Pendidikan

Menguji “Grit” Belajar Murid Gen Z di Surabaya

5668
×

Menguji “Grit” Belajar Murid Gen Z di Surabaya

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, ANALISA PUBLIK — Berjalan di koridor sekolah-sekolah Surabaya hari ini menghadirkan pemandangan yang jauh berbeda dibandingkan era 2000-an.

Dulu, ketika akses internet belum semudah sekarang, mencari jawaban atas persoalan pelajaran membutuhkan proses yang relatif panjang. Buku paket dibuka lembar demi lembar, perpustakaan menjadi tempat berburu referensi, sementara diskusi dengan teman atau guru menjadi jalan ketika sebuah soal tak kunjung terpecahkan.

Kini situasinya berubah.

Mesin pencari, video pembelajaran, aplikasi pendidikan, hingga kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mampu menghadirkan informasi dan berbagai alternatif jawaban hanya dalam hitungan detik.

Sebagai guru Kimia yang tumbuh pada masa ketika proses belajar masih sangat bergantung pada buku dan kini mengajar murid-murid Gen Z di Surabaya, saya kerap berada di antara dua perasaan: kagum sekaligus khawatir.

Saya kagum karena mereka memiliki akses terhadap pengetahuan dengan kecepatan yang dahulu sulit dibayangkan.

Namun, ada pertanyaan yang menurut saya jauh lebih penting:

Di tengah semakin mudahnya memperoleh jawaban, apakah ketangguhan menjalani proses belajar juga ikut bertumbuh?

Dalam psikologi pendidikan, istilah grit kerap digunakan untuk menggambarkan ketekunan dan konsistensi seseorang dalam mengejar tujuan jangka panjang. Bukan sekadar mampu mengerjakan sesuatu ketika terasa mudah, tetapi juga kemampuan untuk tetap berusaha ketika berhadapan dengan kesulitan, kegagalan, bahkan proses yang membosankan.

Persoalan inilah yang mulai terasa nyata di ruang kelas.

Beberapa waktu lalu, seorang rekan pendidik di Surabaya bercerita kepada saya. Ia melihat murid-murid mampu menyelesaikan tugas proyek dengan cepat dan menyajikannya secara menarik berkat bantuan berbagai teknologi.

Masalah muncul ketika guru mulai menguji pemahaman di balik tugas tersebut.

“Anak-anak sekarang kalau diberi tugas proyek, tampilannya memang estetik dan pengerjaannya cepat sekali lewat bantuan AI. Tetapi ketika konsep dasarnya ditanyakan lebih dalam, sebagian masih gagap. Mereka cepat menemukan jawaban, tetapi kadang cepat menyerah ketika bertemu soal yang membutuhkan ketelitian lebih,” katanya.

Pengalaman serupa juga saya temukan dalam pembelajaran Kimia.

Ketika bentuk soal menyerupai contoh yang mudah ditemukan di internet, sebagian murid dapat menyelesaikannya dengan cepat. Namun, ketika angka, kondisi, atau pola pertanyaan sedikit diubah sehingga membutuhkan analisis lebih panjang, terkadang muncul respons:

“Duh Pak, susah. Tidak ada di Google.”

Kalimat sederhana itu layak direnungkan.

Persoalannya bukan Google. Bukan pula AI ataupun teknologi.

Persoalan muncul ketika alat untuk mencari jawaban perlahan menggantikan proses membangun cara berpikir.

Tentu, generasi sebelumnya tidak otomatis lebih pintar atau lebih tangguh dibandingkan Gen Z. Membandingkan generasi secara hitam-putih justru berisiko menyederhanakan persoalan.

Namun, keterbatasan teknologi pada masa lalu membuat pelajar relatif lebih sering berhadapan dengan proses yang tidak instan.

Mencari sebuah rumus, memahami reaksi redoks, atau menemukan referensi Kimia Organik membutuhkan waktu. Salah menghitung berarti harus mengulang. Tidak memahami materi berarti membaca kembali, berdiskusi, atau bertanya kepada guru.

Proses itu terkadang melelahkan dan membosankan. Tetapi di dalamnya terdapat latihan kesabaran, konsentrasi, ketelitian, kemampuan memecahkan masalah, sekaligus keberanian menghadapi kegagalan.

Hari ini tantangannya berbeda.

