HeadlinePemerintahan

Wamendagri Puji Inovasi Pengendalian Banjir Surabaya, Sebut Sistem Pompa Darmo Kali Layak Direplikasi

231
×

Wamendagri Puji Inovasi Pengendalian Banjir Surabaya, Sebut Sistem Pompa Darmo Kali Layak Direplikasi

Sebarkan artikel ini

SURABAYA, analisapublik.id – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) RI, Bima Arya Sugiarto, memberikan apresiasi tinggi terhadap sistem pengendalian banjir di Kota Surabaya. Hal ini disampaikan Bima Arya saat meninjau langsung Rumah Pompa Darmo Kali didampingi Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, pada Kamis (22/1/2026).

Kunjungan ini bertujuan untuk membedah strategi Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya yang dinilai sukses menekan titik genangan, khususnya di kawasan pusat kota, meskipun di tengah ancaman cuaca ekstrem.

Terobosan di Tengah Cuaca Ekstrem

Bima Arya menegaskan bahwa tantangan perubahan iklim saat ini tidak cukup dihadapi hanya dengan kesiapsiagaan, melainkan membutuhkan inovasi teknis yang konkret. Ia menyoroti efektivitas sistem pompa air Surabaya yang mampu menjaga kawasan pusat kota tetap kering saat hujan deras melanda.

“Pemerintah daerah hari ini dituntut bukan hanya siaga, tetapi juga inovatif. Saya mendengar Surabaya memiliki sistem pompa air yang mampu mengurangi genangan secara signifikan. Di pusat kota, persoalan banjir hampir tidak ada lagi,” ujar Bima Arya di sela-sela tinjauannya.

Mantan Wali Kota Bogor tersebut juga mengaku telah meminta waktu khusus kepada Eri Cahyadi untuk mempelajari teknis sistem tersebut secara mendalam. Menurutnya, integrasi antara sistem pompa dengan mechanical screen (penyaring sampah otomatis) merupakan praktik baik yang patut dicontoh.

“Inovasi ini menarik untuk dikaji, apakah bisa direplikasi atau dimodifikasi sesuai karakter daerah lain. Kemendagri akan menelaah aspek teknologi dan skema penerapannya agar bisa diadopsi secara luas,” tambahnya.

Transformasi Titik Rawan Banjir

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menjelaskan bahwa ketertarikan Wamendagri didasari oleh perubahan signifikan pada sejumlah titik yang dulunya merupakan “langganan” banjir. Lokasi strategis seperti Jalan Ahmad Yani (depan RSI), Monumen Bambu Runcing, kawasan Jalan Kayoon, hingga area sekitar Gedung Grahadi kini tercatat bebas genangan.

“Beliau (Wamendagri) heran, hujan deras berkali-kali tapi pusat kota tidak ada genangan. Saya jelaskan bahwa ini adalah hasil dari sistem pompa dan drainase yang terintegrasi. Alhamdulillah, sejauh ini berjalan optimal,” kata Eri.

Eri juga memaparkan keberhasilan penanganan di kawasan Dukuh Kupang. Wilayah yang selama 50 tahun terakhir kerap terendam air hingga setinggi leher tersebut, kini telah terbebas dari banjir.

Meski menunjukkan progres positif, Eri mengakui masih ada pekerjaan rumah di beberapa titik, seperti kawasan Simo dan sekitar SMA Negeri 14 Surabaya. Penanganan di wilayah tersebut baru dimulai secara intensif pada tahun 2026 ini.

Eri menekankan bahwa pengendalian banjir di kawasan dengan kontur tanah tertentu, seperti Simo, memerlukan perhitungan yang sangat hati-hati.

“Penanganan di Simo harus presisi. Jika aliran dibuka tanpa kontrol, wilayah di bawahnya seperti Petemon dan Pacuan Kuda bisa terdampak. Kami mohon doanya agar proses ini berjalan lancar,” jelasnya.

Sebagai penutup, Eri menegaskan bahwa kunci utama penanganan banjir bagi kota dengan tantangan geografis seperti Surabaya adalah pembangunan sistem pompa dan long storage (penampungan air memanjang).

“Kalau tidak dibangun pompa dan long storage, masalah banjir tidak akan selesai. Ini yang kami dorong agar daerah lain terus berikhtiar mencari solusi yang berkelanjutan,” pungkasnya.

(Res)

Materi konten BERITA pada website ini dilindungi oleh hukum. Setiap penggunaan, pengambilan, penggandaan, pemindaian (crawling), pengindeksan, pemrosesan otomatis, atau pemanfaatan konten dalam bentuk apa pun—termasuk untuk kepentingan sistem kecerdasan buatan (Artificial Intelligence)—hanya dapat dilakukan dengan izin tertulis dari analisapublik.id.