Jatim

Era AI Ubah Pola Sertifikasi, PT ULI Perkuat Kapasitas Asesor Konstruksi

1467
×

Era AI Ubah Pola Sertifikasi, PT ULI Perkuat Kapasitas Asesor Konstruksi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, ANALISA PUBLIK — Perkembangan teknologi digital dan Artificial Intelligence (AI) mulai mengubah pola sertifikasi tenaga kerja. Asesor kini tidak hanya dituntut menguasai metode penilaian, tetapi juga mampu memastikan keaslian, validitas, dan keterlacakan bukti kompetensi peserta.

Merespons perubahan tersebut, PT Utama Lestari Indonesia (ULI) bersama Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) ATAKI menggelar Recognition of Current Competency (RCC) Asesor Kompetensi Sektor Konstruksi di Quest Hotel Surabaya, 22–23 September 2026.

Kegiatan diikuti para asesor kompetensi, unsur LSP, Tempat Uji Kompetensi (TUK), serta tim teknis RCC. Master Asesor BNSP, Dr. Iffah Rosyiana, S.Psi., M.Psi., Psikolog, turut hadir dalam kegiatan tersebut.

Direktur Utama PT Utama Lestari Indonesia, Abdul Rasyid, menegaskan RCC bukan sekadar agenda administratif untuk memperbarui sertifikat, tetapi menjadi bagian penting dalam menjaga mutu proses sertifikasi.

“RCC bukan sekadar memperbarui sertifikat, tetapi memperbarui kualitas diri seorang asesor. Mutu sertifikasi sangat ditentukan oleh mutu asesornya,” ujar Abdul Rasyid, Selasa (22/9/2026).

Menurutnya, setiap keputusan asesmen harus didasarkan pada bukti kompetensi yang sahih dan dapat dipertanggungjawabkan, bukan atas persepsi pribadi, kedekatan, maupun kepentingan tertentu.

Dalam RCC tersebut, penguatan kompetensi difokuskan pada tiga aspek utama, yakni Merencanakan Aktivitas dan Proses Asesmen (MAPA), Melaksanakan Asesmen Kompetensi, serta Memberikan Kontribusi dalam Validasi Asesmen (MKVA).

Asesor dituntut mampu menentukan metode, instrumen, serta jenis bukti secara tepat sehingga proses penilaian berlangsung objektif, terukur, dan dapat divalidasi.

AI Hadirkan Tantangan Baru

Transformasi digital membuat bukti kompetensi tidak lagi terbatas pada dokumen fisik. Portofolio digital, rekaman pekerjaan, data elektronik hingga simulasi berbasis teknologi kini semakin banyak digunakan dalam proses asesmen.

Di sisi lain, perkembangan AI memungkinkan dokumen, gambar, video, maupun karya digital dibuat dan dimodifikasi semakin mudah. Kondisi ini menuntut asesor meningkatkan kemampuan verifikasi untuk memastikan bukti yang diajukan benar-benar autentik dan relevan dengan kompetensi peserta.

Autentikasi peserta, keamanan informasi, keaslian portofolio hingga potensi manipulasi bukti digital menjadi aspek yang harus mendapat perhatian lebih serius.

“Kita tidak boleh menolak teknologi. Yang harus kita lakukan adalah meningkatkan kompetensi asesor agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab tanpa menggantikan professional judgment asesor,” tegas Abdul Rasyid.

PT ULI turut mendorong penguatan kredensial digital, keamanan informasi, audit trail asesmen, interoperabilitas data, serta pengembangan portofolio digital sebagai bagian dari adaptasi terhadap perkembangan teknologi.

Meski teknologi terus berkembang, prinsip dasar asesmen tetap harus dijaga, yakni valid, reliabel, fleksibel, adil, transparan, dan berbasis bukti.

Melalui RCC tersebut, PT ULI bersama LSP ATAKI berharap asesor konstruksi semakin adaptif terhadap perkembangan teknologi, kuat secara metodologis, sekaligus konsisten menjaga objektivitas dan integritas.

Penguatan kualitas asesor dinilai penting karena kredibilitas sertifikat kompetensi bukan hanya ditentukan oleh dokumen yang diterbitkan, tetapi juga kualitas proses penilaian, validitas bukti, dan profesionalisme asesor.

Dengan asesmen yang objektif dan dapat dipertanggungjawabkan, sertifikasi diharapkan benar-benar mencerminkan kemampuan tenaga kerja sekaligus mendukung peningkatan kualitas dan daya saing sumber daya manusia sektor konstruksi Indonesia.

Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.