BANYUWANGI, Analisapublik.id – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di kawasan Taman Wisata Alam Kawah Ijen belum padam sejak Kamis (3/9/2026). Hingga Senin (7/9/2026), luas lahan terdampak dilaporkan mencapai sekitar 20 hektare.
BPBD Jawa Timur mengerahkan personel darat sekaligus helikopter water bombing untuk mempercepat pemadaman. Langkah tersebut dilakukan setelah adanya permintaan dari BKSDA serta penerbitan status tanggap darurat oleh Bupati Banyuwangi.
Kalaksa BPBD Jatim Gatot Soebroto mengatakan, helikopter yang sebelumnya digunakan untuk water bombing di kawasan Gunung Semeru telah dialihkan ke Ijen.
“Helikopter yang sebelumnya melakukan aksi water bombing di kawasan Gunung Semeru, mulai hari ini kita geser ke Ijen untuk membantu percepatan,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin (7/9/2026).
Helikopter PK-DAP berkapasitas 1.000 liter hanya mampu melakukan dua kali water bombing dengan total 2.000 liter air. Operasi udara terkendala angin kencang dan kabut tebal di kawasan Ijen.
BPBD Jatim juga mengirim personel untuk bergabung dengan tim darat melakukan penyisiran. Sejumlah peralatan dibawa, antara lain 10 alat gepyok, 12 fire ball, tiga jet shooter, serta alat pelindung diri.
Pemadaman darat difokuskan pada titik api di sebelah barat Kawah Ijen. Penanganan dilakukan secara manual pada lokasi yang masih memungkinkan dijangkau.
Dua kawasan masih menjadi sasaran utama tim gabungan, yakni Gunung Merapi Ungup-ungup di Tamansari, Kecamatan Licin, Banyuwangi, serta Dusun Curahmacan, Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Bondowoso.
Selain water bombing, tim gabungan melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebanyak 800 kilogram NaCl ditebar menggunakan pesawat CASA NC212/A-2104 di wilayah Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Untuk mengurangi risiko terhadap wisatawan, Taman Wisata Alam Kawah Ijen di wilayah Banyuwangi dan Bondowoso telah ditutup sementara sejak 4 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. (*)
Reporter: Imam.
Editor: Luqman Hakim.






