Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan (Abahtindik)
Surabaya mendadak ramai bicara sesar.
Sebuah video mengenai patahan aktif di kawasan Surabaya dan sekitarnya beredar luas di media sosial. Dalam hitungan hari, video itu ditonton ratusan ribu kali. Sejumlah kawasan, jalan, permukiman hingga fasilitas publik bahkan disebut berada di sekitar lintasan patahan.
Wajar jika masyarakat kemudian bertanya: apakah Surabaya benar-benar menghadapi ancaman gempa?
Pertanyaan itu penting.
Tetapi kepanikan bukan jawabannya.
Informasi kebencanaan memang mudah menyita perhatian. Terlebih ketika sebuah peta menampilkan garis patahan yang seolah melintas dekat rumah, sekolah, rumah sakit, pusat perdagangan, bahkan tempat kita bekerja.
Semakin dekat garis itu dengan kehidupan sehari-hari, semakin mudah pula ketakutan tumbuh.
Masalahnya, informasi mengenai bencana tidak boleh berhenti pada gambar menarik, garis merah di peta dan narasi menegangkan. Harus jelas dari mana datanya berasal, siapa yang menerbitkan petanya dan bagaimana kajian ilmiahnya.
Pakar Geologi ITS Prof. Dr. Ir. Amien Widodo, M.Si. mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar tanpa melihat data resmi dan sumber peta yang digunakan.
Ini penting.
Sebab dalam informasi yang berkembang, istilah “Sesar Surabaya-Madura” kemudian seolah dipahami sebagai patahan baru yang baru ditemukan. Padahal, Prof. Amien menjelaskan bahwa sumber sesar aktif yang selama ini telah terpetakan di kawasan tersebut antara lain Sesar Surabaya dan Sesar Waru. Ia juga mempertanyakan dasar peta viral yang menggambarkan jalur mengarah hingga Madura.
Di sisi lain, BMKG menjelaskan bahwa sumber sesar yang menjadi pembicaraan memang masuk dalam kajian Pusat Studi Gempa Nasional atau PuSGeN. Kajian tersebut menunjukkan keberadaan sumber gempa aktif yang harus menjadi perhatian dalam mitigasi kebencanaan.
Namun BMKG juga menegaskan satu hal yang tidak kalah penting: sampai sekarang belum ada pihak atau teknologi yang mampu memastikan kapan sebuah gempa bumi akan terjadi.
Nah, di sinilah persoalan sebenarnya.
Jangan menunggu sesar viral baru bicara mitigasi.
Surabaya merupakan kota besar dengan jutaan aktivitas manusia setiap hari. Ada gedung bertingkat, sekolah, rumah sakit, pusat perbelanjaan, kawasan industri, permukiman padat, jalan raya hingga berbagai infrastruktur vital.
Karena itu, perdebatan kita seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan: garis sesarnya lewat mana?
Ada pertanyaan yang jauh lebih penting.
Apakah gedung-gedung publik sudah memperhitungkan risiko gempa?
Apakah sekolah rutin melakukan simulasi penyelamatan?
Apakah rumah sakit memiliki prosedur kedaruratan jika terjadi guncangan besar?
Apakah masyarakat mengetahui apa yang harus dilakukan ketika gempa terjadi?
Dan yang tidak kalah penting, apakah jalur evakuasi benar-benar tersedia, layak dan diketahui warga?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang semestinya lebih serius dibicarakan daripada berlomba menyebarkan gambar peta yang sumber dan konteks ilmiahnya belum dipahami.
Kita memang tidak mampu menentukan kapan bumi akan bergerak.
Tetapi kita bisa menentukan seberapa siap ketika bumi benar-benar bergerak.
Itulah perbedaan antara ketakutan dan mitigasi.
Ketakutan membuat orang sibuk bertanya kapan gempa akan datang.
Mitigasi membuat orang mempersiapkan apa yang harus dilakukan jika gempa datang.
Media sosial boleh bergerak sangat cepat. Satu unggahan bisa menyebar ke ratusan ribu orang hanya dalam beberapa jam. Tetapi untuk persoalan kebencanaan, kecepatan informasi harus tetap berjalan bersama ketepatan ilmu pengetahuan.
Jangan sampai ketakutan berlari lebih cepat daripada fakta.
Pemerintah juga jangan hanya sibuk memberikan penjelasan setelah sebuah isu kebencanaan telanjur viral.
Edukasi kebencanaan, simulasi penyelamatan, pemeriksaan ketahanan bangunan, penyediaan jalur evakuasi hingga sosialisasi kepada masyarakat seharusnya menjadi pekerjaan rutin.
Bukan pekerjaan musiman setiap kali jagat media sosial gaduh.
Karena sesar tidak menjadi berbahaya hanya ketika sedang viral.
Risikonya tetap ada meskipun tidak sedang dibicarakan siapa pun.
Maka jangan meremehkan sesar.
Tetapi jangan pula menjual ketakutan atas nama sesar.
Yang dibutuhkan Surabaya bukan masyarakat yang hidup dalam kepanikan, melainkan masyarakat yang memahami risiko, mengetahui sumber informasi yang dapat dipercaya dan mengerti bagaimana menyelamatkan diri ketika keadaan darurat benar-benar terjadi.
Waspada itu perlu.
Panik tidak perlu.
Sebab yang jauh lebih berbahaya adalah merasa semuanya baik-baik saja hanya karena hari ini bumi sedang diam.






