NasionalPeristiwa

Konser di Stadion Batoro Katong Tuai Kritik, Rumput hingga Pengelolaan Aset Jadi Sorotan

2376
×

Konser di Stadion Batoro Katong Tuai Kritik, Rumput hingga Pengelolaan Aset Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

PONOROGO, ANALISA PUBLIK – Penggunaan Stadion Batoro Katong, Ponorogo, sebagai lokasi konser Josjis Fest 2026, Minggu (30/8/2026), menuai sorotan. Kritik tidak hanya menyangkut kondisi rumput lapangan, tetapi juga transparansi pemanfaatan stadion sebagai aset daerah.

Konser yang menghadirkan Denny Caknan, Aftershine, dan Vierratale itu dihadiri ribuan penonton. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap rumput jenis Zoysia japonica yang sebelumnya diremajakan menggunakan APBD sekitar Rp678 juta.

Sehari setelah konser, Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Ponorogo Lisdyarita bersama jajaran terkait mengecek kondisi stadion, Senin (31/8/2026).

Lisdyarita menyatakan tidak ditemukan kerusakan berarti pada rumput maupun fasilitas stadion. Meski demikian, Pemkab Ponorogo tetap menjadwalkan perawatan lapangan sekitar satu pekan. Penyelenggara juga disebut siap bertanggung jawab apabila ditemukan kerusakan akibat kegiatan tersebut.

Penilaian berbeda disampaikan Asisten Pelatih Persepon, Dodi Amril Setiawan. Ia menilai kondisi rumput terdampak setelah diinjak ribuan penonton dan membutuhkan pemulihan sebelum kembali digunakan untuk aktivitas sepak bola. Sisa material konser juga dinilai harus segera dibersihkan agar tidak membahayakan pemain.

Selain kondisi lapangan, skema pemanfaatan stadion turut menjadi sorotan.

Sebelumnya beredar informasi nilai sewa stadion sekitar Rp15 juta. Namun, Wakil Ketua Komisi D DPRD Ponorogo, Ribut Riyanto, menyebut terdapat sewa dasar sekitar Rp3,5 juta ditambah 10 persen dari hasil penjualan tiket.

Skema tersebut membuat transparansi jumlah tiket yang terjual dan kontribusi yang masuk ke daerah menjadi penting. Pemkab Ponorogo menyatakan kegiatan tersebut juga memberikan manfaat melalui pajak hiburan, parkir, kebersihan, serta perputaran ekonomi UMKM.

Namun, manfaat ekonomi tersebut perlu dihitung secara terbuka dan dibandingkan dengan biaya perawatan maupun risiko kerusakan fasilitas.

Sebagai aset publik yang pembangunan dan perawatannya menggunakan anggaran daerah, pemanfaatan Stadion Batoro Katong untuk kegiatan nonolahraga perlu disertai standar perlindungan rumput, manajemen risiko, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Pemkab Ponorogo juga perlu membuka informasi mengenai kondisi stadion sebelum dan sesudah kegiatan, pendapatan yang diterima daerah, biaya perawatan pascakonser, serta tanggung jawab penyelenggara apabila terjadi kerusakan.

Evaluasi semakin penting mengingat Stadion Batoro Katong berpotensi kembali digunakan untuk konser maupun kegiatan berskala besar.

Kritik masyarakat bukan semata penolakan terhadap hiburan, melainkan bagian dari kontrol publik terhadap pengelolaan aset daerah. Kegiatan ekonomi dapat berjalan, tetapi fungsi utama stadion sebagai fasilitas olahraga serta keberlanjutan aset yang dibangun dengan uang publik tetap harus dijaga.

Reporter: Hadi S
Editor: Wetly H. Ali

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.