Inovboyo 2025, yang memanfaatkan hembusan angin di kawasan pesisir untuk menghasilkan listrik.
Agus menegaskan, teknologi tersebut tidak diperuntukkan bagi pengolahan berskala industri, melainkan sebagai sarana pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum.
“Ini bukan pabrik, tetapi media edukasi agar anak sekolah hingga mahasiswa dapat melihat langsung proses pengolahan energi terbarukan,” ujar Agus.












