Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan
Selasa, 29 September 2026
Ada benda yang menarik karena keindahannya. Ada pula benda yang membuat kita berhenti lebih lama karena menyisakan banyak pertanyaan.
Pedang Garuda termasuk yang kedua.
Benda yang disebut memiliki panjang sekitar 88 sentimeter dan berat sekitar 8 kilogram itu mempunyai karakter visual tidak biasa. Bagian kepalanya menyerupai Garuda dan menyatu dengan tubuh menyerupai bilah. Permukaannya memperlihatkan guratan, bercak, retakan, tekstur memanjang, hingga lapisan yang berbeda dari pedang tempa pada umumnya.
Keunikan inilah yang memunculkan pertanyaan: bagaimana benda tersebut dibuat?
Budayawan keris asal Aeng Tong Tong, Sumenep, Rikno Ariadi, mengaku pernah menanyakan kemungkinan pembuatan ulang Pedang Garuda kepada sejumlah perajin pusaka di Madura. Menurutnya, hingga kini ia belum menemukan perajin maupun empu muda yang mampu menghasilkan duplikat dengan karakter benar-benar sama.
Keterangan lain datang dari Damar, keturunan empu asal Sumenep yang memperoleh pengetahuan kepusakaan dari tradisi keluarganya.
Damar bukan pembuat Pedang Garuda tersebut.
Berdasarkan pengetahuan yang diwarisinya, ia meyakini benda itu telah ada sejak masa nenek moyang. Ia menyebut Pedang Garuda sebagai sebuah mahakarya, terutama karena bentuk, karakter material, lapisan logam, dan dugaan teknik penempaannya.
Namun di sinilah batas antara cerita dan pembuktian harus ditegaskan.
Dugaan bahwa materialnya berasal dari meteorit, proses pembuatannya menggunakan temperatur sangat tinggi, usianya sangat tua, maupun siapa pembuatnya belum dapat dinyatakan sebagai fakta tanpa penelitian ilmiah.
Karena itu, Pedang Garuda semestinya tidak berhenti menjadi cerita.
Analisis metalurgi dapat mengungkap komposisi dan struktur logam. Kajian geologi dapat menguji dugaan material meteorit. Arkeologi dapat membantu melihat konteks sejarahnya, sementara konservator dan ahli pusaka dapat membaca jejak proses pembuatannya.
Persoalannya menjadi semakin menarik ketika cerita Pedang Garuda bersinggungan dengan Pulau Bawean dan Atlantis.
Salah satu hipotesis yang pernah dikemukakan Dhani Irwanto menempatkan Atlantis di kawasan Laut Jawa. Namun keberadaan maupun lokasi Atlantis hingga kini belum dapat dipastikan secara ilmiah.
Karena itu, saya kira pertanyaan kita tidak perlu buru-buru diarahkan pada kesimpulan bahwa Pedang Garuda mempunyai hubungan dengan Atlantis.
Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: seberapa banyak jejak peradaban masa lalu Nusantara yang sebenarnya belum pernah kita teliti secara serius?
Saya tidak ingin menciptakan kesimpulan sebelum bukti berbicara.
Sebab sebuah pusaka tidak akan kehilangan nilainya ketika diuji ilmu pengetahuan. Justru penelitian dapat memisahkan mana fakta, tradisi lisan, interpretasi, dan hipotesis.
Benarkah Pedang Garuda mengandung material meteorit? Siapa pembuatnya? Berapa sebenarnya usianya? Bagaimana teknologi pembuatannya? Apa hubungannya dengan Bawean, dan mengapa Atlantis kemudian ikut muncul dalam kisahnya?
Bagi saya, nilai terbesar Pedang Garuda bukan terletak pada seberapa besar legenda yang dapat kita bangun di sekelilingnya, melainkan seberapa jauh kita berani membuktikan sejarah sebenarnya.
Pedang Garuda masih menyimpan misteri.Bersambung…






