CATATAN ABAH TINDIK

CATATAN ABAHTINDIK

3694
×

CATATAN ABAHTINDIK

Sebarkan artikel ini

Kalau Stok BBM Tinggal 14 Hari, Apakah Kita Mampu?

Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan

EMPAT belas hari mungkin terasa panjang kalau yang ditunggu tanggal gajian. Tetapi ketika yang dihitung adalah ketersediaan BBM, dua pekan terasa sangat pendek.

BBM bukan sekadar urusan kendaraan pribadi. Truk logistik, angkutan umum, industri, nelayan, petani hingga distribusi pangan bergantung pada kelancaran energi.

Karena itu, angka 14 hari harus dibaca secara jernih.

BPH Migas pada September 2026 mencatat stok Pertalite di Integrated Terminal Makassar berada pada kisaran 8–14 hari, sedangkan Biosolar 7–12 hari. Pengiriman tetap dilakukan dari Kilang Tuban dan Balikpapan.

Artinya, angka 14 hari tersebut bukan data bahwa seluruh Indonesia, apalagi Pulau Jawa, hanya memiliki BBM untuk dua pekan.

Secara nasional, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia pada 17 September 2026 menyebut ketahanan stok BBM berada pada kisaran 18–20 hari.

Persoalannya kemudian bukan apakah Indonesia akan kehabisan BBM besok atau lusa.

Pertanyaan yang lebih penting: seberapa kuat ketahanan 18–20 hari jika gangguan energi global berlangsung lebih lama?

Pertanyaan itu relevan ketika konflik geopolitik kembali mengganggu jalur minyak dunia.

Serangan terhadap East-West Pipeline Arab Saudi pada 13 September 2026 sempat memengaruhi pengiriman melalui Pelabuhan Yanbu. Ketegangan di Yaman dan kawasan Laut Merah juga menambah risiko terhadap jalur perdagangan dan infrastruktur energi.

Pasar ikut merespons. Pada 22 September 2026, harga minyak Brent kembali berada di atas US$100 per barel.

Bagi Indonesia, situasi itu tidak boleh dianggap jauh.

Kebutuhan bensin nasional mencapai sekitar 39–40 juta kiloliter per tahun. Meski kapasitas kilang terus ditingkatkan, Indonesia masih membutuhkan impor dalam jumlah besar. Produksi minyak domestik juga belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Artinya, kenaikan harga minyak, keterlambatan kapal tanker maupun gangguan jalur pelayaran tetap dapat memberi tekanan terhadap biaya energi di dalam negeri.

Pulau Jawa memiliki pertaruhan besar karena menjadi pusat penduduk, industri, perdagangan dan distribusi barang.

Gangguan BBM beberapa hari saja dapat berdampak pada ongkos angkut, harga pangan, operasional industri, UMKM, petani, nelayan hingga masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari kendaraan.

Karena itu, kalimat “stok masih aman” seharusnya selalu disertai pertanyaan lanjutan.

Aman untuk berapa lama?

Bagaimana jika kapal terlambat?

Bagaimana jika konflik berlangsung lebih panjang?

Dan seberapa cepat pasokan dapat dipulihkan?

Pertanyaan itu bukan untuk menciptakan kepanikan, tetapi untuk mengukur ketahanan energi secara rasional.

Hari ini SPBU masih buka. Kendaraan masih bergerak. Truk masih membawa barang.

Tidak ada alasan untuk panik.

Namun dunia sedang mengingatkan kita bahwa ketahanan energi tidak diuji ketika keadaan normal, melainkan ketika jalur perdagangan terganggu, harga minyak melonjak dan pasokan terlambat datang.

Sebab ketika persediaan energi mulai dihitung dalam hitungan hari, ruang untuk melakukan kesalahan semakin sempit.

Dan pertanyaannya tetap sama:

Kalau stok BBM benar-benar tinggal hitungan hari, apakah kita mampu?

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.