Pendidikan

Belajar Sambil Bertani, SMAN 1 Dampit Jadi Model Sekolah Berbasis Ketahanan Pangan

17
×

Belajar Sambil Bertani, SMAN 1 Dampit Jadi Model Sekolah Berbasis Ketahanan Pangan

Sebarkan artikel ini
Gubernur Khofifah didampingi Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai dan Kepala Sekolah SMAN 1 Dampit Yudi Krisdianto

Malang, analisapublik.id |Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengapresiasi inovasi ketahanan pangan yang dikembangkan SMAN 1 Dampit, Kabupaten Malang. Melalui program Sekolah Inovatif Ketahanan Pangan atau SIKAP, sekolah tersebut berhasil mengubah lahan yang sebelumnya kurang produktif menjadi kawasan pertanian edukatif.

Program itu dinilai tidak hanya mampu mendukung ketersediaan pangan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa. Melalui berbagai kegiatan pertanian, peserta didik diajak mengenal proses penanaman, perawatan, pengolahan hasil, hingga pemasaran produk.

Khofifah menyampaikan apresiasi tersebut saat meninjau langsung kawasan pertanian SMAN 1 Dampit bersama Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Aries Agung Paewai dan Kepala SMAN 1 Dampit Yudi Krisdianto.

Dalam kunjungannya, Khofifah melihat berbagai tanaman pangan dan hortikultura yang dikembangkan di lingkungan sekolah. Ia juga berdialog dengan guru dan siswa yang terlibat dalam pengelolaan kebun.

Menurut Khofifah, inovasi yang dijalankan SMAN 1 Dampit layak dijadikan contoh bagi sekolah lain. Program ketahanan pangan berbasis sekolah dinilai dapat memperkuat keterampilan siswa sekaligus membentuk karakter peduli lingkungan.

“Sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang untuk menumbuhkan kreativitas, kemandirian, kerja sama, dan kepedulian terhadap alam,” kata Khofifah.

Kelola Lahan Sekitar Empat Hektare

SMAN 1 Dampit memiliki kawasan pertanian dengan luas sekitar empat hektare. Lahan tersebut ditanami berbagai jenis sayuran, buah-buahan, tanaman pangan, dan tanaman produktif lainnya.

Beberapa komoditas yang dibudidayakan antara lain kangkung, cabai, tomat, terong, kacang panjang, kentang, bayam Brasil, blonceng, pisang, alpukat, durian, sukun, serta talas bentul.

Secara keseluruhan, sekolah mengembangkan sekitar 300 jenis tanaman. Selain perkebunan, sekolah juga memiliki kolam ikan lele yang menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran ketahanan pangan.

Kawasan tersebut sebelumnya merupakan lahan yang belum dimanfaatkan secara optimal. Bahkan, sebagian area pernah digunakan sebagai tempat pembuangan sampah.

Sejak 2024, pihak sekolah mulai melakukan penataan secara bertahap. Guru dan siswa bersama-sama membersihkan lahan, menyiapkan media tanam, menanam bibit, serta merawat berbagai komoditas pertanian.

Upaya tersebut akhirnya berhasil mengubah kawasan yang sebelumnya kurang tertata menjadi kebun produktif. Lahan itu kini menjadi laboratorium terbuka bagi siswa untuk mempelajari pertanian, lingkungan, dan kewirausahaan.

Siswa Terlibat Langsung

Pelaksanaan program SIKAP melibatkan siswa dalam berbagai tahapan. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga mempelajari cara mengolah tanah, membuat pupuk, membersihkan gulma, merawat tanaman, hingga melakukan panen.

Keterlibatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang tidak hanya bersifat teoritis. Siswa memperoleh kesempatan untuk memahami proses panjang di balik produksi pangan.

Ketua Tim Adiwiyata SMAN 1 Dampit, Kustiawati, mengatakan bahwa program pertanian sekolah dikelola secara kolaboratif. Guru dan siswa bekerja bersama sesuai dengan tugas masing-masing.

Kegiatan itu juga menjadi pengalaman baru bagi sebagian guru yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang pertanian. Mereka belajar bersama siswa untuk mengembangkan lahan agar lebih produktif.

Melalui kegiatan tersebut, siswa dilatih untuk bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka rawat. Mereka juga belajar mengenai pentingnya kedisiplinan, ketekunan, gotong royong, dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Manfaatkan Pupuk Organik

Salah satu konsep yang diterapkan dalam program ketahanan pangan SMAN 1 Dampit adalah pemanfaatan pupuk organik.

Pupuk tersebut dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan daun kering, sisa tanaman, dan bahan organik lain yang tersedia di lingkungan sekolah.

Pengolahan sampah organik menjadi pupuk memberikan manfaat ganda. Selain mengurangi limbah, pupuk tersebut dapat digunakan kembali untuk menjaga kesuburan tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman.

Praktik tersebut menjadi bagian dari pengenalan ekonomi sirkular kepada siswa. Limbah yang sebelumnya tidak memiliki nilai dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat.

Siswa juga diperkenalkan pada prinsip pertanian yang lebih ramah lingkungan. Mereka diajak memahami bahwa kegiatan produksi pangan harus memperhatikan keberlanjutan tanah, air, dan ekosistem di sekitarnya.

