CATATAN ABAH TINDIK

BROMO DITUTUP, ALAM KEMBALI MENAGIH UTANG

3462
×

BROMO DITUTUP, ALAM KEMBALI MENAGIH UTANG

Sebarkan artikel ini

CATATAN ABAHTINDIK

Oleh : H. Muhajir Wahyu Ramadhan

BROMO DITUTUP, ALAM KEMBALI MENAGIH UTANG

Penutupan kawasan wisata Gunung Bromo akibat kebakaran savana bukan sekadar persoalan terganggunya aktivitas pariwisata. Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa alam memiliki batas kemampuan untuk menanggung beban.

Kebakaran berdampak langsung terhadap wisatawan, pelaku usaha transportasi, penginapan, warung, biro perjalanan, serta masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari sektor pariwisata. Namun, kerugian ekonomi tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran dalam melihat persoalan ini.

Bromo merupakan kawasan konservasi yang menyimpan keanekaragaman hayati, sumber air, habitat satwa, serta bentang alam penting bagi Jawa Timur. Ketika terbakar, yang rusak bukan hanya rumput dan tanaman, melainkan juga kualitas tanah serta keseimbangan ekosistem.

Penyebab kebakaran harus diperiksa secara objektif dan menyeluruh. Apabila ditemukan unsur kelalaian atau pelanggaran, penegakan hukum wajib dilakukan secara transparan, proporsional, dan tidak tebang pilih.

Pengawasan juga harus diperkuat, terutama terhadap penggunaan api, puntung rokok, pengelolaan sampah, jalur wisata, serta kepatuhan pengunjung. Papan larangan tidak akan cukup tanpa pengawasan dan penindakan yang konsisten.

Wisatawan harus memahami bahwa kawasan konservasi bukan ruang bebas untuk melakukan apa saja. Pelaku usaha juga wajib ikut menjaga kelestarian kawasan karena keberlangsungan ekonomi mereka bergantung pada alam yang tetap terawat.

Penutupan Bromo memang menimbulkan kerugian jangka pendek. Namun, membuka kawasan terlalu cepat tanpa memastikan keselamatan dan pemulihan ekosistem justru dapat memperbesar risiko.

Bromo ditutup bukan sekadar karena api. Bromo sedang mengingatkan bahwa pariwisata tanpa tanggung jawab hanya akan meninggalkan kerusakan.

Bromo ditutup bukan sekadar karena api. Bromo sedang mengingatkan bahwa pariwisata tanpa tanggung jawab hanya akan meninggalkan kerusakan.

Kini saatnya semua pihak tidak hanya menghitung jumlah wisatawan dan keuntungan, tetapi juga menghitung kerusakan ekosistem serta langkah nyata untuk memulihkannya.

Sebab, ketika alam menagih utang, manusia tidak dapat membayarnya hanya dengan konferensi pers dan janji perbaikan.

#abahtindik

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.