SURABAYA, Analisapublik.id | Pasokan DRAM global masih berada dalam kondisi ketat pada 2026 seiring meningkatnya kebutuhan memori untuk server kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan pusat data.
TrendForce dalam laporan 4 Agustus 2026 menyatakan pasokan DRAM diperkirakan tetap ketat hingga 2027. Kondisi tersebut berkaitan dengan tingginya kebutuhan memori pada infrastruktur AI serta keterbatasan kapasitas produksi yang dapat dialokasikan untuk berbagai segmen.
Dalam laporan 30 Juli 2026, TrendForce memperkirakan rasio kecukupan DRAM global pada 2026 berada sekitar minus 1 hingga minus 2 persen. Kesenjangan pasokan dan permintaan diperkirakan melebar pada 2027 karena pertumbuhan permintaan masih lebih cepat dibandingkan penambahan pasokan.
TrendForce pada 3 Juli 2026 juga mencatat produsen memori terus memprioritaskan kapasitas untuk aplikasi AI dan server. Kondisi itu mengurangi pasokan DRAM yang tersedia bagi komputer pribadi atau PC. Harga kontrak DRAM konvensional pada kuartal III 2026 diproyeksikan naik 13–18 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Pertumbuhan infrastruktur AI masih berlangsung kuat. TrendForce pada 3 Agustus menaikkan proyeksi pertumbuhan pengiriman server AI global 2026 dari 28 persen menjadi hampir 31 persen secara tahunan.
Dampak ketatnya pasokan memori telah terlihat pada pasar PC. IDC mencatat pengiriman PC global pada kuartal II 2026 turun 4,9 persen menjadi 68,2 juta unit. IDC menyebut kekurangan chip memori sebagai faktor utama yang membalik tren setelah sembilan kuartal berturut-turut mengalami pertumbuhan.
Dengan data tersebut, tekanan pasar RAM pada 2026 lebih tepat dikaitkan dengan ketatnya pasokan DRAM, meningkatnya kebutuhan server AI, serta perubahan alokasi kapasitas produksi. Tidak terdapat dasar dari sumber industri tersebut untuk menyebut satu model laptop tertentu sebagai penyebab krisis memori global.
Reporter : Muchamad Rizqy
Editor : Respati