Sebagian hasil panen dimanfaatkan untuk kebutuhan pembelajaran. Hasil lainnya dipasarkan kepada guru, wali murid, dan masyarakat sekitar.

Komoditas seperti sayuran, buah-buahan, serai, kacang-kacangan, blonceng, serta pupuk organik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

Dari proses tersebut, siswa tidak hanya belajar menanam, tetapi juga mengenal pengemasan, pemasaran, dan pengelolaan hasil produksi.

Dorong Replikasi di Sekolah Lain

Khofifah berharap inovasi ketahanan pangan yang dikembangkan SMAN 1 Dampit dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di Jawa Timur.

Menurutnya, keterbatasan lahan tidak seharusnya menjadi penghalang. Sekolah tetap dapat mengembangkan program serupa dengan menyesuaikan kondisi dan potensi masing-masing wilayah.

Sekolah yang tidak memiliki lahan luas dapat menggunakan sistem hidroponik, vertikultur, tanaman dalam pot, kebun mini, atau kolam ikan sederhana.

Program ketahanan pangan bahkan dapat diperkenalkan sejak jenjang pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah.

Dengan demikian, siswa dapat membangun kesadaran terhadap pentingnya pangan dan lingkungan sejak dini.

Khofifah menilai pendidikan ketahanan pangan perlu dikembangkan karena berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Siswa perlu memahami bahwa pangan tidak tersedia secara instan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan tenaga, waktu, dan pengetahuan.

Pemahaman tersebut diharapkan dapat menumbuhkan sikap menghargai makanan serta mengurangi kebiasaan membuang-buang pangan.

Sejalan dengan Program Pemerintah

Pengembangan kebun sekolah juga sejalan dengan upaya pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Sekolah memiliki posisi strategis karena menjadi tempat pembentukan pola pikir dan karakter generasi muda. Melalui pendidikan, siswa dapat didorong untuk memahami tantangan pangan dan lingkungan.

Program SIKAP merupakan pengembangan dari gagasan School Food Care yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Pendidikan.

Sejumlah SMA dan SMK di Jawa Timur telah mulai memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai kawasan produksi pangan dan sarana pembelajaran.

SMAN 1 Dampit menjadi salah satu sekolah yang dinilai berhasil mengembangkan program tersebut secara konsisten.

Sekolah itu juga pernah meraih juara ketiga dalam kategori program ketahanan pangan pada ajang SMA Award. Prestasi tersebut menunjukkan komitmen sekolah dalam mengembangkan pendidikan berbasis lingkungan.

Kepala SMAN 1 Dampit Yudi Krisdianto menyampaikan terima kasih atas perhatian dan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya, apresiasi tersebut menjadi motivasi bagi warga sekolah untuk terus menjaga keberlanjutan program.

Sekolah juga berkomitmen memperluas manfaat kebun agar tidak hanya dirasakan oleh siswa dan guru, tetapi juga masyarakat di sekitar sekolah.

Khofifah Ikut Panen Sayuran

Saat meninjau kawasan pertanian, Khofifah berkesempatan memanen sejumlah komoditas bersama guru dan siswa.

Beberapa tanaman yang dipanen antara lain kangkung, kacang panjang, bayam Brasil, dan blonceng.

Khofifah juga melihat pengelolaan kolam lele. Ia memberikan masukan agar kapasitas kolam dapat diperbesar sehingga mampu menampung lebih banyak ikan dengan ukuran yang beragam.

Kehadiran gubernur disambut antusias oleh warga sekolah. Para siswa menunjukkan berbagai hasil pertanian yang selama ini mereka kelola.

Interaksi tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk menjelaskan proses budidaya yang telah dipelajari dan diterapkan.

Salurkan Bantuan untuk Warga Sekolah

Selain meninjau program ketahanan pangan, Khofifah juga menyerahkan sejumlah bantuan kepada warga SMAN 1 Dampit.

Bantuan tersebut berupa sepatu sekolah untuk 10 siswa penerima program afirmasi. Selain itu, sebanyak 13 tenaga kebersihan dan petugas keamanan menerima paket sembako.

Perlengkapan ibadah berupa sarung, mukena, dan sajadah turut diberikan kepada pengurus Masjid Fatahillah yang berada di lingkungan sekolah.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga memberikan bantuan senilai Rp50 juta untuk mendukung penyelesaian pembangunan masjid tersebut.

Masjid itu diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat kegiatan keagamaan dan pembentukan karakter siswa.

Khofifah menilai pendidikan akademik harus berjalan beriringan dengan pendidikan karakter dan spiritual.

Melalui kombinasi pembelajaran akademik, praktik lingkungan, kewirausahaan, dan penguatan nilai keagamaan, sekolah diharapkan mampu melahirkan generasi yang cerdas, mandiri, dan berakhlak.

Transformasi lahan yang dilakukan SMAN 1 Dampit menunjukkan bahwa inovasi pendidikan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Lahan yang sebelumnya terbengkalai kini berubah menjadi kebun produktif, ruang belajar, dan pusat pengembangan keterampilan siswa.

Program tersebut juga membuktikan bahwa sekolah dapat mengambil peran nyata dalam memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.