SURABAYA, ANALISAPUBLIK.ID- Rais Syuriah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Surabaya KH Ahmad Dzulhilmi Ghozali menegaskan bahwa kekuatan Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya bertumpu pada jajaran pengurus struktural. Menurutnya, warga dan tokoh NU kultural memiliki peran penting dalam menjaga, merawat, hingga meredam berbagai dinamika yang terjadi di tubuh organisasi.
Pernyataan itu disampaikan KH Ahmad Dzulhilmi Ghozali saat menghadiri kegiatan turun ke bawah (turba) PCNU Kota Surabaya di Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Tenggilis Mejoyo, Sabtu (22/8/2026).
Dalam kegiatan tersebut, KH Ahmad Dzulhilmi didampingi Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya H. Masduki Toha. Turba menjadi bagian dari agenda PCNU Surabaya masa khidmat 2024–2029 untuk menyapa dan memperkuat konsolidasi organisasi di 31 MWCNU yang tersebar di seluruh kecamatan di Kota Surabaya.
KH Ahmad Dzulhilmi mengaku bangga karena kegiatan turba di Tenggilis Mejoyo mendapat sambutan luas dari jajaran pengurus maupun warga Nahdliyin.
Menurutnya, NU sejak awal didirikan dan dirawat oleh para ulama serta kiai. Karena itu, perjalanan jam’iyah tidak semata-mata dijalankan oleh mereka yang tercatat dalam struktur kepengurusan.
“Jalannya NU dijalankan oleh seluruh warga Nahdliyin, baik yang berada di struktural maupun yang di luar struktural. Banyak yang tidak masuk struktur tetapi tetap mengurus, memikirkan dan berjuang untuk NU,” kata KH Ahmad Dzulhilmi.
Ia menilai keberadaan kelompok NU kultural terkadang kurang mendapat perhatian dari pengurus struktural. Padahal, kontribusi mereka sangat besar dalam menjaga tradisi, jaringan sosial, serta kebersamaan warga Nahdliyin di tengah berbagai dinamika organisasi.
KH Ahmad Dzulhilmi kemudian menyinggung dinamika menjelang Muktamar NU. Menurut dia, dalam situasi ketika muncul perbedaan pandangan maupun tarik-menarik kepentingan, NU kultural memiliki posisi strategis sebagai kekuatan yang mampu menjaga kesejukan dan persatuan.
“NU kultural mempunyai peran penting dalam meredam gonjang-ganjing yang terjadi. Mereka tetap memikirkan bagaimana NU ini tetap utuh dan berjalan dengan baik,” ujarnya.
Ia mencontohkan sosok ulama besar Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani, ulama kelahiran Makkah yang memiliki garis keturunan Nusantara. Ulama besar asal Minangkabau yang menjadi tokoh sentral dan rujukan penting bagi warga serta para kiai Nahdlatul Ulama (NU) di abad ke-20.
Meski tidak selalu berada dalam struktur formal organisasi, menurut KH Ahmad Dzulhilmi, perhatian dan kontribusi Syekh Muhammad Yasin Al-Fadani terhadap perkembangan NU serta jaringan keilmuan Nusantara menjadi gambaran kuatnya peran kalangan kultural.
KH Ahmad Dzulhilmi menekankan bahwa kader dan warga NU yang tersebar di berbagai lapisan masyarakat harus terus dirawat. Mereka, kata dia, merupakan bagian tidak terpisahkan dari kekuatan besar jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Ia juga menyinggung kesepakatan mengenai Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi Muktamar NU. Menurutnya, kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa komunikasi dan kebersamaan di kalangan Nahdliyin mampu meredakan tarik-menarik pandangan yang sebelumnya muncul.
“Yang awalnya terjadi tarik-menarik mengenai tempat, akhirnya bisa kompak di Tambakberas, Jombang. Ini juga tidak lepas dari kekuatan dan komunikasi NU kultural,” katanya.
Sementara itu, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Surabaya H. Masduki Toha mengatakan kegiatan turba merupakan bagian dari upaya PCNU Surabaya memperkuat komunikasi dengan pengurus MWCNU, ranting, badan otonom, serta warga Nahdliyin di tingkat kecamatan dan kelurahan.
Melalui turba ke 31 MWCNU, PCNU Surabaya berharap hubungan antara struktur organisasi dan warga NU kultural semakin erat sehingga seluruh elemen Nahdliyin dapat bersama-sama menjaga soliditas, tradisi, dan khidmat organisasi di tengah dinamika yang berkembang.







