EkbisGaya HidupHeadlinePemerintahan

Dorong UMKM Trenggalek Naik Kelas, Novita Hardini Tekankan Transformasi Menuju IKM Hijau

194
×

Dorong UMKM Trenggalek Naik Kelas, Novita Hardini Tekankan Transformasi Menuju IKM Hijau

Sebarkan artikel ini

Trenggalek, analisapublik.id-Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Novita Hardini, mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya di Trenggalek, Jawa Timur, untuk naik kelas menjadi Industri Kecil Menengah (IKM) hijau dengan fokus pada pengelolaan limbah.

​Novita menjelaskan, upaya peningkatan kelas ini dilakukan melalui program pendampingan pengolahan limbah, hasil sinergi dengan Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Surabaya, Kementerian Perindustrian.

​”Hari ini kita melihat Aby Culinary bukan hanya UMKM yang berkembang, tetapi sudah naik kelas menjadi IKM hijau karena mampu mengolah limbah menjadi nilai ekonomis,” ujar Novita saat meninjau Aby Culinary, IKM percontohan yang berhasil bertransformasi, pada Senin (17/11).

​IKM tersebut merupakan produsen olahan ikan yang kini sukses memanfaatkan limbah tulang dan kulit ikan menjadi produk bernilai tambah, salah satunya sebagai bahan pakan ternak.

​Menurut Novita, transformasi usaha ini adalah wujud sinergi multi-pihak. Ia juga menegaskan bahwa pengelolaan limbah adalah aspek krusial dalam pembangunan ekonomi jangka panjang. “Kita tidak bisa hanya memikirkan keuntungan lima atau sepuluh tahun ke depan tanpa memikirkan dampaknya bagi generasi berikutnya. Program ini memastikan ekonomi tumbuh tanpa merusak lingkungan,” tegasnya.

​Limbah Jadi Komoditas Ekonomi

​Kepala BSPJI Surabaya, Ransi Pasae, menambahkan bahwa pendampingan yang diberikan meliputi pelatihan pengolahan limbah, peningkatan kualitas produk, hingga bantuan peralatan untuk mengubah tulang ikan menjadi pasta pakan ternak. Peralatan ini sekaligus memfasilitasi UMKM untuk meningkatkan nilai tambah dan omzet.

​”Awalnya limbah ikan dianggap tidak bermanfaat dan justru mencemari lingkungan. Setelah diolah, limbah ini berubah menjadi komoditas ekonomi. Ini yang ingin kami kembangkan,” kata Ransi.

​Ia memuji Aby Culinary sebagai contoh IKM progresif yang menunjukkan inovasi dan semangat belajar, bahkan aktif mencatat riset dan referensi pengembangan.

​Pemilik Aby Culinary, Sri Utami Dewi, menceritakan bahwa usahanya yang berdiri sejak 2017 ini sangat terbantu oleh program pembinaan, terutama program DAPATI dari Kementerian Perindustrian.

​“Dulu limbah ikan menjadi masalah karena tidak tahu harus bagaimana mengolahnya. Setelah bertemu BSPJI dan mendapatkan pendampingan, semua limbah kini bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi,” ungkap Sri Utami.

Ia berharap UMKM lain terus berinovasi dan belajar karena “Pasar selalu berubah. Kuncinya terus belajar, mengikuti pelatihan, dan memperkuat strategi pemasaran.” ( wa/ar)