SIDOARJO, ANALISAPUBLIK.ID – Kasus dugaan keracunan yang dikaitkan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo, terus berkembang. Hingga Rabu (2/9/2026), sebanyak 566 siswa dan santri tercatat mengalami keluhan kesehatan.
Bupati Sidoarjo H. Subandi, S.H., M.Kn., memastikan tidak ada korban meninggal dunia. Pemerintah Kabupaten Sidoarjo juga terus memaksimalkan pelayanan kesehatan bagi seluruh korban.
Subandi sebelumnya turun langsung memantau kondisi santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Selasa malam (1/9/2026).
Ia didampingi Dandim 0816/Sidoarjo Letkol Inf Abraham Prihadi, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing dan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Sidoarjo Eri Sudewo.
Rombongan mendatangi pesantren sebelum meninjau pasien di RSUD R.T. Notopuro, RSI Siti Hajar dan RS Delta Surya.
“Tidak ada yang meninggal. Semua pasien sudah tertangani dengan baik. Kalau ada berita yang menyebut ada yang meninggal, itu tidak benar. Kami sudah memastikan dan mengecek langsung kondisi para santri di rumah sakit,” tegas Subandi.
Pada Selasa malam, sedikitnya 273 santri mendapatkan penanganan medis. Jumlah tersebut kemudian meningkat setelah laporan siswa dan santri dengan keluhan serupa terus bertambah.
88 Pasien Masih Dirawat
Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo pada Rabu mencatat total 566 orang terdampak, dengan keluhan antara lain mual, pusing dan gangguan pencernaan.
Sebanyak 88 pasien masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit. Kondisi mereka dilaporkan stabil.
Kasus tidak hanya ditemukan di Pondok Pesantren Mambaul Hikam. Sejumlah siswa dari lembaga pendidikan lain juga dilaporkan mengalami keluhan setelah menerima makanan yang disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.
“Kami berkoordinasi dengan semua rumah sakit untuk melakukan penanganan dan memberikan pelayanan semaksimal mungkin,” kata Subandi.
Penyebab Masih Diselidiki
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr. Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan sampel terkait makanan yang dikonsumsi para siswa telah dibawa untuk pemeriksaan laboratorium.
Hasil pengujian diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Karena itu, keterkaitan langsung makanan MBG dengan gangguan kesehatan ratusan siswa dan santri belum dapat dipastikan.
Subandi meminta evaluasi menyeluruh terhadap bahan makanan, proses pengolahan, penyajian hingga perizinan penyedia.
Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah selama proses evaluasi dan investigasi berlangsung.
Wakil Koordinator BGN Regional Jawa Timur Teguh Bayu Wibowo menyatakan fasilitas SPPG, termasuk sarana-prasarana dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), turut diperiksa.
Penghentian sementara tersebut belum menjadi bukti bahwa makanan dari SPPG Kalitengah merupakan penyebab kejadian. Kepastian penyebab masih menunggu hasil laboratorium dan investigasi pihak berwenang.
Pemkab Sidoarjo bersama BGN, rumah sakit, aparat keamanan dan instansi terkait terus memantau kondisi pasien sekaligus menelusuri penyebab kejadian.






