EDITORIALHeadline

Uang Sitaan Korupsi untuk MBG Dinilai Kembalikan Hak Rakyat

793
×

Uang Sitaan Korupsi untuk MBG Dinilai Kembalikan Hak Rakyat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA – analisapublik.id | Anggota DPD RI asal Jawa Timur, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, mendukung langkah Presiden Prabowo Subianto yang berencana memanfaatkan dana sitaan kasus korupsi untuk membantu pembiayaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pengembangan Koperasi Desa Merah Putih.

Menurut LaNyalla, kebijakan tersebut memenuhi prinsip keadilan substantif karena dana hasil kejahatan korupsi dikembalikan kepada masyarakat melalui program yang berdampak langsung bagi rakyat.

“Saya mendukung. Selain untuk mengurangi beban APBN, pada hakikatnya ini adalah mengembalikan uang rakyat kepada pemilik sahnya, yaitu rakyat itu sendiri melalui program yang secara langsung juga diterima oleh rakyat,” ujar LaNyalla, Kamis (7/5/2026).

LaNyalla menjelaskan, program MBG kini berkembang menjadi salah satu intervensi publik terbesar yang pernah dijalankan pemerintah. Berdasarkan kajian Kadin Indonesia, perputaran uang dari jaringan dapur MBG mencapai sekitar Rp900 miliar per hari.

Ia menilai besarnya sirkulasi dana tersebut menciptakan efek berantai terhadap perekonomian nasional, terutama di sektor pangan dan produksi masyarakat.

“Uang Rp900 miliar berputar setiap hari melalui jaringan dapur MBG. Ini menjadi salah satu mekanisme sirkulasi uang berbasis komunitas terbesar yang pernah dibangun negara ini,” katanya.

LaNyalla menambahkan, belanja pemerintah melalui program MBG tidak berhenti pada konsumsi akhir. Dana tersebut mengalir ke sektor produksi, memunculkan permintaan baru, hingga mendorong aktivitas ekonomi di sepanjang rantai pasok pangan.

Berdasarkan kajian Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, injeksi anggaran sebesar Rp43,28 triliun dari program tersebut mampu menghasilkan dampak output ekonomi hingga Rp294,08 triliun atau memiliki efek pengganda sekitar 1:7.

Meski demikian, LaNyalla mengingatkan pemerintah agar memperkuat ketahanan rantai pasok bahan baku program MBG dan tidak bergantung pada impor, terutama untuk kebutuhan susu sapi.

Ia menilai peternak dan pekebun skala kecil harus diperkuat agar mampu menjadi bagian utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan program tersebut.

“Pasokan susu sapi kita untuk kebutuhan MBG masih jauh dari cukup. Ini harus dipikirkan. Begitu pula bahan baku lainnya. Peternak skala kecil harus dibesarkan,” tegasnya.

LaNyalla juga berharap Koperasi Desa Merah Putih dapat difungsikan sebagai off-taker bagi hasil produksi peternak dan pekebun kecil di desa. Dengan demikian, rantai pasok pangan dapat dibangun langsung dari desa menuju dapur MBG.

Menurutnya, konsep tersebut akan membuat manfaat ekonomi program benar-benar dirasakan masyarakat desa, sekaligus memperkuat ekonomi kerakyatan.

“Jangan sekadar menjelma menjadi minimarket baru yang menjual produk industri besar. Rantai pasok desa harus dibangun agar anak-anak di desa makan dari hasil panen orang tua mereka sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Kiki Juanda

Editor: H Muhajir Wahyu Ramadhan

Sumber: Analisapublik.id

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.