Ponorogo, analisapublik.id – Pemerintah Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengambil langkah sigap dengan mengumumkan pengecekan menyeluruh terhadap kelaikan bangunan di seluruh pondok pesantren (ponpes) di wilayahnya. Tindakan ini merupakan antisipasi serius menyusul insiden ambruknya bangunan mushalla di Ponpes Al-Khoziny, Sidoarjo, pada 29 September lalu.
Bupati Ponorogo, Sugiri Sancoko, menyatakan bahwa pemeriksaan ini bertujuan mencegah terulangnya kasus serupa dan memastikan kesiapsiagaan pesantren dalam menghadapi potensi bencana.
“Nanti kita panggil dan cek satu per satu bangunan pondok di Ponorogo. Tujuannya agar kasus serupa tidak terulang,” kata Bupati Sugiri di Ponorogo, Rabu.
Melibatkan Tim Ahli dan Fokus Bangunan Bertingkat
Tercatat ada 123 ponpes resmi di Ponorogo yang akan menjalani pemeriksaan teknis. Proses ini akan melibatkan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) setempat.
Bupati menegaskan, pemeriksaan akan diprioritaskan pada bangunan bertingkat. Selain itu, pondok yang sedang atau akan membangun diwajibkan didampingi tim ahli agar konstruksi tidak asal-asalan. “Seluruh pondok akan kita periksa, terutama yang memiliki bangunan bertingkat. Termasuk yang sedang atau akan membangun, wajib didampingi tim ahli,” ujarnya.
Pelatihan Mitigasi Bencana dan Pengadaan APAR
Selain pengecekan fisik, Pemkab juga akan fokus pada aspek keselamatan dasar dan mitigasi kebencanaan. Pemkab akan memberikan pelatihan kepada pengelola pesantren dan menyoroti ketersediaan sarana keselamatan.
Menurut Sugiri, sebagian besar pesantren di Ponorogo belum memiliki sarana vital seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR) maupun sistem hydrant.
“Kita akan lihat berapa banyak ponpes yang memiliki APAR atau hydrant. Kelihatannya sepele, tapi sangat penting,” tambahnya.
Penanaman Pohon dan Pengelolaan Sampah
Dalam kesempatan yang sama, Pemkab juga mengimbau seluruh pesantren untuk aktif mendukung program lingkungan. Pesantren diminta melakukan penanaman pohon dan pengelolaan sampah mandiri menjadi kompos.
“Setiap pesantren harus menanam pohon dan mengelola sampahnya menjadi kompos. Ponorogo harus mencerminkan wajah kota santri yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Langkah pengecekan kelaikan bangunan dan mitigasi bencana ini diambil sebagai bentuk peningkatan kewaspadaan dan pembenahan standar keamanan menyeluruh di lembaga pendidikan keagamaan Ponorogo. ( wa/ar)





