Yogyakarta, analisapublik.id | Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.
Program Taruna Bhakti Sekolah Rakyat 2026 resmi dimulai. Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul memberangkatkan lebih dari 1.000 taruna Akademi TNI dan Akademi Kepolisian untuk mendampingi siswa baru selama menjalani masa adaptasi di lingkungan sekolah berasrama.
Pemberangkatan dilakukan melalui apel di Base Ops Lanud Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu (1/8/2026). Dalam program tersebut, lima taruna akan ditempatkan di setiap lokasi Sekolah Rakyat selama lima hari, bersamaan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.
Gus Ipul mengatakan para taruna dihadirkan bukan untuk menerapkan pola pendidikan militer kepada siswa. Mereka bertugas sebagai kakak pendamping sekaligus teladan dalam membangun kedisiplinan, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan mengelola kehidupan sehari-hari di asrama.
“Para taruna tahu persis rasanya jauh dari rumah, tidur bukan di kamar sendiri, dan bangun pagi tanpa disuruh orang tua. Pengalaman itulah yang perlu ditularkan kepada siswa Sekolah Rakyat,” kata Gus Ipul.
Bekali Siswa dengan Tujuh Aspek Pembinaan
Selama pendampingan, para taruna akan membantu siswa membangun kebiasaan hidup teratur, mulai dari merapikan tempat tidur dan lemari, menjaga kebersihan diri, mengikuti kegiatan kelompok, hingga berlatih baris-berbaris.
Gus Ipul menekankan tujuh aspek yang perlu diperkuat, yakni kepramukaan, pembinaan karakter dan kepribadian, wawasan nusantara, kegiatan ekstrakurikuler dan kelompok, kebersihan diri serta lingkungan asrama, bela negara, dan kegiatan keagamaan.
Menurutnya, pembinaan tersebut menjadi fondasi penting agar siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru sekaligus tumbuh sebagai pribadi yang mandiri dan percaya diri.
“Dampingi siswa Sekolah Rakyat dengan penuh empati. Jadilah kakak yang mampu memberikan contoh dan rasa aman,” ujarnya.
Usai apel, Gus Ipul bersama Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono meninjau simulasi pendampingan kepada siswa Sekolah Rakyat Menengah Atas 20 Sleman dan SRMA 43 Magelang. Simulasi meliputi penataan kamar, materi psikologi lapangan, serta latihan kedisiplinan.
Tegaskan Larangan Perundungan dan Kekerasan
Gus Ipul juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat harus menjadi ruang pendidikan yang aman dan ramah bagi seluruh peserta didik. Tidak boleh ada perundungan, kekerasan fisik maupun seksual, serta intoleransi dalam seluruh rangkaian kegiatan.
Ia menyebut ketiga hal tersebut sebagai garis merah yang tidak dapat ditoleransi. Setiap pendamping, guru, maupun pengelola sekolah wajib segera menghentikan dan menangani apabila menemukan tindakan tersebut.
Program Taruna Bhakti diharapkan membantu siswa melewati masa transisi dari lingkungan keluarga menuju kehidupan berasrama. Selain memperkuat karakter, kegiatan ini juga ditujukan untuk menumbuhkan semangat kebersamaan, kepemimpinan, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa sejak awal masa pendidikan.







