Analisapublik.id — Gerakan rakyat yang menamakan diri “Pejuang Gayatri” siap menggelar aksi damai pada 11 September 2025.
Aksi yang berawal dari tenda sederhana di pinggir Alun-alun Tulungagung ini lahir dari kegelisahan warga atas berbagai persoalan yang dinilai mengabaikan keadilan.
Salah satu Koordinator lapangan, Donny Docken, menegaskan bahwa aksi ini murni gerakan rakyat tanpa campur tangan politik.
“Ini semua berasal dari antusiasme warga, bukan tunggangan kelompok tertentu,” ujarnya, Selasa(9/9).
Isu utama yang diangkat yakni polemik pembangunan makam modern di Desa Ngepoh, Kecamatan Tanggunggunung, yang dianggap merampas hak tanah masyarakat.
Selain itu, mereka juga menyoroti persoalan nasional seperti reforma agraria, transparansi kinerja pemerintah, hingga perbaikan birokrasi.
Untuk menjaga aksi tetap damai, panitia menerapkan aturan khusus: peserta dilarang memakai masker, topi wajib dibalik, serta tanda pengenal hanya dibagikan saat hari-H. Hal ini dilakukan guna mengantisipasi penyusupan atau provokasi pihak luar.
Aksi akan dimulai dari GOR Lembupeteng, menuju kantor ATR/BPN, dan berakhir di DPRD Tulungagung sebagai titik penyampaian aspirasi.
“Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya rakyat yang tidak ingin terus dibungkam,” pungkas Donny. (Endi S)





