BOJONEGORO, Analisapublik.id – Luas tanam tembakau di Kabupaten Bojonegoro melonjak hingga 15.672,68 hektare sampai Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dibandingkan realisasi sepanjang 2025 yang tercatat 12.041 hektare. Kenaikan luas tanam juga dibarengi harga jual tembakau yang relatif tinggi di tingkat petani.
Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda sekaligus Subkoordinator Tanaman Perkebunan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bojonegoro, Bambang Wahyudi, mengatakan peningkatan luas tanam salah satunya dipengaruhi kondisi iklim pada musim tanam tahun ini.
“Untuk tahun 2026 sampai hari ini luas tanam tembakau mencapai 15.672,68 hektare. Ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 12.041 hektare,” kata Bambang dalam keterangan tertulis Pemkab Bojonegoro, Jumat (4/9/2026).
Menurut dia, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan petani dalam memilih komoditas. Karena itu, luas tanam tembakau dapat berubah setiap tahun mengikuti kondisi iklim dan pertimbangan petani.
Selain luas lahan yang bertambah, harga tembakau rajangan turut memberikan angin segar. Harga di tingkat petani saat ini berkisar Rp40.000 hingga Rp45.000 per kilogram, bergantung pada kualitas.
Petani tembakau asal Desa Sitiaji, Kecamatan Sukosewu, Sukro, mengatakan harga daun tembakau basah berada pada kisaran Rp2.000 hingga Rp4.000 per kilogram. Sedangkan tembakau rajangan kering mampu mencapai Rp45.000 hingga Rp48.000 per kilogram.
“Alhamdulillah, kami merasa senang dengan harga tembakau saat ini yang mencapai Rp45.000. Semoga ke depan pupuk semakin mudah didapat dengan harga yang lebih terjangkau,” ujarnya.
Sukro berharap harga tembakau tetap bertahan hingga panen raya agar pendapatan petani sebanding dengan biaya produksi serta tenaga yang dikeluarkan selama proses budidaya. (*)
Reporter: Ibank.
Editor: Luqman Hakim






