BALIKPAPAN, ANALISAPUBLIK.ID – Cara unik dilakukan Wildan Abadi dalam menyambut Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Pengemudi taksi daring sekaligus pengurus Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PCNU Kota Balikpapan itu memilih menempuh perjalanan dengan mengayuh sepeda onthel dari Balikpapan menuju Jombang.
Wildan diberangkatkan dari Kantor PCNU Kota Balikpapan, Minggu (23/8/2026) sore. Ia diperkirakan tiba di lokasi Muktamar NU pada Rabu (26/8/2026) sore.
Pelepasan dilakukan Katib PWNU Kalimantan Timur KH Mukhlasin bersama Rais Syuriah PCNU Kota Balikpapan KH Taufik Syahrul.
Ketua Tanfidziyah PCNU Balikpapan KH Muslih Umar mengapresiasi tekad Wildan menempuh perjalanan menuju Tambakberas dengan sepeda.
“Saya merekomendasikan untuk dikawal oleh teman Banser dari Graha PCNU Balikpapan ke Pelabuhan Semayang,” ujar Muslih.
Menurut dia, perjalanan tersebut juga membawa nama PCNU Kota Balikpapan karena Wildan tercatat sebagai pengurus Lesbumi, salah satu lembaga di bawah naungan PCNU Balikpapan.
“Ngonthel ini secara umum membawa nama PCNU Kota Balikpapan karena Lesbumi adalah salah satu lembaga di bawah naungan PCNU Balikpapan,” imbuhnya.
Dalam perjalanan, Wildan didampingi Ferry Yuda, seorang dalang wayang yang juga dikenal aktif dalam lingkungan pesantren di Balikpapan.
Selain menuju Tambakberas, Wildan merencanakan sejumlah ziarah ke tempat yang memiliki nilai sejarah bagi NU. Di antaranya makam KH Hasan Gipo, Ketua PBNU periode pertama, serta makam pendiri NU KH Hasyim Asy’ari di Tebuireng, Jombang.
“Nanti juga akan ziarah ke makam KH Hasan Gipo sebagai Ketua PBNU periode pertama, menginap di Kantor PBNU pertama di Surabaya dan ziarah ke makam pendiri NU KH Hasyim Asy’ari,” tutur Wildan.
Wildan juga berharap dapat bersilaturahmi dengan Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. Ia mengaku pernah bekerja di PT Bama Bumi Sentosa yang dipimpin KH Abdul Hakim Mahfudz.
“Semoga nanti bisa juga sowan ke beliau saat ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari,” katanya.
Pria kelahiran 20 November 1986 tersebut memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Ia pernah menimba ilmu di Pesantren Al-Basyiriyah Bojonegoro dan Pondok Bustanu Usyaqil Qur’an Kudus.
Ide bersepeda menuju Jombang, menurut Wildan, muncul dua hari setelah Tambakberas ditetapkan sebagai lokasi Muktamar NU. Saat Katib PWNU Kaltim KH Mukhlasin menyebarkan poster bertema Lesbumi ngonthel ke Muktamar melalui grup WhatsApp, Wildan langsung menyatakan kesediaannya.
“Saya langsung jawab, saya siap kiai ngonthel ke Jombang,” ceritanya.
Keputusan menggunakan sepeda bukan tanpa alasan. Wildan mengaku telah terbiasa mengayuh sepeda untuk menjalankan aktivitas sehari-hari, termasuk ketika berangkat bekerja.
Baginya, ngonthel mengandung sejumlah pesan moral, mulai dari kesederhanaan, kebersamaan, keseimbangan, keteguhan, kesabaran, ketelatenan hingga semangat untuk terus bergerak.
Ia memaknai setiap kayuhan sebagai refleksi perjalanan para pendiri NU dalam membangun organisasi dan memberi kontribusi bagi bangsa.
“Tidak ada perjuangan yang instan. Semua melalui proses dari langkah pertama, kayuhan pertama, yang pada akhirnya menuju ribuan langkah dan kayuhan berikutnya, walau tidak jarang dalam menuju sebuah tujuan ada goyangan,” ujarnya.
Menurut Wildan, meski perkembangan transportasi semakin modern, roda sepeda tetap dapat menjadi simbol perjuangan yang terus berputar.
“Hal ini sederhana dan sangat perlu dilakukan sebagai bentuk semangat kecintaan terhadap NU,” tegasnya.
Wildan mengaku tidak melakukan persiapan khusus karena bersepeda telah menjadi bagian dari hobinya. Namun, kondisi sepeda hingga bekal perjalanan telah dipersiapkan sebelum berangkat.
“Insya Allah siap segalanya. Tentunya persiapan kami mulai dari sepeda sampai bekal untuk perjalanan sudah disiapkan, karena kebiasaan ngonthel memang hobi saya,” katanya.
Bagi Wildan, perjalanan dari Kalimantan Timur menuju Jawa Timur tersebut bukan sekadar upaya menghadiri Muktamar NU.
“Ngonthel ini bukan sekadar menuju Muktamar NU di Tambakberas, tetapi mengayuh kembali jejak perjuangan. Satu kayuhan, sejuta keberkahan. Dari Kaltim menuju Jatim mengayuh Nusantara, menuju Tambakberas merawat peradaban,” tuturnya.
Ia berharap Muktamar NU di Tambakberas mampu melahirkan arah baru organisasi tanpa meninggalkan akar sejarah dan tradisinya.
Menurut dia, NU harus mampu menjawab berbagai tantangan zaman, sekaligus tetap memperkuat umat dan keberpihakannya kepada masyarakat kecil.
“Semoga Muktamar NU Tambakberas ini menjadi muktamar yang mempersatukan, mencerahkan, menguatkan dan menggerakkan,” ujarnya.
Wildan juga berharap dari Tambakberas lahir energi baru untuk merawat kehidupan, membangun peradaban dan meneruskan perjuangan para pendiri NU.
“Muktamar bukan sekadar pergantian kepemimpinan, tetapi pergantian semangat. Bukan sekadar memilih siapa yang memimpin, tetapi menentukan ke mana NU akan melangkah, sehingga semakin besar jam’iyyahnya, semakin kuat jamaahnya, semakin dekat dengan rakyat dan semakin nyata manfaatnya bagi Indonesia dan dunia,” pungkasnya.