Gen Z tumbuh dalam ekosistem ketika informasi tersedia hampir tanpa batas. Mereka terbiasa bergerak cepat dari satu informasi menuju informasi lainnya. Dalam banyak hal, kemampuan tersebut justru menjadi modal penting untuk menghadapi perubahan dunia kerja dan perkembangan teknologi.

Future of Jobs Report 2025 dari World Economic Forum menunjukkan keterampilan teknologi seperti AI dan big data, jaringan dan keamanan siber, serta literasi teknologi diproyeksikan semakin penting.

Pada saat bersamaan, kemampuan manusia seperti berpikir analitis, berpikir kreatif, resiliensi, fleksibilitas, rasa ingin tahu, serta kemauan belajar sepanjang hayat juga tetap menjadi kompetensi penting menghadapi perubahan dunia kerja.

Artinya, masa depan tidak hanya membutuhkan manusia yang mampu mengoperasikan teknologi.

Masa depan membutuhkan manusia yang mampu berpikir bersama teknologi.

Karena itu, kurang tepat apabila persoalan pendidikan disederhanakan menjadi pertarungan antara generasi analog dan generasi digital.

Generasi dahulu tidak selalu lebih unggul.

Gen Z juga tidak otomatis lebih lemah.

Yang berubah adalah ekosistem belajarnya.

Jika murid hanya dibekali kecanggihan digital tanpa ketangguhan menjalani proses, kita berisiko menghasilkan generasi yang cepat memperoleh jawaban, tetapi kehilangan arah ketika jawaban tidak tersedia.

Sebaliknya, apabila sekolah menolak perkembangan teknologi dan mempertahankan pola belajar lama secara kaku, peserta didik justru berpotensi kehilangan kesempatan mengembangkan kompetensi yang dibutuhkan dunia modern.

Di sinilah tantangan guru hari ini.

Bukan melarang gawai.

Bukan pula memusuhi AI.

Tugas pendidik adalah memastikan teknologi berfungsi sebagai alat bantu berpikir, bukan pengganti berpikir.

Dalam pembelajaran Kimia, misalnya, murid dapat diberikan ruang menggunakan gawai atau AI untuk mencari referensi, membandingkan jawaban, atau mengeksplorasi suatu konsep. Namun setelah itu, mereka tetap harus mampu menjelaskan proses berpikirnya.

Mengapa rumus tersebut digunakan?

Bagaimana sebuah kesimpulan diperoleh?

Apa yang terjadi apabila variabelnya berubah?

Bisakah jawaban tersebut diterangkan kembali di papan tulis tanpa bergantung pada layar?

Di titik itulah teknologi dan grit dapat dipertemukan.

AI boleh membantu menawarkan alternatif penyelesaian, tetapi murid tetap harus menguji logikanya. Mesin pencari boleh menyediakan informasi, tetapi peserta didik harus mampu menilai apakah informasi tersebut benar dan relevan.

Teknologi boleh mempercepat pekerjaan, tetapi proses memahami tidak boleh ikut dipangkas.

Sebab pendidikan bukan perlombaan mencari siapa yang paling cepat memperoleh jawaban.

Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang memahami mengapa sebuah jawaban dianggap benar.

Pada akhirnya, mutu pendidikan di Surabaya tidak dapat hanya diukur dari seberapa canggih perangkat yang tersedia di ruang kelas atau seberapa cepat peserta didik menguasai teknologi terbaru.

Ada sesuatu yang lebih mendasar: daya tahan untuk belajar.

Grit tidak lahir dari tombol copy-paste. Ia tumbuh ketika seorang murid bersedia berhadapan dengan soal yang sulit, melakukan kesalahan, memperbaikinya, mencoba kembali, lalu akhirnya memahami.

Di tengah derasnya perkembangan AI dan digitalisasi pendidikan, inilah pekerjaan rumah kita bersama.

Jangan sampai sekolah hanya melahirkan generasi yang semakin mahir menggunakan layar, tetapi kehilangan keberanian ketika harus melewati proses panjang.

Biarkan Gen Z tetap tumbuh sebagai generasi yang cepat, adaptif, dan cerdas digital.

Namun, pastikan mereka juga menjadi generasi yang tidak mudah menyerah ketika Google tidak menyediakan jawabannya.

Oleh: Dhigi Yhogi Dewangga
Mahasiswa S2 Magister Pedagogi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Guru Kimia SMA Muhammadiyah 4 Surabaya

 

Editor: Rijen Senario

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.