Surabaya, analisapublik.id — Kecintaan terhadap sebuah benda tak jarang menjadi pemantik lahirnya kemandirian ekonomi. Hal inilah yang dibuktikan oleh Wijayanti Khusna, seorang pengusaha asal Desa Sumbergedang, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Berawal dari sekadar kegemaran pribadi, ia sukses menyulap tumpukan kain dan kapas menjadi lini bisnis boneka yang telah bertahan selama satu dekade.
Khusna mengawali langkahnya sepuluh tahun silam. Inspirasi bisnisnya sederhana namun personal: kecintaan mendalam dirinya dan sang ibu terhadap boneka. Namun, di tangan Khusna, hobi tersebut bertransformasi menjadi unit usaha yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga kompetitif secara kualitas.
“Sejak dulu saya memang suka boneka, apalagi ibu saya. Dari situ muncul keberanian untuk membuat boneka sendiri dengan niat untuk dijual,” ujar Khusna melalui keterangan tertulis Pemerintah Kabupaten Pasuruan, Selasa (27/1/2026).
Sepuluh tahun berkecimpung di industri kreatif bukan berarti tanpa hambatan. Khusna mengakui bahwa bisnisnya sempat berada di titik nadir saat pandemi Covid-19 menghantam dunia beberapa tahun lalu. Kendala logistik menjadi tembok besar yang menghambat pergerakan produknya.
“Saat pandemi, usaha langsung turun karena tidak bisa mengirim boneka ke mana-mana,” tuturnya mengenang masa sulit akibat terbatasnya distribusi.
Meski sempat terpuruk, konsistensi membawanya bangkit. Kini, dapur produksinya telah melahirkan lebih dari 30 jenis boneka dengan beragam dimensi. Mulai dari gantungan kunci mungil hingga boneka berukuran raksasa (giant) setinggi 1,5 meter.
Di antara puluhan varian yang ada, model beruang (bear) tetap menjadi primadona di mata konsumen. Kendati demikian, Khusna tetap adaptif dengan terus memproduksi model-model baru yang disesuaikan dengan tren pasar terkini.
Soal harga, Khusna mematok angka yang cukup inklusif, mulai dari Rp10.000 hingga Rp350.000 per unit. Strategi harga ini terbukti efektif memperluas jangkauan pasarnya, yang kini telah merambah berbagai wilayah di Jawa Timur, mulai dari Pasuruan hingga ujung timur di Banyuwangi.
Bagi Khusna, boneka bukan sekadar mainan untuk koleksi jangka panjang. Ia memandang bisnis ini sebagai peluang menjanjikan yang membutuhkan sentuhan kreativitas dan ketelatenan ekstra. Di Desa Sumbergedang, Khusna telah membuktikan bahwa hobi yang ditekuni secara serius mampu menjadi motor penggerak peningkatan taraf hidup.
(Res)






