TULUNGAGUNG, ANALISAPUBLIK.ID – Pemerintah Desa Mulyasari, Kecamatan Pagerwojo, meriahkan Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dibuat berbeda, dengan mengusung Tema,“Moeljosari Tempo Doeloe – Bernostalgia Bareng”,
Warga diajak kembali ke suasana desa era 80–90-an melalui expo kampung, senam perjuangan, joget jadul, kesenian hingga drama kolosal.
Kepala Desa Mulyosari Agil Wuisan mengatakan, rangkaian kegiatan tidak muncul secara mendadak, persiapan sudah dilakukan warga sejak sekitar dua pekan sebelum acara.
Masing-masing lingkungan bergotong royong menyiapkan stand ekspo dengan bahan bambu dan kayu, sekaligus menyiapkan makanan serta produk lokal yang akan dijual.
“Yang utama kita ingin masyarakat Mulyosari mengutamakan gotong royong, dalam persiapan stand ekspo, setiap lingkungan minimal gotong royong selama dua minggu,” terang Agil Wuisan.
Rangkaian kegiatan kemudian mulai terlihat pada Jumat (11/09/2026).
Sebanyak 30 RT membuka ekspo bernuansa tempo dulu, Stand sengaja dibuat tanpa banner dan menghindari tampilan modern agar suasana kampung era 80–90-an semakin terasa,” Jelasnya.
“Tujuan utamanya untuk memperkenalkan budaya nenek moyang, terutama kepada generasi muda. Di setiap stand bisa dilihat alat-alat tradisional dan rumah-rumah yang dibuat dari bambu,” terangnya.
Expo itu bukan hanya menjadi ruang pamer. Setiap stand juga digunakan untuk berjualan makanan dan produk lokal.
Dengan demikian, kegiatan HUT RI sekaligus menjadi ruang promosi dan pemasaran bagi UMKM warga.
“Selain memperkenalkan potensi yang ada di setiap lingkungan, kita juga ingin meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat. Setiap stand pasti berjualan makanan dan sebagainya. Kita ingin kegiatan ini memberikan pendapatan untuk UMKM,” ungkapnya.
Setelah ekspo berjalan, rangkaian perayaan berlanjut pada Sabtu (12/9/2026) dengan kegiatan yang melibatkan kelompok masyarakat, salah satunya senam massal PKK yang dikemas sebagai Senam Perjuangan.
Para peserta mengenakan pakaian merah, jarik batik, serta membawa stik bambu dari rumah masing-masing.
“Olahraga itu sangat penting bagi warga. Yang utama adalah menumbuhkan rasa kerukunan, terutama ibu-ibu.
Puncak kemeriahan berlangsung pada malam hari, sebanyak 256 peserta tampil dengan pakaian bernuansa era 70–90-an.
Ribuan warga ikut memadati lokasi hingga suasana lapangan berubah menjadi pesta kampung tempo dulu.
Kades Mulyosari Agil Wuisan berbaur dengan warga di salah satu stan Moeljosari Tempo Doeloe-Bernostalgia Bareng yang menonjolkan suasana klasik dekade 80-90-an.
Dia menyebut konsep tahun ini terasa berbeda karena bukan hanya pakaian peserta yang dibuat jadul, tetapi seluruh suasana kegiatan.
“Acara joget jadul tahun ini sangat asyik. Baru kali ini Desa Mulyosari melaksanakan kegiatan HUT RI dengan tema Moeljosari Tempo Doeloe, bernostalgia bareng.
Keduanya berharap kegiatan semacam ini terus berlanjut dan dikembangkan lebih kreatif setiap tahunnya.
Kemudian, penampilan tari kreasi dari para siswa PAUD serta TK berlanjut nuansa perjuangan juga ditampilkan melalui drama kolosal oleh para guru se-Desa Mulyosari membawakan drama kolosal perjuangan.
Kegiatan tersebut melibatkan hampir seluruh unsur masyarakat, mulai PAUD Harapan, TK Dharma Wanita 1, SD se-Desa Mulyosari, PKK, pemuda, kesenian hingga organisasi masyarakat.
“Kita berusaha melibatkan semua unsur masyarakat Desa Mulyosari, baik lembaga pendidikan, kesenian, kepemudaan maupun ormas.
Ini membuktikan Mulyosari bisa rukun dan berjalan bersama-sama, Konsep tempo dulu itu sengaja dipilih agar PHBN tidak sekadar menjadi kegiatan seremonial,”tegasnya.
Warga justru diajak merasakan kembali kehidupan desa yang dulu lekat dengan tradisi, kesederhanaan dan gotong royong.
“Kalau biasanya dalam rangka PHBN ada pentas seni dan sebagainya, khusus tahun ini kita mengangkat tema Moeljosari Tempo Doeloe. Kita ingin bernostalgia dengan keadaan desa tahun 80–90-an yang masih tradisional,” ujarnya.
Masyarakat dari luar desa hingga luar Kecamatan Pagerwojo juga ikut meramaikan.
Tingginya partisipasi itu membuat Pemerintah Desa membuka kemungkinan konsep serupa dilanjutkan sebagai agenda tahunan dengan tema berbeda.
“Melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, tahun depan mungkin tetap konsep jadul tetapi dengan tema yang berbeda. Ini bisa menjadi agenda tahunan.
Bagi Mulyosari, rangkaian HUT RI kali ini akhirnya bukan sekadar mengenang masa lalu.
“Harapan kami, marwah masyarakat desa tetap dijaga dengan mengutamakan gotong royong dan guyub rukun,” ucapnya.
Agil Wuisan, juga menyampaikan terima kasih kepada Panitia,seluruh elemen masyarakat Desa Mulyosari yang ikut menyukseskan kegiatan Moeljosari Tempo Doeloe,” Pungkasnya.












