Oleh: H. Muhajir Wahyu Ramadhan
Setiap kemarau datang, cerita yang kita dengar hampir selalu sama. Sumur surut, mata air mengecil, warga membawa jeriken, kemudian truk tangki datang mengantarkan air bersih.
Bantuan itu tentu sangat berarti. Ketika kekeringan terjadi, satu tangki air menyangkut kebutuhan paling dasar: minum, memasak, mandi, hingga menopang kehidupan sehari-hari.
Namun pertanyaannya sederhana: sampai kapan masyarakat harus menunggu truk tangki setiap musim kemarau?
Memasuki September 2026, sebanyak 24 kabupaten/kota di Jawa Timur telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Potensinya bahkan dapat menjangkau 29 daerah.
Di Kabupaten Blitar, Sabtu, 5 September 2026, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyalurkan 120 rit air bersih untuk membantu 38.270 kepala keluarga atau 98.946 jiwa terdampak kekeringan di tujuh kecamatan.
Langkah darurat seperti itu memang harus dilakukan. Warga yang membutuhkan air hari ini tentu tidak mungkin diminta menunggu pembangunan jaringan perpipaan selesai tahun depan.
Tetapi bantuan darurat tidak boleh berubah menjadi jawaban permanen.
Truk tangki adalah solusi ketika krisis terjadi. Ketahanan air adalah solusi agar krisis yang sama tidak terus berulang.
Jika wilayah rawan kekeringan sudah dapat dipetakan setiap tahun, pemerintah semestinya memiliki peta jalan yang jelas. Desa mana yang berulang kali kekurangan air? Dari mana sumber air bakunya? Apakah membutuhkan jaringan perpipaan, embung, reservoir, sumur dalam berdasarkan kajian teknis, penguatan sistem penyediaan air minum, atau perlindungan sumber mata air?
Jangan sampai penanganan kekeringan sekadar menjadi rutinitas tahunan: kemarau datang, status darurat ditetapkan, air dikirim, hujan turun, lalu persoalan dianggap selesai. Tahun berikutnya, cerita serupa kembali terulang.
Ketahanan air harus ditempatkan sebagai agenda pembangunan jangka panjang. Bendungan, embung, jaringan perpipaan, instalasi pengolahan air, perlindungan mata air hingga kawasan resapan pada akhirnya harus diukur dengan satu pertanyaan: apakah masyarakat semakin mudah mendapatkan air bersih yang layak dan berkelanjutan?
Khofifah juga mengajak masyarakat melaksanakan Salat Istisqa sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan. Ikhtiar spiritual tentu memiliki tempat. Kita berharap hujan segera turun.
Namun setelah doa dipanjatkan, pekerjaan di bumi tidak boleh berhenti.
Hujan mungkin mengakhiri kekeringan tahun ini. Tetapi tanpa perencanaan yang matang, kemarau berikutnya dapat kembali membawa masyarakat menghadapi persoalan yang sama.
Air terlalu penting untuk baru dibicarakan ketika sumur telah kering.
Salat Istisqa adalah ikhtiar mengetuk pintu langit. Memastikan rakyat memiliki akses air yang layak dan berkelanjutan adalah pekerjaan yang harus kita tuntaskan di bumi.
— ABAHTINDIK






