Infrastruktur

BBWS Brantas Pantau 30 Titik Muka Air dan Debit di Wilayah Sungai Brantas

13
×

BBWS Brantas Pantau 30 Titik Muka Air dan Debit di Wilayah Sungai Brantas

Sebarkan artikel ini
pekerjaan monitor sungai

SURABAYA, analisapublik.id – Pemantauan tinggi muka air dan debit sungai terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi kekeringan di Wilayah Sungai Brantas. Langkah ini menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya air sekaligus mitigasi risiko bencana hidrometeorologi, terutama saat terjadi penurunan ketersediaan air.

Pemantauan dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan Acoustic Doppler Current Profiler (ADCP). Perangkat ADCP digunakan untuk mengukur kecepatan aliran air berdasarkan prinsip efek Doppler. Data tersebut kemudian dikombinasikan dengan luas penampang sungai untuk memperoleh informasi debit secara lebih akurat.

Data tinggi muka air dan debit selanjutnya menjadi dasar penyediaan informasi mengenai kondisi ketersediaan air di Wilayah Sungai Brantas. Informasi itu juga digunakan sebagai bahan pengambilan keputusan serta penentuan langkah mitigasi di lapangan apabila ditemukan indikasi penurunan debit.

Pemantauan harian dilakukan pada 30 titik. Rinciannya, 24 Pos Duga Air (PDA) dikelola Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas, sedangkan enam titik lainnya berupa pintu air dan bendung dikelola Perum Jasa Tirta I.

Baca Juga:  8.000 Liter Air Bersih Disalurkan, BBWS Brantas Jangkau 1.050 Warga Terdampak Kekeringan di Blitar

Berdasarkan hasil pemantauan pada 23 Agustus 2026, status kekeringan di PDA BBWS Brantas menunjukkan satu titik berstatus Awas, dua titik Siaga, 12 titik Waspada, dan sembilan titik masih berada dalam kondisi Normal.

Selain itu, tren penurunan debit tercatat pada empat PDA milik BBWS Brantas dan tiga pintu air maupun bendung yang dikelola Perum Jasa Tirta I. Titik tersebut meliputi PDA Brantas-Jatimlerek, PDA Dawir-Betak, PDA Catak Banteng-Selorejo, PDA Sampean-Pejaten, Bendung Lodoyo, Bendung Gerak Waru Turi Mrican, serta Pintu Air Mlirip.

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penurunan debit dapat memengaruhi ketersediaan air apabila berlangsung berkelanjutan. Karena itu, pemantauan intensif diperlukan untuk memastikan perubahan kondisi sungai dapat terdeteksi lebih cepat, sekaligus menjadi dasar menyiapkan langkah mitigasi terhadap kemungkinan defisit air di wilayah terdampak.

Pemantauan berkala juga memungkinkan pengelola membandingkan perubahan debit antarperiode, sehingga langkah antisipasi dapat disiapkan lebih terukur sesuai kondisi masing-masing titik pemantauan di lapangan setempat.

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.