PemerintahanSurabaya

Surabaya Dorong Diversifikasi Sumber Protein Keluarga

10
×

Surabaya Dorong Diversifikasi Sumber Protein Keluarga

Sebarkan artikel ini
Surabaya Dorong Diversifikasi Sumber Protein Keluarga
Surabaya Dorong Diversifikasi Sumber Protein Keluarga

SURABAYA, ANALISAPUBLIK.ID – Pemerintah Kota Surabaya mendorong warga tidak hanya mengandalkan daging ayam dan sapi sebagai sumber protein keluarga. Ikan, telur, tahu, tempe hingga kacang-kacangan dinilai dapat menjadi pilihan alternatif untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Surabaya Nanik Sukristina mengatakan keberagaman sumber pangan penting untuk membentuk pola konsumsi sehat sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

“Pangan sumber protein tidak hanya berasal dari daging ayam dan daging sapi. Masyarakat dapat memilih dan mengonsumsi berbagai sumber protein secara bergantian sesuai kebutuhan keluarga,” kata Nanik, Kamis (3/9/2026).

Menurut Nanik, diversifikasi pangan bukan berarti masyarakat harus meninggalkan konsumsi ayam maupun daging sapi. Warga justru didorong memiliki lebih banyak pilihan agar kebutuhan gizi tidak bergantung pada satu atau dua jenis komoditas.

Pola tersebut sejalan dengan konsep Pola Pangan Harapan (PPH), yakni konsumsi pangan yang beragam dan proporsional dari berbagai kelompok makanan.

“Pola makan yang baik adalah pola makan yang beragam, bergizi, seimbang, aman, dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing keluarga. Jadi, sumber protein bisa diperoleh dari berbagai jenis pangan,” ujarnya.

Baca Juga:  Aksi Rakyat Surabaya Menggugat di Depan Grahadi, Soroti Demokrasi, Ekonomi, hingga Oligarki Kekuasaan

Dorongan diversifikasi juga dinilai penting di tengah perubahan harga dan ketersediaan pangan.

Berdasarkan survei harga konsumen BPS Kota Surabaya, pada Juli 2026 Surabaya mengalami deflasi 0,22 persen secara month-to-month (m-to-m). Telur ayam ras dan daging ayam ras termasuk komoditas yang memberikan andil terhadap deflasi pada periode tersebut.

Menurut Nanik, dinamika harga maupun ketersediaan komoditas menunjukkan pentingnya keluarga memiliki lebih banyak alternatif dalam menyusun menu.

“Diversifikasi pangan adalah membiasakan keluarga memiliki banyak pilihan. Hari ini bisa ikan, kemudian telur, tahu, tempe atau sumber protein lainnya. Ayam dan daging sapi tetap bisa dikonsumsi, tetapi tidak harus menjadi satu-satunya pilihan,” jelasnya.

Ia menilai pola konsumsi masyarakat Surabaya secara umum sudah cukup baik dan mendekati kondisi ideal dari sisi keberagaman maupun keseimbangan pangan.

Karena itu, ajakan diversifikasi diarahkan untuk mempertahankan sekaligus memperkuat kebiasaan tersebut.

Nanik menambahkan, menu bergizi tidak harus rumit maupun mahal. Keluarga dapat memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di lingkungan sekitar dan mengolahnya menjadi makanan sederhana dengan komposisi gizi seimbang.

Baca Juga:  Aksi Damai PSHT, Tuntut Kepastian Hukum Kasus Penganiayaan

“Yang penting bukan hanya jenis proteinnya, tetapi bagaimana makanan tersebut dikonsumsi secara beragam dan seimbang. Kita ingin masyarakat semakin terbiasa memilih pangan yang bergizi, aman, dan sesuai kebutuhan keluarga,” tuturnya.

Ia berharap kebiasaan mengganti sumber protein secara bergantian dapat menjadi bagian dari pola hidup masyarakat Surabaya.

“Semakin beragam pilihan pangan yang dikonsumsi, semakin banyak pula pilihan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Ini yang terus kita dorong agar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(Bambang Widodo)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.