SLEMAN, analisapublik.id – Kekuatan mobile photo journalism (Storytelling Visual) bagi Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) terletak pada kemampuannya memotret dinamika masyarakat secara real-time, hanya berbekal ponsel pintar. Dengan metode ini, anggota KIM dapat langsung mengabadikan momen, mengirimkan foto, dan membagikan informasi ke publik tanpa harus menunggu peralatan besar atau waktu lama.
Bagi KIM, kecepatan dan akurasi dalam menyampaikan berita adalah kunci keberhasilan menjalankan fungsi literasi informasi di tingkat desa atau kelurahan. Di tengah perkembangan teknologi, storytelling visual menawarkan solusi praktis dan efektif untuk mendokumentasikan peristiwa penting di lingkungan sekitar.
Menurut Ketua Pewarta Foto Indonesia, Andreas Fitriatmoko, dalam pelatihan foto jurnalistik lanjutan di Aula Kresna Dinas Komunikasi dan Informatika Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (14/8/2025), anggota KIM dapat menggunakan metode EDFAT (Entire, Details, Frame, Angle, Time) untuk menghasilkan foto yang tidak hanya indah, tetapi juga bercerita.
“Metode ini membantu anggota KIM menghasilkan foto yang tidak hanya indah, tetapi juga bercerita,” terangnya.
Dengan memotret keseluruhan suasana (Entire) dengan detail penting (Details), anggota KIM bisa menghadirkan gambaran utuh suatu peristiwa, sehingga audiens memahami maknanya secara menyeluruh. Selain itu, tahap frame dan angle dalam EDFAT memastikan subjek utama terlihat jelas dan pesan visual tersampaikan tanpa gangguan.
Peran Citizen Journalist dan Menjaga Akurasi
Tidak kalah penting, mobile photo journalism memungkinkan siapa saja berperan sebagai citizen journalist. Warga yang kebetulan berada di lokasi kejadian dapat mengabadikan momen, membagikannya, dan menjadi sumber awal berita. Meski demikian, Andreas menekankan bahwa kualitas dan integritas tetap menjadi kunci.
“Foto yang diambil lewat ponsel tidak hanya harus jelas secara visual, melainkan akurat secara kontekstual,” sambung Andreas.
Lebih dari itu, teknik ini memberdayakan anggota KIM untuk berperan sebagai storyteller visual. Mereka tidak hanya mengirimkan informasi, namun juga membangun narasi yang memperlihatkan sisi positif, kearifan lokal, serta potensi daerah. Hal ini penting untuk mengangkat citra wilayah sekaligus menarik perhatian pihak luar yang mungkin tertarik untuk berkolaborasi.
Andreas berpesan kepada peserta pelatihan agar tetap menjaga akurasi dan etika. Foto yang diambil harus merepresentasikan fakta, tidak menyesatkan, dan disertai keterangan yang jelas. Termasuk perlu memahami teknik captioning yang tepat agar pesan visual sampai ke pembaca dengan benar dan tidak memicu kesalahpahaman.
Dengan kemampuan mengabadikan dan menyebarkan momen secara cepat melalui storytelling photo, anggota KIM bukan hanya menjadi penyampai informasi, tetapi juga penguat identitas lokal, perekat kebersamaan, dan penjaga narasi positif tentang daerahnya.
(Res)












