HeadlinePemerintahan

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Wali Kota Sebut Tradisi Petik Laut adalah Penggerak Ekonomi Kota Probolinggo

498
×

Ribuan Warga Tumpah Ruah, Wali Kota Sebut Tradisi Petik Laut adalah Penggerak Ekonomi Kota Probolinggo

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik – Laut Mayangan kembali menjadi saksi ritual sakral sekaligus pesta rakyat terbesar masyarakat pesisir Kota Probolinggo. Sejak pagi, Sabtu (11/10/2025), ribuan warga memadati kawasan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Mayangan untuk merayakan Petik Laut, tradisi budaya dua tahunan yang dinantikan.

Deretan perahu nelayan dihias megah dengan umbul-umbul warna-warni, menciptakan panorama yang kontras dengan biru laut. Suasana sakral dari lantunan doa bercampur dengan riuh musik dan tawa pengunjung, menegaskan bahwa Petik Laut adalah perayaan syukur, penghormatan, sekaligus wujud persaudaraan yang kuat antar-nelayan.

Wali Kota Probolinggo Aminuddin, didampingi Wakil Wali Kota Ina Dwi Lestari, beserta jajaran Forkopimda (Dandim 0820 Letkol Arhanu Iwan Harmaya, Kapolresta AKBP Rico Yumri, dan Pj Sekda Rey Suwigtyo), hadir dan mengapresiasi tingginya animo masyarakat.

“Petik Laut adalah wujud rasa syukur kepada Allah SWT atas rezeki yang diberikan, terutama bagi para nelayan dan warga Mayangan. Tradisi ini bukan hanya simbol adat, tapi juga lambang gotong royong dan kekuatan sosial masyarakat pesisir,” ujar Wali Kota Amin.

Tradisi yang Hidup dan Berdampak Ekonomi
Wali Kota Aminuddin mencatat antusiasme masyarakat tahun ini meningkat signifikan. “Saya melihat animo warga luar biasa. Bahkan, katanya tahun ini lebih ramai dari sebelumnya. Ini bukti bahwa budaya Mayangan tetap hidup dan dicintai warganya,” tuturnya, yang disambut tepuk tangan riuh.

Aminuddin menekankan, Petik Laut memiliki nilai strategis ganda: sebagai warisan budaya dan sebagai penggerak ekonomi lokal.

“Selain menjaga tradisi, acara seperti ini juga menggerakkan ekonomi masyarakat—dari pedagang kecil hingga pelaku wisata. Semoga Petik Laut bisa terus berlanjut dan menjadi agenda budaya tahunan Kota Probolinggo,” pungkasnya, menandakan ambisi pemerintah daerah untuk menjadikan event ini sebagai magnet pariwisata.

Larung Sesaji: Puncak Ungkapan Syukur di Tengah Laut
Lurah Mayangan Wisnu Setiawan menjelaskan, rangkaian Petik Laut tahun ini dirancang selama tiga hari, menunjukkan keseriusan dalam mengelola event budaya. Dimulai dengan Khotmil Qur’an dan Majengan Bersholawat, dilanjutkan Pawai Budaya dan Larung Sesaji pada Sabtu (11/10), dan akan ditutup dengan Tasyakuran serta hiburan musik orkes Melayu pada Minggu (12/10).

Larung Sesaji menjadi puncak yang paling ditunggu. Wali Kota bersama rombongan pejabat dan perwakilan nelayan menaiki perahu hias menuju tengah laut. Di sana, mereka melarung sesaji berisi hasil bumi, bunga, dan perlengkapan dapur. Ritual ini adalah simbol rasa syukur dan doa keselamatan agar hasil tangkapan di musim mendatang melimpah.

Bagi warga seperti Siti Rahma (42), momen ini adalah pengalaman yang tak pernah membosankan. “Saya datang sejak pagi bersama keluarga. Ramai, meriah, dan terasa sekali kebersamaan warga pesisir. Semoga rezeki para nelayan makin lancar,” ujarnya penuh harap.

Petik Laut Mayangan, lebih dari sekadar upacara adat, adalah cermin hubungan harmonis antara manusia dan laut. Dalam riuh pesta rakyat ini, tersemat pesan penting: bahwa kedaulatan budaya pesisir tidak hanya dipertahankan, tetapi juga dijadikan energi positif yang mendorong roda ekonomi lokal.

(Res)

 

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.