KPKNL Malang meraih Juara I KOIN MAS DJKN 2025/2026 melalui wisata anggur MAS-EE. Optimalisasi aset negara menghasilkan PNBP Rp344 juta.
Jakarta, Analisapublik.id— Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Malang bersama Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Jawa Timur berhasil meraih Juara I Kompetisi Inovasi Manajer Aset (KOIN MAS) DJKN 2025/2026 dalam Grand Final yang digelar di Jakarta, Rabu (4/11/2026).
Prestasi nasional tersebut diraih melalui inovasi Wisata Petik Anggur Bareng MAS-EE (Malang Anggur Social Education & Enterprise), yang mengoptimalkan sebagian aset bekas Kampus Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Malang menjadi kawasan agrowisata produktif, pusat edukasi pertanian, sekaligus ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Kepala Kantor Wilayah DJKN Jawa Timur, Arik Hariyono, turut hadir menyaksikan langsung pelaksanaan Grand Final KOIN MAS DJKN 2025/2026 di Jakarta, termasuk keberhasilan tim KPKNL Malang meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi inovasi pengelolaan aset negara tersebut.
Kehadiran Arik Hariyono menjadi bagian dari keterlibatan Kanwil DJKN Jawa Timur dalam mendukung pengembangan inovasi optimalisasi Barang Milik Negara (BMN) yang dilaksanakan KPKNL Malang.
KPKNL Malang berhasil melewati persaingan 44 proyek inovasi dari berbagai unit kerja DJKN. Setelah melalui tahapan seleksi dan penilaian lapangan, KPKNL Malang dan KPKNL Pekanbaru tampil sebagai dua finalis utama. Sementara itu, KPKNL Ternate memperoleh penghargaan Tim KOIN MAS Terinovatif.
Grand Final menghadirkan tiga dewan juri, yakni Direktur Jenderal Kekayaan Negara Evita Manthovani, Tenaga Pengkaji Restrukturisasi Privatisasi dan Efektivitas Kekayaan Negara Dipisahkan Encep Sudarwan, serta Associate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Avanti Fontana, Ph.D.
Aset Rp333,7 Miliar Hasilkan PNBP Rp344,04 Juta
Inovasi MAS-EE memanfaatkan sebagian lahan bekas Kampus Polbangtan Malang di Jalan Ir. Rais, Kota Malang.
Dari keseluruhan aset seluas 51.023 meter persegi dengan nilai tercatat Rp333,7 miliar, pengembangan dilakukan secara bertahap pada lahan seluas 11.882 meter persegi.
Melalui mekanisme sewa Barang Milik Negara (BMN), pemanfaatan tersebut menghasilkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp344.040.750.
Kawasan agrowisata tersebut telah memiliki 30 greenhouse, sebanyak 22 unit di antaranya memasuki tahap produksi, dengan pengembangan 55 varietas anggur.
Berdasarkan paparan tim, kegiatan budidaya mencatat rata-rata pendapatan kotor sekitar Rp238 juta per bulan. Sementara itu, usaha kafe menghasilkan pendapatan kotor hingga Rp40 juta per bulan.
Pendapatan usaha tersebut merupakan aktivitas ekonomi pengelola dan berbeda dari PNBP yang diterima negara melalui mekanisme sewa aset.
Serap Tenaga Kerja dan Berdayakan Puluhan UMKM
Manfaat optimalisasi aset negara tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara, tetapi juga mencakup terbukanya lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Pengembangan wisata anggur tersebut menyerap sembilan pekerja tetap serta sekitar 25–30 pekerja harian.
Melalui Pasar Lambau Lawas, kawasan ini turut memfasilitasi sekitar 50 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dengan target pengembangan mencapai 100 pelaku usaha.
Selain menawarkan wisata petik anggur, kawasan tersebut dikembangkan sebagai pusat edukasi pertanian, pelatihan budidaya, serta pengolahan produk berbasis anggur.
Kurniawan Catur Adrianto Pimpin Tim Juara Nasional
Keberhasilan KPKNL Malang meraih Juara I KOIN MAS DJKN 2025/2026 merupakan hasil kerja tim yang dipimpin Kurniawan Catur Adrianto, bersama empat anggota, yakni Agus Budi Utomo, Taufan Aji, Tonny Ardhianto, dan Wahyu Purnomo.
Pelaksanaan inovasi tersebut melibatkan kolaborasi Kanwil DJKN Jawa Timur, KPKNL Malang, Polbangtan, pelaku usaha, serta masyarakat.
Ke depan, kawasan wisata anggur direncanakan berkembang hingga sekitar 4,5 hektare, dengan proyeksi potensi PNBP mencapai Rp1,5 miliar.
Keberhasilan KPKNL Malang dalam kompetisi nasional ini memperlihatkan potensi pengelolaan aset negara secara produktif melalui pendekatan inovasi, kemitraan usaha, dan pemberdayaan masyarakat.
Meski demikian, keberlanjutan program tetap membutuhkan pengawasan, evaluasi capaian pemanfaatan, dan tata kelola yang transparan untuk memastikan nilai ekonomi aset negara dapat memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Editor: H. Muhajir Wahyu Ramadhan

