Ekbis

Kemnaker dan GNIK Bahas Keterampilan Masa Depan, Menaker Yassierli Dorong Produktivitas SDM Hadapi Era AI

3761
×

Kemnaker dan GNIK Bahas Keterampilan Masa Depan, Menaker Yassierli Dorong Produktivitas SDM Hadapi Era AI

Sebarkan artikel ini

Kemnaker bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) membahas pengembangan keterampilan masa depan menghadapi era kecerdasan buatan (AI). Menaker Yassierli menekankan peningkatan produktivitas, kolaborasi pelatihan, dan penguatan sistem informasi pasar kerja terpadu untuk menyesuaikan kompetensi SDM dengan kebutuhan industri.

JAKARTA, analisapublik.id –  Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) memperkuat kolaborasi pengembangan keterampilan masa depan (future skills) guna meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, serta ekonomi hijau.

Pembahasan berlangsung dalam kegiatan Brainstorming GNIK Academy bertema “Solusi Kolaboratif Membangun The Future Skills untuk Indonesia” di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan, pembangunan ketenagakerjaan tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan hubungan industrial, tetapi juga harus menjawab kebutuhan peningkatan kompetensi dan produktivitas pekerja.

“Pembangunan ketenagakerjaan harus mampu menjawab tantangan riil di lapangan melalui perluasan ruang lingkup kerja sama, yang tidak sekadar menyelesaikan masalah hubungan industrial, melainkan berfokus pada peningkatan produktivitas,” ujar Yassierli.

Menurutnya, perkembangan AI dan teknologi informasi mengubah kebutuhan keterampilan di berbagai sektor. Karena itu, pelatihan tenaga kerja harus terus disesuaikan dengan perkembangan industri.

Selain kualifikasi akademis, kemampuan praktis, penguasaan teknologi, dan kompetensi yang relevan menjadi pertimbangan penting dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha.

Menaker Dorong Kolaborasi Pengembangan Keterampilan AI

Yassierli menilai peningkatan kompetensi membutuhkan kerja sama pemerintah, perusahaan, praktisi sumber daya manusia, serta lembaga pendidikan dan pelatihan.

Perusahaan dapat mengembangkan keterampilan pekerja melalui pembelajaran bersama dan pertukaran pengetahuan tanpa harus membangun platform pelatihan secara terpisah dengan biaya besar.

“Isu keterampilan masa depan merupakan tantangan bersama lintas sektor. Alih-alih setiap perusahaan merintis platform mandiri berbiaya besar, mari satukan potensi dan pengetahuan yang ada ke dalam wadah pembelajaran kolektif,” katanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas akses pelatihan sekaligus mempertemukan kebutuhan industri dengan keterampilan yang dimiliki tenaga kerja.

Kemnaker Siapkan Sistem Informasi Pasar Kerja Terpadu

Selain penguatan kompetensi, Kemnaker tengah merampungkan pembangunan sistem informasi pasar kerja terpadu untuk memetakan ketersediaan tenaga kerja dan kebutuhan industri.

Pengembangan sistem mencakup pembaruan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI), penyusunan daftar okupasi kritis, serta integrasi portal SIAPKerja dengan basis data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sistem tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pelatihan yang lebih tepat sasaran, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Namun, efektivitasnya tetap memerlukan pembaruan data secara berkelanjutan, keterlibatan dunia usaha, serta kesesuaian program pelatihan dengan perkembangan lapangan kerja.

Produktivitas SDM Jadi Ukuran Keberhasilan

Pengembangan keterampilan masa depan juga perlu dievaluasi berdasarkan relevansi kompetensi, penerapannya dalam pekerjaan, dan kontribusinya terhadap peningkatan produktivitas.

Yassierli menyatakan pemerintah siap mendukung kolaborasi pengembangan SDM melalui penyediaan infrastruktur dan regulasi pendukung.

“Pemerintah siap memfasilitasi infrastruktur serta regulasi pendukung agar kompetensi generasi muda dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.

Kolaborasi Kemnaker dan GNIK diharapkan tidak berhenti pada perumusan kebijakan, tetapi menghasilkan program pembelajaran yang sesuai kebutuhan industri.

