Gaya HidupHeadlinePemerintahan

Konversi Lahan Jadi Penyebab Utama Banjir di Bali, Hutan Lenyap Ratusan Hektare

×

Konversi Lahan Jadi Penyebab Utama Banjir di Bali, Hutan Lenyap Ratusan Hektare

Sebarkan artikel ini

Denpasar,  – Menteri Lingkungan Hidup, Hanif Faisol Nurofiq, mengungkapkan penyebab utama banjir besar di Bali adalah alih fungsi lahan yang sudah terjadi sejak lama. Ia menyebut, tutupan hutan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) di Bali kian menipis akibat konversi lahan.

​Menurut Hanif, sejak 2015 hingga 2024, setidaknya 459 hektare lahan hutan di Bali telah berubah menjadi lahan non-hutan. Angka ini mungkin kecil untuk pulau lain, namun sangat besar untuk Bali.

​Sebagai contoh, DAS Ayung yang total luasnya 49.500 hektare, kini hanya memiliki tutupan pohon sekitar 1.500 hektare atau hanya 3 persen. Padahal, tutupan hutan idealnya adalah 30 persen untuk menahan air sungai di bawahnya.

​Lahan hutan yang hilang ini beralih fungsi menjadi lahan pertanian, perkebunan, dan yang paling masif adalah pemukiman. Perubahan lanskap ini sudah terjadi jauh sebelum pemerintahan Gubernur Wayan Koster.

​Menyikapi kondisi ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemerintah Provinsi Bali sepakat untuk mengembalikan fungsi DAS ke kondisi idealnya. Hal ini penting dilakukan mengingat bencana hidrometeorologi serupa bisa terjadi lagi akibat perubahan iklim global.

​Upaya yang akan dilakukan antara lain reforestasi dan revegetasi, serta peninjauan kembali sedimentasi sepanjang DAS. Selain itu, pengawasan ketat akan diberlakukan untuk menghindari konversi lahan yang tidak diperlukan. Menteri Hanif secara khusus menyoroti maraknya pembangunan vila dan penginapan yang dapat mengganggu daya serap air.

​”Alam sudah mengalibrasi dengan hujan yang ekstrem. Hujan intensitas tinggi 245,75 mm dalam satu hari tidak sejalan dengan kondisi DAS saat ini,” ujarnya.

​Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan kesiapannya untuk melakukan upaya pencegahan dan penelusuran. Ia menekankan pentingnya menjaga alam dari hulu hingga hilir agar tidak mengancam masa depan. Bencana banjir ini menjadi pelajaran berharga bagi Pemprov Bali untuk lebih bertanggung jawab dalam menjaga lingkungan.( w/ar)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.