HeadlinePemerintahan

Benteng Hijau dari Anak SMP , Remaja Surabaya Penyelamat Pesisir dengan 18 Ribu Mangrove

338
×

Benteng Hijau dari Anak SMP , Remaja Surabaya Penyelamat Pesisir dengan 18 Ribu Mangrove

Sebarkan artikel ini

Analisapublik.id , Surabaya – Di tengah sorotan isu global tentang krisis iklim dan hilangnya kawasan vital pesisir, sebuah kisah heroik datang dari Surabaya. Bukan dari akademisi senior atau pejabat, melainkan dari seorang pelajar SMP.

Harley Fatahillah Yodhaloka Sunoto (13 tahun), Finalis Pangeran Lingkungan Hidup Tunas Hijau 2025, telah membudidayakan lebih dari 18.200 bibit mangrove. Ia adalah inisiator di balik gerakan konservasi ambisius bernama Mangrove Warrior.

Saat banyak perbincangan hanya fokus pada kerusakan alam, Harley dan Mangrove Warrior—yang melibatkan komunitas petani tambak Wonorejo dan siswa SMP Negeri 1 Surabaya—menghadirkan solusi nyata: aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, melontarkan apresiasi tinggi atas inisiatif tersebut.

“Adik Harley dan SMPN 1 ini luar biasa bisa membudidayakan mangrove. Di saat isu lingkungan terkait perubahan iklim ini ramai dibicarakan, tapi hanya kerusakan alam dan bencananya saja yang terekspos. Mereka tidak pernah melihat masih ada warga yang peduli lingkungan dan aktif melakukan mitigasi,” kata Dedik, Minggu (7/12/2025).

Inspirasi dari Kerusakan dan Ancaman Tsunami
Harley Fatahillah sendiri mengakui bahwa semangatnya didorong oleh keprihatinan. Ia menyaksikan banyak berita mengenai penebangan liar dan kerusakan pesisir di Indonesia. Dari sana, ia memahami bahwa mangrove adalah benteng alam yang krusial.

Mangrove, jelas Harley, mampu meredam gelombang besar, menahan abrasi, mengurangi risiko banjir, dan bertindak sebagai pelindung alami jika terjadi tsunami.

“Saya ingin Surabaya tetap aman. Mangrove bisa melindungi kita. Selama saya bisa menanam, saya akan terus menanam,” ujar Harley dengan mantap.

Inisiatifnya membawa SMPN 1 Surabaya menjadi sekolah pertama yang mengembangkan program pembudidayaan mangrove di Indonesia. Program ini bahkan menarik perhatian internasional, ditandai dengan kedatangan siswa dari Korea Selatan yang belajar langsung mengenai pengelolaan ekosistem mangrove di Surabaya.

Dari Konservasi ke Ekonomi Kreatif Berbasis Mangrove
Gerakan Mangrove Warrior yang kini didukung oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) telah merambah penanaman di tiga lokasi: Gunung Anyar, Wonorejo, dan Keputih. Mereka berfokus pada enam jenis mangrove yang disesuaikan dengan struktur tanah pesisir Surabaya, termasuk Rhizophora mucronata dan Sonneratia caseolaris.

Target Puluhan Ribu Mangrove
Dedik Irianto berharap gerakan ini menjadi trigger bagi anak muda lainnya. “Bayangkan jika efek gerakan ini dicontoh dan ditiru teman-temannya. Inisiasi-inisiasi yang digagasnya merupakan implementasi pemikiran untuk melindungi bumi ini,” tutur Dedik.

Harley sendiri telah memasang target ambisius: menanam 25.000 mangrove hingga akhir Desember 2025 dan mencapai 40.000 mangrove hingga pertengahan 2026. Target ini adalah komitmen pribadi Harley untuk menjaga pesisir Surabaya dari ancaman abrasi dan bencana.

Perjalanan Harley Fatahillah membuktikan bahwa upaya perlindungan lingkungan tidak mengenal batas usia. Dari tangan seorang bocah SMP, tumbuh ribuan bibit yang kelak menjadi sabuk hijau pelindung pesisir, memastikan Surabaya tetap lestari untuk generasi mendatang.

(Res)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.