Madiun, analisapublik.id – Wali Kota Madiun, Jawa Timur, Maidi, menegaskan pentingnya deteksi dini dan pendampingan intensif terhadap calon ibu sebagai kunci utama pencegahan risiko stunting pada anak sejak masa kehamilan.
Penekanan ini disampaikan Wali Kota Maidi dalam kegiatan diskusi terpumpun “Membangun Generasi Sehat dan Bebas Stunting” di UPTD Puskesmas Tawangrejo, Kota Madiun, Senin.
”Kelahiran harus sehat, tidak boleh stunting. Karena itu, bayi dalam kandungan harus dipersiapkan dengan baik, salah satunya dengan deteksi dini dan pendampingan pada calon ibu,” ujar Maidi.
Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) telah mengintensifkan upaya tersebut. Deteksi dini dilakukan dengan memastikan calon pengantin siap secara fisik dan mental sebelum menikah, demi melahirkan bayi yang sehat dan bebas dari stunting.
Pemeriksaan Kesehatan Calon Ibu:
- Tinggi badan
- Berat badan
- Lingkar lengan atas
- Hemoglobin (Hb) – untuk mendeteksi anemia
”Kalau sudah lahir dan stunting, berarti puskesmas tidak berhasil,” tegasnya, menuntut kesiapan dan target yang jelas dari semua puskesmas di Kota Madiun untuk meningkatkan kemampuan pencegahan stunting.
Selain pencegahan sejak dini, Wali Kota juga menyoroti pentingnya pola hidup aktif bagi anak, menyebut aktivitas fisik seperti bergelantungan dan berenang dapat membantu anak tumbuh lebih cepat tinggi dan sehat.
Data Stunting di Kota Madiun
Berdasarkan data Dinkes Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kota Madiun per Agustus 2025, 392 balita masih mengalami stunting.
Rincian kasus stunting berdasarkan usia (per Agustus 2025):
- Usia 0-11 bulan: 11 anak
- Usia 12-23 bulan: 73 anak
- Usia 24-35 bulan: 113 anak
- Usia 36-47 bulan: 102 anak
- Usia 48-60 bulan: 93 anak
Kesiapan seluruh puskesmas ini, lanjut Maidi, merupakan komitmen Pemkot Madiun dalam membangun generasi yang sehat, unggul, dan bebas stunting.





