Jatim

Panen PerdanaTebu Program Bongkar Ratoon 2025, Bersama Plt. Bupati Tulungagung.

6721
×

Panen PerdanaTebu Program Bongkar Ratoon 2025, Bersama Plt. Bupati Tulungagung.

Sebarkan artikel ini

TULUNGAGUNG, Analisapublik.id – Pemerintah Kabupaten Tulungagung mendorong percepatan peremajaan tanaman tebu melalui Program Bongkar Ratoon sebagai strategi meningkatkan produktivitas rendemen gula sekaligus kesejahteraan para petani.

Sektor tebu di Kabupaten Tulungagung menunjukkan tren penguatan. Luas areal tanam tebu pada 2026 tercatat menembus lebih dari 4.000 hektare, meningkat dibandingkan sekitar 3.800 hektare pada 2025.

Momentum tersebut ditandai dengan panen perdana tebu program Bongkar Ratoon 2025 di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung, sekaligus bagian dari Peringatan Hari Tani Nasional 2026. pada Rabu (07/10/2026).

Hadir dalam Panen perdana, Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin, Jajaran Forkopimda, Kepala Dinas Pertanian, manajemen PG Mojopanggung (PT Sinergi Gula Nusantara), penyuluh pertanian, kelompok tani, dan undangan lainnya.

Lahan yang dipanen memiliki luas 4,55 hektare, dengan taksasi produksi mencapai 90 ton tebu per hektare.

Angka tersebut menjadi gambaran potensi pengembangan komoditas tebu di Tulungagung, terutama melalui peremajaan tanaman dan perluasan areal.

Bongkar Ratoon Jadi Strategi Dongkrak Produktivitas
Plt. Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin menegaskan, program bongkar ratoon tidak boleh dipandang sebatas kegiatan mengganti tanaman tebu lama.

Menurutnya, program tersebut merupakan bagian dari strategi meningkatkan produktivitas tebu secara berkelanjutan sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai industri gula.

Pada 2026, program bongkar ratoon mencakup sekitar 151 hektare, sementara perluasan areal tanam mencapai 207 hektare.

Ahmad Baharudin juga mengatakan, petani adalah pahlawan pangan. Program bongkar ratoon dirancang agar tanaman tebu dapat dipanen hingga 10 kali masa ratoon dengan hasil tetap maksimal, didukung bibit unggul terpilih secara nasional,” terangnya.

Ia menyebut sedikitnya ada empat hal yang harus terus diperkuat, yakni peningkatan kualitas dan produksi, penguatan kemitraan petani dengan pabrik gula, penerapan teknologi pertanian modern, serta pengembangan industri gula yang berkelanjutan.

PG Mojopanggung: Bukan Sekadar Pabrik, tetapi Penggerak Ekonomi
Keberadaan PG Mojopanggung juga menjadi bagian penting dalam ekosistem pergulaan di Tulungagung.

Pabrik gula yang telah beroperasi sejak 1852 tersebut diharapkan tidak hanya mempertahankan keberlangsungan industri gula, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang semakin luas bagi masyarakat.

General Manager PG Mojopanggung Agus Budi Juwono mengatakan, pada musim giling pihaknya menyerap sekitar 650 tenaga kerja langsung.

Jumlah tersebut belum termasuk ribuan tenaga penebang dan pengangkut tebu yang ikut mendapatkan penghasilan dari aktivitas musim giling.

“Dukungan Pemerintah dan petani sangat penting untuk menjaga keberlangsungan pabrik ini,” ungkapnya.

Musim giling PG Mojopanggung pada 2026 direncanakan berlangsung selama 148 hari, mulai 3 Juni hingga 25 Oktober 2026, dengan kapasitas giling mencapai 3.000 ton tebu per hari.

Petani: Pendampingan Jadi Kunci
Ketua Kelompok Tani Tani Unggul, Endang Suwarti, mengapresiasi pendampingan yang diberikan Dinas Pertanian, penyuluh pertanian, serta pihak PG Mojopanggung.

Menurutnya, keberhasilan panen perdana tidak berdiri sendiri. Ada kerja sama antara petani, pemerintah, penyuluh, dan pihak pabrik yang harus terus dijaga.

“Keberhasilan ini merupakan hasil kerja sama dan gotong royong berbagai pihak,” terangnya.

Bagi petani, program bongkar ratoon diharapkan bukan hanya menghasilkan tanaman tebu yang lebih produktif, tetapi juga memberikan kepastian usaha dan meningkatkan kesejahteraan keluarga petani.

Dengan luas areal tanam yang kini menembus lebih dari 4.000 hektare, Tulungagung memiliki modal besar untuk memperkuat sektor tebu.

Tantangannya adalah memastikan peningkatan luas lahan tersebut berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas, kualitas tebu, pendapatan petani, dan keberlanjutan industri gula.

Dengan semangat Jogo Tulungagung, sebagai tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan, menggerakkan perekonomian serta membangun daerah secara berkelanjutan,” Pungkasnya. (Endi S)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.