HeadlinePendidikan

Gen Z Tak Cuma Main Game, Dana Pemkot Disulap Jadi Bisnis dan Peluang Kerja

14
×

Gen Z Tak Cuma Main Game, Dana Pemkot Disulap Jadi Bisnis dan Peluang Kerja

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, ANALISAPUBLIK.ID — Bantuan modal melalui program Dana Gen Z Pemerintah Kota Surabaya mulai menunjukkan hasil konkret di tingkat lingkungan. Di Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, sekelompok anak muda mengubah bantuan tersebut menjadi modal usaha parfum dan deodoran.

Usaha yang dikembangkan dengan merek KDR Parfum dan KDR Deodoran itu digerakkan enam pemuda. Mereka membagi pekerjaan ke dalam sejumlah bidang, mulai produksi, pemasaran hingga pengelolaan keuangan.

Raihan Syah Rafi’, Ketua Karang Taruna RW 8 Kedungdoro, menjelaskan bahwa gagasan bisnis tersebut muncul ketika dirinya bersama sejumlah teman ingin memulai usaha, tetapi terbentur persoalan modal.

“Awalnya kami sudah punya ide untuk membuat usaha, tetapi bingung untuk modalnya. Kebetulan teman-teman Karang Taruna RW 8 punya ide untuk mengembangkan usaha, akhirnya kami mengajukan proposal,” kata Raihan, Rabu (7/10/2026).

Proposal yang diajukan kemudian memperoleh persetujuan dengan nilai bantuan sekitar Rp19,8 juta. Dana tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjang kebutuhan usaha, terutama pembelian bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional serta perangkat kasir.

Sebelum memproduksi deodoran, para pemuda tersebut terlebih dahulu melakukan kajian dengan membaca sejumlah jurnal ilmiah sebagai bahan referensi formulasi dan pertimbangan keamanan produk.

Baca Juga:  Kapolres Tanjung Perak dan Wali Kota Surabaya Bahas Keamanan Surabaya Utara

Pengembangan parfum juga dilakukan melalui serangkaian percobaan. Dari proses tersebut, mereka berhasil menghasilkan empat formulasi aroma yang dikembangkan secara mandiri.

Kegiatan produksi sementara memanfaatkan Balai RT Kedungdoro sebagai tempat usaha. Fasilitas tersebut diberikan secara gratis sehingga kelompok usaha dapat menekan biaya operasional.

“Untuk tempat produksi, kami belum memiliki tempat khusus. Tetapi kami memanfaatkan Balai RT Kedungdoro yang disediakan gratis menjadi tempat produksi dan penjualan. Kalau dana bantuan dari pemkot sendiri lebih banyak digunakan untuk membeli bahan baku, peralatan produksi, perlengkapan operasional, hingga perangkat kasir,” jelasnya.

Dalam sekitar dua bulan pemasaran, usaha tersebut mulai mencatat perputaran penjualan. Omzet yang dihimpun disebut telah mencapai kurang lebih Rp4 juta.

Menurut Raihan, keuntungan dari perputaran bahan baku sudah mulai terlihat. Namun, investasi untuk sejumlah peralatan belum seluruhnya kembali karena perangkat tersebut diproyeksikan untuk menunjang usaha dalam jangka panjang.

Pemasaran saat ini masih mengandalkan jaringan Karang Taruna dan lingkungan pertemanan. Deodoran dijual dengan kisaran harga Rp13 ribu hingga Rp15 ribu, sementara parfum dipasarkan mulai Rp55 ribu sesuai aroma dan ukurannya.

Baca Juga:  Pemkot Surabaya Tutup Panti Tak Berizin Usai Kasus Kekerasan Anak

“Saat ini, produk masih dipasarkan secara offline lewat jaringan Karang Taruna dan lingkungan pertemanan. Harga deodoran dibanderol mulai sekitar Rp13 ribu hingga Rp15 ribu, sedangkan parfum dijual dengan harga mulai Rp55 ribu, tergantung aroma dan ukuran. Kami juga sedang mempersiapkan strategi untuk masuk ke pasar online agar jangkauan konsumen lebih luas,” paparnya.

Selain mengejar omzet, kegiatan tersebut membawa dampak lain bagi lingkungan pemuda. Keterlibatan dalam usaha membuat semakin banyak anak muda tertarik bergabung dengan Karang Taruna sekaligus mengenal proses membangun bisnis.

Anggota Karang Taruna juga diberi kesempatan membantu pemasaran dengan mekanisme bagi hasil sebesar 10 persen dari setiap produk yang berhasil dijual.

Bagi Raihan, aktivitas produktif menjadi salah satu cara agar energi anak muda tidak berhenti pada aktivitas yang tidak menghasilkan sesuatu.

“Mumpung masih muda, daripada waktunya dibuat main game atau nongkrong, lebih baik melakukan sesuatu yang bermanfaat. Kalau mau bermain, ya main yang ada hasilnya. Kalau nongkrong, bisa membahas sesuatu yang berguna, seperti membangun bisnis dan mengajak teman untuk berbisnis bersama,” ujarnya.

Baca Juga:  85 Kursi Bergeser, Titipan Jangan Ikut Menempel

Ia berharap model pemberdayaan tersebut dapat mendorong lebih banyak pemuda Surabaya menciptakan kegiatan produktif di lingkungan masing-masing. Baginya, usaha bersama bukan hanya tentang pendapatan, tetapi juga kesempatan memperoleh pengalaman dan keterampilan.

Raihan turut mengapresiasi Pemkot Surabaya karena bantuan yang diterima dapat dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan manfaat langsung bagi para pemuda.

“Terima kasih Bapak Wali Kota Eri Cahyadi dan Pemkot Surabaya. Program ini bukan hanya mendorong anak muda untuk bergerak dan berdaya, tetapi juga memberi kesempatan untuk membangun usaha yang menghasilkan. Bisnis ini kami kelola secara profesional, sehingga teman-teman yang terlibat juga bisa mendapatkan keuntungan dan berkembang bersama,” pungkasnya.

 

Reporter: Bambang

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.