SURABAYA , analisapublik.id — Berada di kawasan pinggiran Kota Surabaya tak membuat SMA Negeri 13 Surabaya surut dalam membangun prestasi dan karakter peserta didiknya. Sekolah yang berlokasi di Kelurahan Lidah Kulon, Kecamatan Lakarsantri, itu justru mengembangkan Program Budaya Positif atau Prodasif sebagai cara membentuk kebiasaan dan karakter murid secara konsisten.
Program tersebut berjalan berlandaskan motto “SMAN 13 Surabaya HEBAT!”, akronim dari Humanis, Efektif, Berprestasi, Antusias, dan Tangguh. Tidak berhenti sebagai slogan, nilai-nilai tersebut diterjemahkan menjadi kegiatan yang menyentuh keseharian murid, mulai kedisiplinan, literasi, kepedulian lingkungan, kesehatan, hingga kegiatan kerohanian.
Prodasif diinisiasi Kepala SMAN 13 Surabaya, Mokhamad Imron, M.Pd., setelah melihat sejumlah persoalan karakter siswa pada awal masa tugasnya.
“Meskipun sekolah kami berada di kawasan pinggiran, semangat kami untuk membangun karakter murid-murid adalah prioritas utama. Karakter dan softskill merupakan roh mendasar yang mendampingi capaian akademik,” kata Imron.
Gagasan tersebut berangkat dari hasil pengamatan dan data sekolah periode Januari-April 2025. Saat itu, rata-rata tingkat keterlambatan siswa tercatat mencapai 35 persen setiap semester. Minat kunjungan dan membaca di perpustakaan berada di bawah 5 persen.
Sekolah juga menemukan persoalan daya tahan fisik dan mental. Sekitar 40 persen siswa disebut kerap meminta izin tidak mengikuti pembelajaran karena sakit ringan, yang disampaikan hanya melalui pesan WhatsApp.
Survei diagnostik terhadap 200 siswa semakin menguatkan perlunya pembenahan. Dengan skala penilaian 1-5, empati dan kepedulian sosial siswa memperoleh skor 2,5. Kesadaran terhadap kebersihan dan lingkungan berada di angka 2,8, sedangkan resiliensi fisik dan mental hanya 2,3.
Apresiasi terhadap usaha orang tua memperoleh skor 2,7. Sementara kebiasaan membaca mandiri menjadi salah satu catatan terendah dengan skor 1,9.
Dari kondisi itulah Prodasif kemudian dikembangkan sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi melalui pembiasaan yang terstruktur. Pendekatan yang digunakan tidak menitikberatkan pada hukuman, melainkan pemahaman dan kesadaran murid melalui konsep Segitiga Restitusi.
Pelaksanaannya juga diselaraskan dengan program Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat yang digagas Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Setiap pagi, kepala sekolah bersama guru piket menyambut siswa melalui budaya 7S, yakni Senyum, Sapa, Salam, Sopan, Santun, Siap Belajar, dan Semangat.
Pada Selasa hingga Kamis, setelah doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, siswa mengikuti kegiatan Limun Iman, singkatan dari Literasi Kitab Suci Memunculkan Inspirasi Mengawali Pembelajaran. Kegiatan berlangsung selama 15 menit dengan target siswa dapat menamatkan kitab suci sesuai agamanya dalam satu tahun ajaran.
Hari Senin diisi bergantian dengan gerakan membaca buku fiksi dan nonfiksi, menulis jurnal literasi, Kelas Inspirasi bersama orang tua maupun alumni berprestasi, serta Apel Disiplin Diri. Kegiatan berlangsung sekitar 45 menit sebelum pembelajaran dengan peserta bergiliran dari kelas X, XI, dan XII.
Sementara setiap Jumat, sekolah mengembangkan kegiatan lingkungan, olahraga, dan kerohanian. Siswa terlibat dalam kerja bakti, pembuatan pupuk organik dari sampah dapur, hingga program SIKAP atau Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan.
Ada pula Senam Ceria hasil kreasi siswa dan Senam Anak Indonesia Hebat. Untuk kegiatan kerohanian, siswa Muslim melaksanakan salat Dhuha berjemaah dan tausiah selama tujuh menit oleh siswa, sementara siswa agama lain mengikuti kegiatan sesuai keyakinan masing-masing.
Sekolah juga memberikan apresiasi melalui Prodasif Galas Star of the Month kepada siswa maupun kelas yang menunjukkan perkembangan karakter dan prestasi paling signifikan. Penghargaan diberikan bertepatan dengan upacara bendera setiap tanggal 17.
Perubahan perlahan terlihat. Angka keterlambatan yang sebelumnya mencapai 35 persen disebut terus menurun menuju target di bawah 10 persen. Kebiasaan membaca mandiri meningkat hingga melampaui target 60 menit per minggu, sementara ketidakhadiran akibat sakit ringan juga berkurang seiring tumbuhnya kebiasaan hidup sehat.
Dampak lain terlihat dari kondisi lingkungan sekolah. Area sekolah menjadi lebih bersih, penggunaan sampah plastik berkurang, dan vandalisme dapat ditekan. Murid juga mulai terbiasa saling mengingatkan dengan cara santun ketika menemukan temannya membuang sampah sembarangan.
Budaya membaca di perpustakaan yang sebelumnya minim perlahan kembali hidup karena kesadaran siswa sendiri.
Perubahan tersebut bahkan tidak berhenti di lingkungan sekolah. Sejumlah orang tua melaporkan perubahan kebiasaan anak di rumah. Ada siswa yang mulai terbiasa bangun pagi tanpa harus dibangunkan, lebih ringan membantu pekerjaan keluarga, merawat tanaman, mencuci kendaraan, serta lebih teratur ketika menghadapi persoalan.
Bagi SMAN 13 Surabaya, keberhasilan pendidikan pada akhirnya tidak semata-mata diukur dari nilai akademik. Pembentukan karakter, kepedulian, daya tahan, kedisiplinan, dan kemampuan berinteraksi menjadi bekal yang sama pentingnya bagi masa depan murid.
Melalui Prodasif, sekolah ini mencoba menunjukkan bahwa letak geografis di pinggiran kota bukan penghalang untuk menghadirkan pendidikan berkualitas. Dari Lidah Kulon, SMAN 13 Surabaya terus menempa murid agar tumbuh menjadi generasi yang humanis, efektif, berprestasi, antusias, dan tangguh—generasi HEBAT.






