HeadlinePemerintahan

Gotong Royong dan Dukungan PMI Percepat Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabencana di Sumatra

184
×

Gotong Royong dan Dukungan PMI Percepat Pemulihan Layanan Kesehatan Pascabencana di Sumatra

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik.id – Kecepatan dan gotong royong kini menjadi pertaruhan besar dalam memulihkan sektor kesehatan di Sumatra pasca-hantaman bencana hidrometeorologi. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan, meski sebagian besar fasilitas kesehatan mulai pulih, masih ada ratusan ribu jiwa yang terjebak di titik-titik pengungsian dengan akses yang nyaris terputus.

Instruksi ini datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Dalam keterangannya, Sabtu (3/1/2026), Menkes menegaskan bahwa kepala negara meminta seluruh bantuan kemanusiaan dilakukan secara kilat melalui kolaborasi lintas sektoral.

“Presiden Prabowo menekankan bahwa kita harus membantu dengan cepat, lalu bergotong royong karena ini adalah masalah bersama. Indonesia kuat karena modal sosialnya,” ujar Budi Gunadi melalui keterangan resmi yang dikutip dari InfoPublik.

Bencana banjir dan tanah longsor yang menyapu tiga provinsi di Sumatra memberikan luka dalam bagi infrastruktur kesehatan. Data Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 87 rumah sakit (RS) terdampak. Dari jumlah tersebut, sembilan RS sempat lumpuh total sebelum akhirnya kembali beroperasi penuh berkat dukungan berbagai pihak.

Namun, tantangan sesungguhnya berada di tingkat pelayanan dasar. Sebanyak 867 puskesmas dilaporkan terdampak, dengan 180 di antaranya sempat terhenti operasinya. Hingga detik ini, masih ada empat puskesmas di Aceh yang belum bisa melayani warga.

“Empat puskesmas di Aceh masih dalam proses pemulihan akibat kerusakan berat dan kondisi lumpur yang masih tinggi,” ungkap Menkes.

Budi juga menggambarkan potret muram di lapangan, di mana sekitar 300 ribu jiwa masih bertahan di lebih dari 1.000 titik pengungsian. Yang paling mengkhawatirkan adalah keberadaan 76 desa terpencil yang aksesnya terputus total dari kendaraan konvensional.

“Ada daerah yang hanya bisa ditempuh dengan perahu, kendaraan khusus, bahkan motor trail dengan waktu tempuh sampai enam jam. Ini yang terus menjadi perhatian kami,” tambahnya.

Demi menjaga agar layanan kesehatan tidak “kolaps” di tengah keterbatasan akses, Kemenkes telah mengerahkan dan melakukan rotasi terhadap 3.200 relawan kesehatan. Kekuatan ini terdiri dari 500 tenaga organik Kemenkes yang diperkuat oleh sektor swasta, organisasi profesi, hingga personel TNI.

“Setiap dua minggu kami lakukan rotasi relawan agar pelayanan kesehatan masyarakat, termasuk di wilayah terpencil dan pengungsian, tetap berjalan dengan baik,” tegas Budi.

Secara khusus, Menkes mengapresiasi gerak cepat Palang Merah Indonesia (PMI) yang berperan vital dalam distribusi bantuan ke wilayah sulit. Kolaborasi antara pemerintah, PMI, dan mitra swasta dianggap sebagai kunci utama percepatan pemulihan.

Menutup keterangannya, Menkes memberikan catatan teknis bagi pemulihan sisa fasilitas yang tertimbun. Ia meminta dukungan pengadaan alat berat berukuran kecil untuk menjangkau ruang-ruang puskesmas yang hingga kini masih terendam lumpur pekat.

“Kalau bisa ada alat berat kecil dan operatornya, kami harap dalam tiga minggu sampai satu bulan ke depan puskesmas tersebut bisa kembali beroperasi,” pungkasnya.

(res)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.