Di tengah percepatan perkembangan AI, kesiapan tenaga kerja Indonesia akan semakin bergantung pada kemampuan beradaptasi, memperbarui keterampilan, dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Sumber: Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Editor: Agus Imam S.

 

JAKARTA, analisapublik.id  -Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) bersama Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) memperkuat kolaborasi pengembangan keterampilan masa depan (future skills) guna meningkatkan produktivitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, serta ekonomi hijau.

Pembahasan berlangsung dalam kegiatan Brainstorming GNIK Academy bertema “Solusi Kolaboratif Membangun The Future Skills untuk Indonesia” di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan, pembangunan ketenagakerjaan tidak boleh hanya berorientasi pada penyelesaian persoalan hubungan industrial, tetapi juga harus menjawab kebutuhan peningkatan kompetensi dan produktivitas pekerja.

“Pembangunan ketenagakerjaan harus mampu menjawab tantangan riil di lapangan melalui perluasan ruang lingkup kerja sama, yang tidak sekadar menyelesaikan masalah hubungan industrial, melainkan berfokus pada peningkatan produktivitas,” ujar Yassierli.

Menurutnya, perkembangan AI dan teknologi informasi mengubah kebutuhan keterampilan di berbagai sektor. Karena itu, pelatihan tenaga kerja harus terus disesuaikan dengan perkembangan industri.

Selain kualifikasi akademis, kemampuan praktis, penguasaan teknologi, dan kompetensi yang relevan menjadi pertimbangan penting dalam memenuhi kebutuhan dunia usaha.

Menaker Dorong Kolaborasi Pengembangan Keterampilan AI

Yassierli menilai peningkatan kompetensi membutuhkan kerja sama pemerintah, perusahaan, praktisi sumber daya manusia, serta lembaga pendidikan dan pelatihan.

Perusahaan dapat mengembangkan keterampilan pekerja melalui pembelajaran bersama dan pertukaran pengetahuan tanpa harus membangun platform pelatihan secara terpisah dengan biaya besar.

“Isu keterampilan masa depan merupakan tantangan bersama lintas sektor. Alih-alih setiap perusahaan merintis platform mandiri berbiaya besar, mari satukan potensi dan pengetahuan yang ada ke dalam wadah pembelajaran kolektif,” katanya.

Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas akses pelatihan sekaligus mempertemukan kebutuhan industri dengan keterampilan yang dimiliki tenaga kerja.

Kemnaker Siapkan Sistem Informasi Pasar Kerja Terpadu

Selain penguatan kompetensi, Kemnaker tengah merampungkan pembangunan sistem informasi pasar kerja terpadu untuk memetakan ketersediaan tenaga kerja dan kebutuhan industri.

Pengembangan sistem mencakup pembaruan Klasifikasi Baku Jabatan Indonesia (KBJI), penyusunan daftar okupasi kritis, serta integrasi portal SIAPKerja dengan basis data Badan Pusat Statistik (BPS).

Sistem tersebut diharapkan menjadi dasar penyusunan kebijakan pelatihan yang lebih tepat sasaran, sekaligus membantu mengurangi kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan perusahaan.

Namun, efektivitasnya tetap memerlukan pembaruan data secara berkelanjutan, keterlibatan dunia usaha, serta kesesuaian program pelatihan dengan perkembangan lapangan kerja.

Produktivitas SDM Jadi Ukuran Keberhasilan

Pengembangan keterampilan masa depan juga perlu dievaluasi berdasarkan relevansi kompetensi, penerapannya dalam pekerjaan, dan kontribusinya terhadap peningkatan produktivitas.

Yassierli menyatakan pemerintah siap mendukung kolaborasi pengembangan SDM melalui penyediaan infrastruktur dan regulasi pendukung.

“Pemerintah siap memfasilitasi infrastruktur serta regulasi pendukung agar kompetensi generasi muda dapat berkembang secara optimal,” ujarnya.

Kolaborasi Kemnaker dan GNIK diharapkan tidak berhenti pada perumusan kebijakan, tetapi menghasilkan program pembelajaran yang sesuai kebutuhan industri.

Di tengah percepatan perkembangan AI, kesiapan tenaga kerja Indonesia akan semakin bergantung pada kemampuan beradaptasi, memperbarui keterampilan, dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

Sumber: Biro Humas Kementerian Ketenagakerjaan RI.

Editor: Agus Imam S.

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.