Surabaya, Analisapublik.id – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 menunjukkan bahwa matematika masih menjadi tantangan dalam capaian akademik murid.
Pada jenjang SMP/MTs sederajat, rata-rata nasional TKA Matematika berada pada angka 40,34, jauh di bawah Bahasa Indonesia yang mencapai 60,83.
Pada jenjang SD/MI sederajat, rata-rata Matematika sebesar 43,41, sedangkan Bahasa Indonesia mencapai 60,14.
Angka tersebut tidak seharusnya menjadi vonis bahwa murid Indonesia tidak mampu matematika, tetapi dapat dipandang sebagai cermin untuk melihat kemampuan yang telah dikuasai sekaligus bagian pembelajaran yang masih perlu diperkuat.
Persoalan yang lebih penting bukan sekadar mengapa nilai matematika rendah, melainkan mengapa setelah bertahun-tahun mempelajari matematika, sebagian murid masih kesulitan menggunakan matematika sebagai cara berpikir.
Selama ini, matematika sering dipahami sebagai kumpulan rumus, prosedur, dan langkah penyelesaian.
Murid terbiasa mencari jawaban akhir, padahal dalam kehidupan nyata seseorang harus terlebih dahulu memahami masalah, menentukan informasi yang relevan, memilih strategi, memberikan alasan, dan memeriksa apakah hasilnya masuk akal.
Kerangka TKA Matematika SMP sendiri tidak hanya menekankan kemampuan menghitung, tetapi juga memahami, mengaplikasikan, dan melakukan penalaran.
Soal dapat menuntut murid memodelkan, menginterpretasikan, menganalisis, memecahkan masalah, mengevaluasi, dan memberikan justifikasi matematis.
Dengan demikian, tantangan matematika bukan hanya apakah murid mampu menghitung, tetapi apakah mereka memahami mengapa suatu perhitungan dilakukan dan dapat mempertanggungjawabkan prosesnya.
Pembelajaran matematika perlu diarahkan pada perubahan yang sederhana tetapi mendasar.
Guru tidak selalu harus memberikan lebih banyak soal karena satu soal yang dibahas secara mendalam dapat lebih bermakna daripada banyak soal yang hanya mengejar kecepatan.
Pertanyaan seperti “Mengapa kamu memilih cara itu?”, “Apakah ada cara lain?”, dan “Bagaimana kamu tahu jawabanmu benar?” dapat mendorong murid merefleksikan proses berpikirnya.
Matematika juga perlu dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari melalui konteks seperti membaca grafik, membandingkan harga, menghitung kebutuhan bahan, menganalisis data, atau memperkirakan luas dan volume.
Dengan demikian, murid memahami bahwa angka bukan sekadar simbol, melainkan alat untuk memahami keadaan dan mengambil keputusan.
Kesalahan pun perlu dipandang sebagai bagian dari proses belajar.
Jawaban yang salah dapat menjadi kesempatan bagi guru untuk mengetahui bagaimana murid berpikir, bukan sekadar alasan untuk memberikan tanda silang.
Demikian pula, murid perlu dibiasakan membaca dan memahami persoalan sebelum menghitung, menentukan data yang diperlukan, memahami hubungan antarangka, serta menemukan apa yang sebenarnya ditanyakan.
Hasil TKA juga perlu dibaca secara hati-hati karena rata-rata nasional tidak menggambarkan kemampuan setiap anak secara individual.
Capaian antardaerah pun dapat berbeda.
Karena itu, data TKA sebaiknya tidak digunakan untuk mencari pihak yang harus disalahkan, melainkan sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki pembelajaran.
TKA seharusnya tidak membuat sekolah hanya memperbanyak try out.
Jika latihan hanya membuat murid semakin hafal pola soal tanpa mampu menjelaskan alasan di balik jawabannya, sekolah mungkin sedang mempersiapkan anak menghadapi tes, bukan kehidupan.
Matematika semestinya menjadi ruang untuk bertanya, mencoba, memperbaiki strategi, membaca data, menemukan pola, memberikan alasan, dan mengambil keputusan.
Pada akhirnya, matematika tidak berhenti ketika murid menuliskan jawaban di lembar ujian.
Matematika benar-benar hidup ketika seorang anak mampu memahami masalah, membaca informasi, berpikir jernih, memilih strategi, mempertanggungjawabkan jawabannya, dan menyadari ketika jawabannya tidak masuk akal.
Jika TKA adalah cermin, maka yang perlu dilakukan bukan sekadar memoles cerminnya, tetapi memperbaiki apa yang tercermin di dalamnya.
Oleh: Hayatun Nufus
(Mahasiswa Pascasarjana Pedagogi UMM, Guru SMP Muhammadiyah 13)






